MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TARTIL

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. QS. Al-Muzzammil [73]:4

 

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membaca Al-Qur’an secara seksama (tartil). Maksudnya ialah membaca Al-Qur’an dengan pelan-pelan, bacaan yang fasih, dan merasakan arti dan maksud dari ayat-ayat yang dibaca itu, sehingga berkesan di hati. Perintah ini dilaksanakan oleh Nabi saw. ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw membaca Al-Qur’an dengan tartil, sehingga surah yang dibacanya menjadi lebih lama dari ia membaca biasa.

Al Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang terkhir disampaikan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara jibril. Satu dari sekian banyak kemukjizatan Al Qur’an adalah balasan pahala bagi yang membacanya terlebih mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah memberi contoh dalam membaca Alquran dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Oleh karena itu, sebagai umatnya, penting bagi seorang muslim dalam membaca Alquran secara tartil.

Membaca Alquran memiliki banyak keutamaan, beberapa diantaranya adalah mendapat pahala, dapat menjadi syafaat di hari akhir nanti, dan memberikan ketenangan. Membaca Alquran dengan tartil tentunya memiliki keutamaan yang lebih baik lagi.

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan mengutip keterangan para ulama yang menjelaskan, tartil dianjurkan untuk tujuan menghayati makna Al-Quran maupun selainnya. Para ulama juga menjelaskan, tartil juga dianjurkan bagi orang non Arab yang tidak mengerti makna Al-Quran. Hal ini disebabkan membaca Al-Quran secara tartil lebih mendekatkan pada mengagungkan serta memuliakan Al-Quran, dan lebih mengena pada hati.

Maka tak tepat bila menyimpulkan bahwa untuk apa membaca tartil, kalau tidak memahami makna Al-Quran? Tartil tidak semata-mata memberi kesempatan pembacanya untuk memahami kandungan setiap ayat yang ia baca. Tartil juga mendorong hati untuk senantiasa memuliakan Al-Quran. Sehingga keyakinan akan keagungan Al-Quran dapat tertancap dalam hati meski tanpa melalui perantaraan memahami makna Al-Quran. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *