MENYAMBUT TAHUN AJARAN BARU DENGAN SEMANGAT MENUNTUT ILMU

Datangnya tahun ajaran baru selalu menghadirkan harapan baru. Bagi para pelajar, mahasiswa, guru, maupun orang tua, momen ini bukan sekadar dimulainya kembali aktivitas belajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbarui niat dan tekad dalam menuntut ilmu. Dalam pandangan Islam, belajar bukan hanya jalan menuju keberhasilan dunia, melainkan juga ibadah yang mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah Swt. Karena itu, semangat menuntut ilmu tidak boleh sekadar didorong oleh keinginan memperoleh nilai tinggi, gelar, atau pekerjaan yang baik, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah dan ikhtiar untuk memberikan manfaat bagi sesama. Manhaj Tarjih Muhammadiyah menempatkan ilmu sebagai fondasi kemajuan umat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai salah satu medan dakwah utama karena meyakini bahwa kebodohan adalah salah satu penyebab kemunduran umat, sedangkan ilmu yang berpijak pada wahyu dan akal yang sehat akan melahirkan peradaban yang berkemajuan.

Al-Qur’an memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada orang-orang yang berilmu. Allah Swt. berfirman, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan, bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di sisi Allah. Bahkan, wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw. dimulai dengan perintah membaca, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Hal ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam dibangun di atas semangat literasi, penelitian, dan pembelajaran. Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Hadis ini memberikan motivasi bahwa setiap langkah menuju sekolah, kampus, perpustakaan, majelis ilmu, atau tempat belajar lainnya bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Oleh sebab itu, memasuki tahun ajaran baru hendaknya dimulai dengan memperbaiki niat, memperkuat disiplin, menghormati guru, serta membiasakan diri mencintai ilmu sebagai bekal menjalani kehidupan.

Keteladanan Rasulullah saw. dan para sahabat menjadi bukti bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu mampu mengubah kehidupan seseorang. Abdullah bin Abbas ra., misalnya, masih berusia sangat muda ketika Rasulullah mendoakannya, “Ya Allah, berilah dia pemahaman tentang agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari). Doa itu menjadi kenyataan karena Ibnu Abbas tumbuh sebagai salah seorang ulama terbesar di kalangan sahabat. Ia tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Ia rela berjalan jauh, menunggu di depan rumah para sahabat senior di bawah terik matahari demi memperoleh satu hadis. Demikian pula Zaid bin Tsabit ra., yang sejak usia muda dipercaya Rasulullah saw. menjadi penulis wahyu. Karena kecerdasan dan kesungguhannya belajar, ia menguasai beberapa bahasa dalam waktu singkat sehingga mampu membantu Rasulullah dalam urusan surat-menyurat dengan berbagai kabilah. Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari kecerdasan semata, tetapi dari niat yang lurus, kerja keras, kesabaran, dan ketekunan dalam belajar. Sebagaimana nasihat Imam Asy-Syafi’i, “Ilmu tidak akan diberikan kepadamu meskipun hanya sebagian, hingga engkau memberikan seluruh kesungguhanmu untuk mencarinya.” Pesan ini tetap relevan bagi generasi masa kini yang sering dihadapkan pada berbagai distraksi, mulai dari media sosial hingga hiburan digital yang dapat mengurangi fokus belajar.

Memasuki tahun ajaran baru, setiap pelajar muslim hendaknya membangun kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menjadi bekal sepanjang perjalanan menuntut ilmu. Awali setiap aktivitas dengan niat yang ikhlas karena Allah, menjaga salat tepat waktu, membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, menghormati guru, menyayangi teman, disiplin dalam mengatur waktu, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan. Islam juga mengajarkan agar ilmu tidak berhenti pada hafalan atau nilai rapor, tetapi diwujudkan dalam akhlak yang mulia dan manfaat bagi masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani). Dengan demikian, keberhasilan belajar bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari sejauh mana ilmu membentuk karakter yang jujur, amanah, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Semoga tahun ajaran baru ini menjadi awal perjalanan yang penuh keberkahan, melahirkan generasi muslim yang mencintai ilmu, berakhlak Qurani, berpikir maju, serta mampu mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan peradaban. Sebab, ilmu yang dipelajari dengan niat yang benar dan diamalkan dengan penuh keikhlasan akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan di dunia sekaligus bekal yang mengantarkan kepada kebahagiaan di akhirat.