“MENJADI MUSLIM YANG BERKEMAJUAN”
Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) telah menggelar pengajian rutin yang dilaksanakan setiap bulan yang dihadiri seluruh dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. LPPI mengadakan pengajian rutin setiap bulan bertujuan untuk menjalin tali silahturahmi sesama dosen dan karyawan. Pengajian dilaksanakan di Masjid KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan mengundang Prof. Dr. H. Masrukhi, M. Pd. Selaku bendahara PWM Jawa Tengah sebagai pembicara pada pengajian kali ini yang dimulai pada pukul 07.30 s/d 09.00 WIB. Pengajian ini dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ustadz Muntohar dan sambutan yang disampaikan oleh Drs. KH. Achmad Kifni selaku Wakil ketua BPH UMP, Jum’at (23/12/2022). Pengajian juga dihadiri oleh Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan AIK, Wakil Rektor IV bidang Riset, Inovasi dan SDM, Ketua LPPI dan juga dihadiri oleh para pimpinan fakultas yang lain.
Dalam ceramah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Masrukhi, M. Pd. Beliau Mengatakan “Muslim yang berkemajuan bisa kita implementasikan dalam segala aspek kehidupan satu-satunya adalah dikampus, seperti bagaimana kita mendidik dan mengasihi mahasiswa dengan tulus, bagaimana kita disiplin waktu, bagaimana kita mengejar dan mengajar secara berkualitas dan itu adalah bagian-bagian dari muslim berkemajuan juga tentang riset”. Prof. Dr. H. Masrukhi, M. Pd. Menjelaskan bahwa seorang dosen yang tidak pernah melakukan riset merupakan salah satu bukti bahwa mereka bukan muslim berkemajuan, namun beliau mengatakan “tapi saya yakin bahwa dosen-dosen ump itu pasti melakukan riset, baik sebagai ketua maupun sebagai seorang anggota dan juga pengabdian masyarakat, jadi itu adalah implementasi dari muslim berkemajuan dalam konteks kehidupan kampus”.
Dalam kesempatannya beliau juga menceritakan tentang kemeriahan dari acara Mutakmar ke 43 yang baru saja diselenggarakan dan dalam acara Mutakmar tersebut beliau menjelaskan 7 point penting hasil dari Mutakmar ke 43 yang mana sebagai warga yang berada di universitas muhammadiyah purwokerto untuk memahami dan mengamalkan bersama mengenai 7 point penting dari mutakmar ke 43. 7 point penting ini yang pertama adalah peneguhan paham keislaman dan ideologi muhammadiyah.“Jangan sampai luntur, makanya pengajian-pengajian ini merupakan ruh daripada bermuhammadiyah, kalau disuatu lembaga pendidikan tidak ada pengajiannya maka betapa menyedihkan, bisa luntur keislaman kita,” katanya. Melanjutkan dari point pertama, maka point kedua adalah penguatan dan penyebarluasan pada pandangan islam berkemajuan, selanjutnya memperkuat dan memperluas basis umat diakar runtuh, mengembangkan keunggulan dan kekuatan ekonomi, berdakwah bagi milenial.
Prof. Dr. H. Masrukhi, M. Pd menjelaskan sedikit mengenai surah An-Nahl ayat 18 yang berbunyi wa in ta’uddu ni’matallahi la tukhsuuha maka dapat direnungkan bahwa nikmat yang Allah berikan kepadamu maka tidak akan terhitung, “memang benar la tukhsuuha tak akan bisa menghitungnya, dibandingkan nikmat Allah yang diberikan kepada kita dengan ibadah kita, ibadah kita itu belum ada apa-apanya,” katanya. “dilembaga muhammadiyah mengaji itu jam dinas, kan luar biasa, sholat jama’ah juga jam dinas, yang begitu masih ada yang tidak mau mengaji, dan ada yang masih tidak mau sembahyang” imbuh nya. Kita harus ingat bahwa ibadah kita itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat Allah telah diberikan. “jadi nikmat Allah itu dibandingkan dengan ibadah kita ini masih jauh, ibadah kita terlalu sempit.”
Beliau mengingat satu kisah bahwa ada seorang syufii bernama Robi’ah binti Ismail Al adawiyah, dalam biografinya dia termasuk wanita yang menderita, ayahnya adalah orang miskin dan dia ditinggal mati oleh ayahnya saat dia baru bisa berjalan. Robi’ah Al- adawiyah selalu berdoa kepada Allah “Ya Allah aku mengabdi kepadamu karena takut neraka, maka masukkan aku kedalam nerakaMu, jika aku shalat karena mengharapkan surgaMu maka haramkan aku masuk surgaMu, bukan surga yang aku harapkan bukan neraka yang aku haturkan tetapi ridho dan penciptaanMu.” Kata syufii Robi’ah Al-adawiyah. “ini tingkat mahhabah yang luar biasa, tingkat keikhlasan yang luar biasa” tutur Prof. Dr. H. Masrukhi, M. Pd
Diakhir pengajian beliau berkata “kita sebagai muslim berkemajuan mempunyai tugas untuk menghilangkan belenggu-belenggu penderitaan saudara-saudara kita yaitu kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.” Kemudian beliau melanjutkan “ Jadi kita semuanya, kebetulan memiliki harta yang cukup, kebetulan berilmu, jangan kemudian harta dan ilmunya itu untuk dirinya, dan keluarganya saja melainkan beramal dan berbagi untuk masyarakat disekitar kita, ini yang disebut dengan menghilangkan belenggu penderitaan yang membelenggu kehidupan mereka.” (Tia A)

