Di zaman sekarang ini kebanyakan orang-orang bekerja keras membanting tulang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan di dunia,mereka rela bekerja dari pagi sampai malam dan terkadang sampai lupa dengan kesehatan mereka serta keluarga di rumah. Banyak manusia yang hanya mementingkan kepentingan duniawi saja dan lupa untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti, mereka tidak memikirkan bahwa kita sebenarnya hidup di dunia hanyalah sementara, dimana apa yang telah kita miliki sekarang ini dapat diambil secara tiba-tiba oleh Allah SWT.
Hidup dengan kekayaan yang berlimpah memang menjadi dambaan atau harapan banyak orang di dunia.Mereka ingin memiliki segalanya ,dengan sikap ketamakannya terkadang para manusia juga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan,terkadang pula tidak ingin tersaingi oleh orang lain atas kekayaan yang dimiliki ,banyak dari orang-orang yang berlomba-lomba membeli rumah dan kendaraan yang mewah, membeli perhiasaan, serta barang-barang branded lainnya. Namun mereka lupa bahwa kekayaan dunia ini tidak akan dibawa hingga akhirat dan hanyalah titipan sementara dari Allah SWT. Dan apa yang telah kita dapat di dunia ini tentunya nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, mengenai bagaimana kita mendapatkan dan memanfaatkan semua kekayaan yang dimiliki, apakah dengan cara yang baik ataupun buruk , serta bagaiamana kita memanfaatkan kekayaan tersebut untuk disedekahkan atau digunakan untuk hal-hal yang kurang baik.
Pada hadist berikut ini mengungkapkan bahwa orang yang paling kaya adalah orang yang selalu merasa cukup(qanaah) terhadap apapun yang telah ia dapatkan atas pemberian Allah SWT.
”Ridhalah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (HR Turmudzi).
Dalam pandangan Islam suatu kekayaan tak hanya diukur dengan banyaknya materi ataupun harta yang dimiliki oleh seseorang, melainkan diukur dari keikhlasan dalam menerima setiap pemberian dari Allah SWT.
Kesuksesan dan kekayaan duniawi memang bukan segalanya dan harus kita lampaui . Namun urusan dunia tetap wajib umat Islam kejar, bukan untuk sebuah tujuan akhir, tetapi untuk dijadikan suatu alat yang memudahkan kita meraih kejayaan atau kesuksesan di akhirat kelak, maka ketika mengejar urusan duniawi harus sesuai dengan ajaran Islam agar mendapatkan keberkahan di dunia maupun di akhirat.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah orang yang ada di bawah kalian. Dan janganlah kau melihat kepada orang yang di atas kalian. Hal itu lebih pantas untuk tidak meremehkan nikmat dari Allah kepada kalian.” (HR Muslim)
Berdasarkan kutipan hadist tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa agar kita dapat selalu bersyukur atas apa yang telah kita raih dan dapatkan, janganlah kita melihat pencapaian orang yang lebih tinggi dari kita melainkan kita harus melihat orang yang berada di bawah kita,supaya kita tidak merasa iri atas pencpaian seseorang dan agar kita tetap bersykur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Memiliki kekayaan saja tidaklah dapat membawa bahagia selamanya, walaupun akan menghasilkan kenyamanan,namun kekayaan itu hanyalah sementara dan pastinya nanti di akhirat akan ada balasan atau perhitungan mengeanai apa yang kita peroleh di dunia ini. Ketika kekayaan diperoleh dengan mencuri, atau dengan cara lain yang tidak jujur dan tidak sesuai dengan yang Allah SWT ajarkan, maka rasa takut akan terungkap dan hukuman merampas dari pemiliknya .
Tidaklah salah apabila manusia seperti kita ini memiliki keinginan untuk menjadi seseoramg yang kaya, namun kedudukan harta dan kekayaan tentunya tidak boleh lebih tinggi dari kedudukan iman kita dan ibadah kita terhadap Allah SWT. Mencari kekayaan bahkan telah diisyaratkan dalam islam, oleh sebab itu kita harus berusaha mencari rezeki di dunia sebagaiamana telah dijelaskan serta diterangkan dalam Islam.
Ayat al-Quran telah berulang kali mengungkapkan mengenai hak mutlak Allah terhadap harta kekayaan yang telah diberikan di bumi ini .Manusia hanya sebagai seorang wakil yang dipercayakan untuk mengelola serta menggunakan harta kekayaan tersebut dengan cara-cara yang diperbolehkandalam Islam. Hanya Allah lah sebagai pemilik segala bumi beserta isinya, Jadi kepemilikan manusia hanyalah bersifat relative dan sementara, sebatas hanya untuk memanfaatkan dan sesuai dengan ketentuan.
Dalam Islam mewajibkan setiap Muslim untuk memperoleh harta dengan berkelanjutan serta untuk menginfakan atau mensedekahkan harta yang telah dimiliki tersebut. Maksud dari hal tersebut yaitu dalam ajaran Islam mengharuskan dan menganjurkan para umatnya untuk bekerja keras dan berusaha untuk dapat memperoleh keuntungan yang halal bagi dirinya sendiri dan juga bagi keluarganya. Tidak hanya dalam hal itu saja,dalam Islam juga mengharuskan umatnya untuk berupaya lebih keras dalam bekerja serta bersyukur lebih keras untuk mencapai kesempurnaan dan kelayakan profesi atau pekerjaan bagi dirinya.
Penulis : Atika Rohmawati




