Harapan adalah sauh yang menambatkan jiwa manusia agar tidak hanyut terbawa arus. Saat keraguan dan ketidakpastian hari esok menerjang, harapanlah yang menjaga manusia tidak kehilangan arah atau tenggleam dalam kecemasan dan keputusasaan. Ia menjadi titik tumpu yang membuat kita dapat berdiri tegak dengan pijakan yang kuat meski sekeliling kita bergoyang. Sauh harapan yang tertanam dalam, memberi kita keyakinan akan datangnya rasa aman, ketenangan dalam keteguhan, dan waktu yang cukup untuk berani dan mempersiapkan langkah berikutnya.
Dalam pandangan Islam, harapan bukan sekadar angan-angan kosong, melainkan bentuk kepercayaan penuh kepada kasih sayang Sang Pencipta yang melampaui segala keterbatasan manusia. Islam mengajarkan kita untuk selalu memelihara optimisme. Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan engkau lemah. (H.R. Muslim no. 2664)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai kata-kata yang baik dan sikap optimis karena hal itu mencerminkan prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman dalam hadis Qudsi,
Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku. (H.R. al-Bukhari no. 6970, dan Muslim no. 2675)
Seorang Muslim yang memiliki optimisme tidak akan mudah patah oleh keadaan, sebab ia yakin bahwa bersama setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan kemudahan. Ketika seorang Muslim melabuhkan sauh harapannya kepada Allah, ia tidak akan merasa khawatir berlebihan terhadap hari esok. Optimisme inilah yang memberi rasa aman dan kekuatan untuk terus berkarya dan menebar manfaat bagi sesama.
Memasuki masa hidup yang baru, kita memerlukan Empat Sauh Harapan agar jiwa kita tetap stabil. Layaknya sebuah kapal yang membutuhkan jangkar yang kuat agar tidak terombang-ambing oleh gelombang samudra yang ganas, hidup kita pun membutuhkan pegangan yang kokoh. Empat sauh ini adalah: harapan akan keamanan, keteguhan dalam keyakinan, perlindungan dari keburukan dan godaan, serta tujuan akhir dari segala mula, yakni keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keempat harapan ini mesti dipintakan kepada Dzat Pemilik Segalanya.
Sauh pertama yang kita labuhkan adalah harapan akan keamanan (al-Amn). Kita patut berhenti sejenak untuk mensyukuri keamanan yang masih kita rasakan hari ini; negeri yang masih stabil, pekerjaan yang masih dapat menyokong keperluan hidup, keamanan fisik serta batin yang membuat kita bisa terlelap dengan tenang di malam hari dan terhindar dari rasa cemas.
Namun, kita juga semestinya menyadari bahwa rasa aman adalah nikmat yang mahal. Menengok rentetan bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Indonesia akhir-akhir ini, hati kita hendaknya tersentuh untuk membuat lisan kita melangitkan doa bagi saudara-saudara kita yang terdampak. Kita memohon agar Allah menjauhkan kita semua dari bencana, memberikan keamanan batin dari rasa gelisah, serta memulihkan ketenangan bagi mereka yang sedang diuji. Sebab, hanya dalam kondisi amanlah, manusia dapat beribadah dan berkarya dengan maksimal.
Sauh kedua yang harus kita tancapkan dalam-dalam adalah harapan akan keteguhan di atas keyakinan (al-Iman). Di tengah arus dunia yang terus berubah dengan standar nilai yang kian bergeser, memiliki pijakan keyakinan yang kokoh adalah anugerah terbesar. Bagi setiap Muslim, harapan untuk tetap tegak di atas keislaman adalah bentuk kesadaran bahwa kita membutuhkan kompas yang akan menunjukkan arah yang benar. Kita pun membutuhkan lentera yang mampu menerangi gelapnya kabut kehidupan, sehingga terlihat jelas mana yang haq dan mana yang batil.
Teguh keyakinan ini tentu tidak hanya terbatas pada ritual ibadah, melainkan juga merambat pada keteguhan prinsip hidup seperti kejujuran dalam bekerja, kesetiaan pada janji, bertanggung jawab pada Amanah, dan konsistensi dalam menebar kebaikan. Kita memohon kepada Allah agar hati kita dijaga agar tetap teguh (tsabit), tidak mudah luntur oleh gengsi, dan tidak goyah hanya karena mengikuti tren yang sesaat.
Beriringan dengan itu, kita melabuhkan sauh ketiga, yakni harapan untuk dilindungi oleh Allah dari segala keburukan dan godaan. Dalam hidup, terkadang keburukan tidak datang dalam bentuk yang menakutkan, melainkan dalam wujud godaan yang terlihat manis. Kita memohon perlindungan dari penyakit hati yang bisa merusak keikhlasan dan hubungan antarmanusia. Lebih dari itu, kita juga berharap agar kita dan saudara-saudara kita dijauhkan dari segala bentuk bencana dan mara bahaya yang tak terduga, serta dipulihkan keadaannya menjadi lebih baik.
Harapan agar dilindungi Allah adalah bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia. Bahwa tanpa perlindungan-Nya, kita sangat rentan tergelincir pada kesalahan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang banyak. Tanpa bantuan dari-Nya, Pundak kita tidak cukup kuat memikul beban ujian yang berat sendirian. Sungguh benar bahwa manusia membutuhkan Allah sebagai tempat bergantung, dan Allah menyukai orang-orang yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Pada akhirnya, segala upaya dan doa-doa kita akan bermuara pada satu tujuan, yakni harapan untuk mendapatkan keridhoan Allah. Inilah sauh terakhir yang kita cari validasinya atas semua perbuatan kita. Keamanan yang kita cari, keyakinan yang kita jaga, serta perlindungan yang kita minta, semuanya tak bernilai jika tidak berujung pada ridho-Nya. Bekerjalah kita tidak hanya untuk mengejar dunia, melainkan berharap Allah tersenyum melihat cara kita berikhtiar. Berbuat baiklah kita dengan berharap dampak baiknya tidak kembali sesaat pada kita, melainkan selamanya. Keridhoan-Nya adalah muara yang menenangkan, merubah setiap peluh kita menjadi pahala dan surga. Inilah harapan yang membuat kita merasa cukup dan tentram, apa pun hasil yang kita terima di dunia.
Keempat sauh ini, adalah satu kesatuan harapan yang kita pinta untuk dapat menjaga bahtera hidup kita tetap stabil. Mari mulai melangkah dengan menggenggam harapan-harapan ini, seraya percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berharap pada-Nya berlayar sendirian dan kehilangan arah.
Penulis: Irham M Azama


