الراحة في تبادل الاعمال
Istirahat itu adalah bergantinya pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya.
Setelah melewati hiruk-pikuk riuhnya liburan lebaran, sekarang kita berada pada suasana hikmad tenang penuh dengan kefokusan terhadap rangkaian soal-soal. Seperti itulah hakikat kehidupan kita. Islam senantiasa mengajarkan kita menjadi pribadi yang produktif, tidak melewatkan waktu tanpa adanya kemanfaatan. Senantiasa mengisi detik demi detik dalam kehidupan kita untuk terus beraktifitas positif dalam rangka menanam kebaikan di dunia untuk kemudian menuainya di akhirat.
Setiap dari kita pasti menjalani sebuah ujian, baik dalam artian ujian sebagai proses evaluasi belajar di lingkungan sekolah, ataupun dalam makna luas dalam berkehidupan. Ujian itu sendiri sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan ujian, seseorang bisa berefleksi diri dan menyadari kekurangan dan kelemahannya sehingga terpacu untuk meningkatkan kualitas diri dan meraih prestasi yang lebih tinggi.
Allah SWT menegaskan dalam Qur’an surat al-Ankabut ayat 2 bahwa setiap orang yang beriman pasti akan diuji.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji lagi.” (QS al-Ankabut: 2).
Hakikatnya, kualitas seseorang dapat dilihat melalui ujian. Sebuah pepatah Arab terkenal menyebutkan, “Melalui ujian, seorang akan dimuliakan atau akan menjadi terhina.” Oleh karenanya, ujian seyogyanya dimaknai sebagai sarana untuk meraih kemuliaan, bukan kehinaan.
Salah satu kunci sukses dalam menjalani sebuah ujian adalah berprinsip bahwa “ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”. Sejatinya jika ujian dimaknai untuk belajar maka kita akan senantiasa berkomitmen untuk ikhlas, serius, dan sabar dalam belajar. Namun sebaliknya, jika belajar diniati untuk ujian maka belajar itu akan berakhir dengan berakhirnya ujian. Belajar hanya untuk bisa menjawab soal-soal ujian, bukan untuk menjadi modal intelektual dan mental spiritual untuk meraih kemajuan dalam berkehidupan.
Jika kita mengingat sebuah kisah perjalanan belajar dari nabi kita Musa dengan Nabi Khidzir, kita akan ingat bahwa perjalanan proses belajar nabi Musa kepada nabi Khidzir gagal karena kurang bersabarnya nabi Musa dalam menerima pelajaran dari nabi Khidzir. Namun demikian, kita akan mampu mengambil sebuah pelajaran dari peristiwa besar ini. Bahwa kelulusan dan hasil kuantitatif dari sebuah ujian tidak menjadi unsur utama dari makna ujian itu sendiri, sebaliknya dari ujian inilah kemudian kita mampu menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan, kesabaran yang meningkat sehingga mengantarkan kita ke gerbang kesuksehan dalam kehidupan di dunia dan akhirat.
Selamat menjalankan ibadah ujian tengah semester genap bagi teman-teman mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
معكم بالتوفيق والنجاح
Penulis : Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto


