Belajar Dari Umar Bin Khatab Dengan Ibu Yang Anaknya Kelaparan

Belajar Dari Umar Bin Khatab Dengan Ibu Yang Anaknya Kelaparan

Umar  bin Khatab adalah kholifah setelah abu bakar. Umar bin Khatab memiliki gelar Al Faruq dari Rasulullah. Al Faruq memiliki arti seseorang yang mampu memisahkan dan membedakan antara perbuatan yang haq dan perbuatan batil.

Pada suatu malam dengan cuaca yang dingin Umar dan pembantunya Aslam berjalan keluar untuk mengamati kondisi rakyaknya. Mereka berjalan sangat jauh ke pinggir kota sehingga masuk ke padang pasir. Umar bin Khatab dan Aslam melihat api yang menyala di depan sebuah tenda. Umar bin Khatab bergegas menuju tenda tersebut dan mendapati seorang ibu yang tengah memasak dengan menggunakan tungku yang terpanggang di atas api dengan ditemani oleh anak -anaknya yang sedang menangis serta berteriak-teriak.

Umar Bin Khatab : “Assalamua’alaikum”. 

Ibu : “Wa’alaikumsalam”,

Umar Bin Khatab : “Apa yang sedang terjadi wahai Ibu?”.

Ibu : “Kami sedang tersiksa di tengah malam seraya kedinginan”.

Umar Bin Khatab : “Kenapa anak – anakmu menangis?”.

Ibu : “Mereka sedang kelaparan” jawab Ibu itu dengan sedih.

Umar Bin Khatab : “ Lantas apa yang sedang engkau masak itu?”

Ibu : “Air yang aku panaskan. Aku pura pura sedang memasak untuk mereka. Aku berharap mereka lalai dan terlelap tidur”.

Umar kemudian menangis melihat kondisi mereka. Ia segera pergi menuju ke gudang makanan rakyat. Umar bin Khatab mengambil beberapa makanan dan berkata kepada pembantunya yang bernama Aslam.

Umar bin Khatab : “Aslam angkat makanan itu ke atas punggungku”.

Aslam : “Aku saja yang membawakannya”.

Umar bin Khatab : “Apakah engkau yang akan membawa dosaku di hari kiamat?. Akulah orang yang bertanggung jawab atas rakyatku”.

Umar bin Khatab lalu meminggul makanan itu sehingga sampai di tenda si ibu.

Umar mengambil tungku dan langsung membukanya kemudian menuangkan gandum dan minyak di dalamnya selanjutnya Umar mulai mengaduk-ngaduknya. Umar tak henti hentinya meniup api hingga asap mengepul melalui sela-sela jenggot tebalnya. Ketika makanan telah matang, Umar meminta sebuah nampan ke ibu tadi, dan Umar sendiri yang menuangkan makanan pada nampan tersebut kemudian menyuapi anak anak tersebut hingga kenyang. Setelah Anak-anak kenyang lalu mereka mulai tertawa bahagia dan bermain-main sampai mereka tertidur. Umar juga menyisakan beberapa bekal makanan untuk mereka.

Sang ibu berterima kasih dan berkata kepada Umar bin Khatab : “Semoga Allah Membalasmu dengan Kebaikan. Engkau lebih pantas disebut sebagai Amirul Mukminin”.

Sang ibu merasa sangat gembira sehingga dia tidak pernah sadar bahwa laki – laki sederhana yang telah susah payah membantunya sejatinya adalah sang Amirul Mukminin khalifah Islam. Setelah merasa puas dengan apa yang diperbuat, Umar berkata pada pembantunya Aslam.

Umar : “Aslam, kelaparan telah menyengsarakan dan membuat mereka menangis. Aku telah merasa bahagia tidak meninggalkan mereka kecuali dalam kondisi seperti ini”.

Perbuatan Umar bin Khatab tersebut menunjukan akan sifat ihsan yang dimiliki yaitu menunaikan kewajiban dan hak secara bersamaan kepada sesama. Cerminan ihsan itu dibuktikan dengan mengecek kondisi dan keadaan rakyatnya supaya sejahtera, tenang dan tentram.

Ketika Umar bin Khatab bercakap-cakap dengan rakyatnya untuk mengetahui permasalahan. Hal itu merupakan salah satu tugas dari pemimpin yakni memelihara, menjaga agar rakyatnya bisa hidup dengan tentram, tenang dan tak merasakan kelaparan ataupun kehilangan harta.

Saat Umar melihat bahwa ibu tersebut memasak batu untuk anak-anaknya. Umar merasa tak tega dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menyejahterakan rakyat, beliau segera pergi ke gudang gandum untuk mengambilkan makanan sebagai program bantuan. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dari seorang pemimpin dalam menjamin hak-hak warga negara ataupun rakyatnya. Bahkan setelah Umar membawakan bahan makanan dari gudang sampai tenda ibu tersebut, serta memasaknya sampai matang hal itu menunjukkan betapa bertanggung jawabnya Umar bin Khatab yang tidak mau melihat satupun rakyat nya kekurangan apalagi sampai kelaparan. Dan menunjukan sifat pemimpin yang memiliki akhlaq mulia, penyayang serta bisa menumbuhkan rasa peduli kepada rakyat. Sebagai rakyat atau warga negara sudah semestinya untuk patuh dan taat kepada pemimpinnya.

Penulis : Elok Sukmawati, S.Si.,M.Pd.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *