Pengabdian Hidup Tiada Akhir

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mengabdi dari kata dasar abdi yang termasuk kata kerja mengandung aktifitas yang bersifat dinamis yakni menghambakan diri atau berbakti. Ada film horror yang sangat laris di tahun 2017an yang berjudul “pengabdi setan” yakni seseorang yang sudah berjanji akan memenuhi keinginan tuannya setelah keinginan dia terpenuhi, apapun akan dia lakukan walau harus dengan menyakiti bahkan membunuh orang yang dia cintai.

Kita sebagai seorang muslim senantiasa berikrar dalam sholat akan pengakuan diri yang lemah dan telah mendapatkan begitu banyak kenikmatan hidup lalu menyatakan akan tunduk dan patuh kepada tuannya. “Iyyaka na’budu” Hanya kepadaMu kami mengabdi. Ungkapan ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki wewenang dan pemilikan yang penuh atas diri kita sebagai hamba sahayanya. Pengakuan ini mestinya menghasilkan kehadiran Tuhan selaku tuannya secara terus menerus dalam benak di pengabdi.

Seorang ulama besar bernama Ja’far ibn Muhammad ibn Ali Al-Shadiq yang lebih dikenal dengan sebutan Ja’far Shadiq (702-765M) pernah ditanya oleh muridnya perihal apakah itu pengabdian? Kata beliau, ada tiga macam hakikat pengabdian itu, yang pertama, seorang abdi tidak menganggap apa yang berada dibawah genggaman tangannya atau wewenangnya sebagai miliknya pribadi, karena sebagai hamba (abdi) tidak memiliki sesuatu apapun. Bahkan dirinyapun milik tuannya. Kedua, dia juga harus menjadikan segala akktifitasnya fokus atau berpusat pada apa yang diperintahkannya atau menjauhi segala apa yang dilarang oleh tuannya. Yang ketiga, seorang pengabdi tidak memastikan sesuatu apapun kecuali setelah ada ijin dari tuannya.

Jika tiga hal tersebut berada pada diri seorang abdi, maka apapun tantangan dan bujuk rayuan yang dihadapinya tidak akan mampu melengahkan dia dari pengabdiannya kepada tuannya. Contohnya salah satu sahabat Rasulullah yang hidup dengan kezuhudan walaupun jabatan dan kesempatan mengumpulkan harta ada ditangannya.Dia adalah Said bin Amir Al-Jumahi, salah seorang dari suku Quraisy yang termasuk memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Namun akhirnya masuk Islam setelah melihat kegigihan Khubaib bin Adhy dalam mempertahankan keimanan ditianggantungan dihadapan kaum kafir Quraisy yang dendam kepada nabi Muhammad karena kekalahannya dalam perang Badar.

Setelah menyatakan masuk Islam, maka Said bin Amir Al-Jumahi senantiasa mendampingi Rasulullah dalam setiap peperangan dan bahkan menjadi teladan bagi khalifah Abu Bakar As-Sidiq dan Umar bin Khathab sehingga keduanya tidak segan-segan untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya yang sangat berbobot. Pernah pada awal pemerintahan Khalifat Umar bin Khathab, Said mendatangi Umar bin Khathab seraya berkata: Ya Umar… takutlah kepada Allah dalam memerinta manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah!! Jangan berkata yang berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatannya.

Wahai Umar..! Tunjukkanlah seluruh perhatian anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang anda dan keluarga anda sukai. Jauhkan dari mereka apa yang anda dan keluarga anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang yang suka mencaci.

Lalu dijawab oleh Khalifah Umar bin Khathab: Siapakan yang sanggup melaksanakan semua itu, wahai Said..! Lalu dibalas oleh Said dengan tegas dan meyakinkan: Tentu saja orang seperti Anda! Bukankah anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?.

Di beberapa waktu kemudian ketika Khalifah membutuhkan seorang pemimpin untuk menjabat sebagai gubernur di Hamsh, dipanggilah Said untuk menghadap. Lalu dikatakan kepadanya: Hai Said, Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh. Apa jawab Said? Wahai Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia.

Umarpun marah sambal berkata : Celaka Engkau Said, engkau pikulkan beban pemerintahan ini dipundakku, tetapi kemudia engkat menghindar dan membiarkanku repot sendiri. Lalu jawab Said: Demi Allah ! Saya tidak akan membiarkan anda sendiri.

Beberapa waktu setelah Said menjabat jadi gubernur di Himsh maka Khalifah Umar bin Khathab memanggil para petugas pengambil zakat di Himsh meminta laporan tentang orang-orang miskin yang perlu mendapatkan santunan. Setelah diserahkan daftar nama-nama dan diteliti oleh Khalifah ada tercantum nama Said bin Amir Al-Jumahi. Dengan tidak percaya, Khalifah Umar bertanya, Siapakah Said bin Amir yang kalian cantumkan ini !!? Gubernu kami, jawab para petugas zakat. Betulkah gubernur kalian miskin..!! bertanya sambil heran. Lalu para petugas meyakinkan: “Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak terlihat tanda-tanda api menyala (artinya tidak memasak).

Mendengar jawaban seperti itu, Khalifah Umar menangis sehingga air matanya membasahi hingga ke jenggotnya. Lalu diambillah sebuah pundi-pundi yang berisi uang seribu dinar. Diberikan kepada para petugas zakat sambil berkata, Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya.

Sesampainya di Himsh, para petugas menemui gubernur Said bin Amir, menyampaikan salam dari Khalifah dan uang kirimannya untuk beliau. Setalah gubernur Said menerima pundi-pundi dan membukanya berisi uang seribu dinar maka dijauhkannya dari sisinya seraya berkata, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Karena perkataannya yang tiba-tiba dan keras itu terdengar oleh istri didalam, sehingga keluar menghampiri suami Said bin Amir sambil bertanya khawatir, Wahai suamiku, ada apakah yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin meninggal dunia??

Bahkan lebih besar lagi dari itu, jawab Said dengan sedih. Apakah tentara kaum muslimin kalah perang? Tanya istrinya lagi. Jauh lebih besar dari itu! Jawab Said. Istrinya tidak sabar bertanya lagi, apakah gerangan yang lebih besar dari itu?? Dengan wajah sedih Said berkata : “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita! Dengan cepat istrinya menyahuti : Bebaskan dirimu daripadanya! Lalu Said berkata: maukah engkau menolongku berbuat demikian? Tentu saja mau, jawab istrinya dengan semangat.

Setelah itu diambillah pundi-pundi berisi seribu dinar itu diberikan kepada istrinya untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin diwilayahnya, sehingga untuk diri dan keluarganya sendiri tidak mendapatkan bagian.

Itulah secuil kisah hidup sahabat yang telah mengabdikan hidupnya hanya untuk pengabdian hanya kepada Allah SWT, sehingga jabatan, kedudukan, dan harta tidak menjadikannya lengah kepada Sang Kholiqnya. Semoga menginspirasi kita semua. Aamiin

Ibnu Sam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *