Waktu merupakan perjalanan hidup yang kita pun tidak tahu kapan berakhirnya. Apabila kita menyadari bahwa kita hidup hanya 3 hari saja maka kita akan melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Hidup menjadi lebih semangat dan penuh dengan ketenangan. Sumber ketenangan yang paling baik dan paling utama adalah dengan agama. Hal ini diibaratkan karena hidup di dunia sangatlah singkat sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat. Sedangkan, dunia adalah kehidupan yang sifatnya sementara dan alam menuju akhirat yang membuat kita harus mengumpulkan bekal atau amal yang banyak untuk di akhirat kelak.
Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam disebut kan : Dunia adalah ladang Akhirat
Dunia adalah laksana tempat bercocok tanam atau ladang menanam, manusia di hadirkan kedunia ini dan diberi kebebasan untuk bercocok tanam dan bekerja keras, sesuai dengan kemampuannya masing-masing, yang nantinya untuk memperoleh hasil yang akan dinikmatinya diakhirat kelak, apa yang ditanamnya didunia itulah yang akan dinikmatinya di hari akhir nanti, bila dia menanam keburukan maka dia akan memanen keburukan, bila dia menanam kebaikan dan amal shaleh, maka dia akan menikmati hasil amalanya tersebut.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah ayat 7-8, Allah Subhanahuwata’ala berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”
Oleh karena itu, perbanyaklah bekal yang akan kita bawa ketika kembali kepada-Nya, karena dunia ini hanya sementara, apa yang telah kita tanam di dunia itulah yang akan kita bawa sebagai bekal di kehidupan yang kekal abadi. Sekecil apapun dan sebesar apapun amalan kita itu yang akan kita nikmati kelak.
Hasan Al Bashri rahimahullah berpesan bahwa : “Dunia itu hanya tiga hari. Kemarin, yang tak kan terulang. Besok, yang belum tentu menemuinya. Hari ini, tempat menabung amalan kita”
Untaian nasehat yang begitu dalam dan sarat akan makna dari seorang ulama Hasan Al Bashri mengibaratkan dunia ini hanya ada tiga hari saja. Sangat amat singkat, sehingga menjadikan kita wajib untuk memanfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya demi menggapai suatu tujuan utama dari hidup kita, yaitu mencari Ridho Allah Subhanahuwata’ala dengan memperbanyak beribadah kepada Nya dan menjauhi segala larangan Nya.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat: 56)
Dari nasehat Hasan Al Basri di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa: Hari yang pertama yaitu “KEMARIN”. Hari kemarin adalah masa lampau yang telah kita lalui. Satu hal yang tidak dapat kita lakukan adalah kembali pada masa lalu yang telah terjadi. Kita tidak dapat mengubah apa pun yang sudah terjadi. Kita tidak dapat menarik perkataan yang pernah diucapkan. Bahkan kita tidak dapat menghapus masalah ataupun mengulangi kegembiraan yang pernah kita rasakan. Lalu apa yang bisa kita lakukan? yang berlalu biarlah berlalu. Karena kita sudah tidak bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus selalu melakukan kebaikan terhadap sesama makhluk, perbanyaklah amal ibadah kita.
Hari yang kedua yaitu “HARI INI ”. Pintu masa lalu sudah tertutup dan pintu masa depan juga belum tiba. Satu hal yang pasti adalah hari ini. Kita dapat mengerjakan banyak hal hari ini. Namun hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memanfaatkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan di hari esok. Hiduplah untuk hari ini karena masa depan dan masa lalu hanyalah permainan pikiran yang sangat rumit.
Hidup dengan apa adanya akan membuat kita lebih bahagia dalam menjalani hidup. Hari ini adalah hal yang abadi sehingga manfaatkan sebaik mungkin, Oleh karena itu kita harus selalu melakukan kebaikan terhadap sesama makhluk, perbanyaklah amal ibadah kita. Yang kita lakukan hari ini akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahuwata’ala.
Hari yang ketiga yaitu “HARI ESOK” Allah telah mengatur dunia ini dengan penuh rahasia. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui nasibnya satu hari kemudian, bahkan tidak untuk satu detik kemudian. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi hingga matahari terbit di esok hari. Kita pun tidak dapat melakukan apapun di esok hari. Tak ada yang menjamin bahwa kita besok dapat merasakan senang dan sedih. Bahkan belum tentu kita bertahan hingga esok hari. Wallahu a’lam bishawab.
Penulis: Ust. M. Alfian N Azmi, S.T., S.Ud., M.Sos.

