KONSULTASI AGAMA 1

Nama : Fulanah

Usia : 40th

Alamat : Surakarta 

Pertanyaan yang dikonsultasikan : Assalamualikum ust, Boleh kah saya curhat ttg  tingkah laku anak saya dan sedikit curhat. Saya baru tau kalo anak gadis saya yg baru berusia 15 tahun kepergok ayahnya nonton video porno. tu anak baru bln 11 2022 di kasih kepercayaan tuk pegang hp sendiri, ayahnya bisa tau Krn akun yg dia pake adalah akun ayahnya. Dan itu kata suami bukan baru sekali, celakanya suami saya baru cerita hari Senin siang ustad. HR Selasa saya seharian nangis merasa gagal jadi org tua, padahal sejak 3 thn belakangan ini saya selalu ajak ke majlis taklim, majlis ilmu dan majlis zikir, saya juga sebisa mungkin bisa jadi bestienya supaya tidak ada rahasia di antara kami, saya dan anak gadis saya. Saya sangat terpukul ustad, selesai tahajjud td malam saya berpikir utk menyita hpnya dan udah saya lakukan, apa yg hrs saya lakukan ustad, mohon bimbingan dan pencerahannya

Jawaban konsultasi : waalaikumsalam wr wb. Semoga ibu sekeluarga diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah.

Dalam mendidik anak memanglah tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh kesabaran dan keikhlasan. Apalagi saat anak sudah menginjak remaja, yang mana keingin tahuannya makin besar terhadap hal-hal yang membuat dia penasaran. Pendidikan sex kepada anak harus disampaikan dengan baik dan jangan di tutup-tutupi, dalam hal ini orang tua harus bersikap super hati-hati. Jika anak kepergok melihat film porno sebaiknya sebagai orang tua tidak over reaction, tenang dan berfikir jernih harus di utamakan. Adapun langkah yang dapat diambil adalah.

  1. Jangan langsung memarahi anak, Mengetahui anak yang keranjingan konten pornografi memang mengecewakan. Tapi, redam kekecawaan Anda sebagai orang tua jangan sampai menjadi amarah. Jika orang tua marah ‘membabi buta’ dalam mengekspresikan kekecewaannya, maka hal itu sama saja menutup ‘pintu’ komunikasinya dengan anak. Menahan amarah bukan berarti bersikap lunak kepada anak. Berbicara dengan anak membutuhkan momen yang tepat.
  2. Mencari Waktu yang Tepat untuk Berbicara. Jangan pernah tanyakan masalah sensitif secara tiba-tiba apalagi dengan nada tinggi. Carilah waktu yang tepat untuk Anda berbicara dari hati ke hati dengan anak. Ciptakan suasana yang nyaman dan privat. Jauhkan diri dari gangguan suara yang bising atau kehadiran orang lain yang justru membuat anak merasa tidak nyaman untuk berdiskusi. Perhatikan juga psikologis anak apakah ia siap berbicara intens dengan topik bahasan yang sensitif.
  3. Menerima Kenyataan. Meskipun kelihatannya sulit, namun ini adalah kenyataan yang harus Anda terima dan hadapi. Tapi, saat ini bukan saatnya terus bersedih. Justru ini waktu yang tepat untuk lebih dekat dengan anak. Dengan penerimaan, Anda dapat menemukan cara terbaik untuk menangani kasus anak Anda. Jangan sampai orang tua terkesan menutupi bahkan membela perilaku anak. “Percayalah menerima kenyataan pahit ini adalah suatu langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Jangan memberikan nasihat di awal diskusi. Fokus pada masalah kecanduan terlebih dahulu,” tulis Lizzie dalam bukunya.
  4. Mencari Solusi Bersama. Perubahan positif akan lebih efektif jika timbul dari kesadaran diri anak sendiri. Sebaiknya Anda lebih dahulu menjelaskan apa dampak negatif dari adiksi pornografi hinggan anak benar-benar memahaminya. Setiap orang tua pada dasarnya mampu mendampingi anaknya untuk menghentikan perilaku kecanduan. Kuncinya adalah konsistensi dan komitmen. Hanya saja, apabila dirasa sulit, sebaiknya Anda juga berkonsultasi dengan psikolog.
  5. Menegaskan Kembali Peraturan. Setiap orang tua dan anak pasti memiliki koridor peraturan. Pengalaman ini menjadi momen untuk menegaskan bahwa muatan pornografi sebaiknya dibuang dan dihapus. Selain itu, Anda harus mengambil alih dan membatasi penggunaan perangkat video gamesdan akses internet yang menjadi sumber kecanduan anak. Anda berhak mengatur anak dengan tujuan untuk menjauhkannya dari dampak negatif pornografi.
  6. Menerapkan Hukuman. Apabila aturan main telah disepakati bersama, maka terapkan juga konsekuensi bagi mereka yang melanggar peraturan. Konsekuensi yang efektif adalah konsekuensi yang memberikan efek jera. Tapi jangan sampai menggunakan hukuman fisik, ya. Sebaiknya apabila anak melanggar, Anda dapat mengambilalih fasilitas yang dimiliki anak. Misalnya saja, jika anak ketahuan masih menonton pornografi di rumah teman atau warnet, Anda bisa memberikan konsekuensi berupa tidak mengizinkan mereka untuk pergi ke rumah teman atau warnet selama sebulan.
  7. Memberi Penghargaan atas Perubahan Positif pada Anak. Jika anak bersungguh-sungguh dalam menerapkan aturan main, maka Anda dapat memberikan sebuah penghargaan seperti pelukan atau kalimat-kalimat positif untuk mereka. Misalnya saja dengan mengatakan, “Papa bangga denganmu,” atau “Mama yakin kita bisa lebih baik lagi ke depannya.” Dalam memerangi adiksi pornografi pada anak, Anda harus secara berkala mengevaluasi setiap perubahan yang terjadi pada anak. Apabila dirasa positif, jangan ragu untuk memberikan mereka semangat dan perhatian, cinta, dan kasih sayang. Hal itu dilakukan agar anak semangat dan optimis untuk berubah ke arah yang lebih baik.
  8. Saling Berproses dan Mengontrol Diri. Perlu diingat bahwa kemungkinan anak untuk kembali terjerumus ke dalam adiksi pornografi bisa saja terjadi kembali. Jadilah teman terbaik anak, sehingga mereka bisa bercerita kepada Anda apabila keinginan tersebut muncul kembali. Ajarkan mereka langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari keinginan tersebut, misalnya saja dengan berolahraga.

Semoga jawaban ini membantu. Wassalam.

Konsuler :  Bayu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *