Pada saat ini Kita telah berada di penghujung tahun 2025 dan beberapa hari lagi akan memasuki tahun baru 2026 Masehi. Tentu setiap akhir dan pergantian tahun memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia. Kedalaman makna itu dapat dirasakan oleh setiap manusia itu sendiri, dimana pada satu sisi di awal tahun baru sebagai tempat harapan untuk mencapai kesuksesan ke depannya, pada sisi lain kegagalan yang terjadi di tahun sebelumnya, berharap tidak terjadi di tahun yang akan dijalani serta ada sisi lain yang pasti akan terjadi yaitu usia hidup manusia yang pasti akan berkurang sesuai dengan jatah usia yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itulah, manusia sangat perlu melakukan perenungan diri (tafakur). Di samping itu juga sebaiknya manusia melakukan muhasabah yaitu melakukan evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan dalam segala hal baik yang ada hubungannya dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (hubungan vertikal) maupun ada sangkut pautnya dengan hubungan antara makhluk terhadap perjalanan hidupnya (hubungan horizontal).
Tentu dengan berakhirnya tahun 2025 ini sebagai momentum untuk Kita gunakan sebagai bahan muhasabah terhadap diri Kita masing-masing apakah di tahun yang akan Kita tinggalkan ini lebih banyak nilai-nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ataukah sebaliknya lebih banyak nilai kejelekannya? Maka jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk menilainya. Jika posisi Kita berada pada zona lebih baik dari tahun sebelumnya maka Kita berada pada zona keberuntungan. Jikalau sama dengan tahun lalu maka nilainya berada pada zona tertipu, tetapi sebaliknya jika lebih jelek dari tahun sebelumnya maka Kita telah berada pada zona kerugian. Apabila lebih banyak nilai kebaikan dan ibadahnya maka kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, pun-demikian sebaliknya apabila banyak nilai kesalahan dan dosa-dosanya, maka Kita termasuk dalam golongan orang yang merugi.
Maka, beruntunglah Kita yang oleh Allah SWT diberi umur yang panjang banyak melakukan amal kebaikan, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis yang artinya: “Sebaik-baik manusia ialah yang diberi umur panjang dan dia gunakan untuk melakukan kebaikan, dan sejelek-jelak manusia apabila diberi umur yang panjang tetapi dia gunakan untuk perbuatan kejelekan”. (HR: Ahmad). Pada hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia beruntung dan barangsiapa keadaan hari ini sama dengan hari hari kemarin dia tertipu dan barangsiapa keadaan hari ini lebih jelek dari hari kemarin, berarti dia terlaknat” (HR. Baihaqi)
Dan cara manusia untuk bisa berada pada zona keberuntungan hidup adalah dengan mensyukuri nikmat umur yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita adalah dengan cara mengucapkan kalimah alhamdulillah dan banyak berbuat kebaikan, beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, menjalankan semua perintah-Nya dan berusaha menjauhi larangan-Nya serta selalu mengikuti sunnah dan syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah Shollu alaihi wasallam. Sesungguhnya Allah memberikan umur dan kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan ini merupakan anugerah yang sangat besar dan tidak ternilai harganya dengan apapun, baik harta, rezeki, kedudukan dan pangkat. Akan tetapi harus kita ingat dibalik anugerah yang besar tersebut, manusia dituntut untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Wallahualam bissawab
Penulis: M. Alfian N Azmi, S.T., S.Ud., M.Sos.




