TAUBAT

At-Tawwab digunakan dalam Al-Qur’an sebanyak 11 kali, dan semua menunjuk kepada  Allah yang Maha Penerima taubat. Bukan hanya penerima, Allah juga sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat. “Sesungguhnya Allah menyukai at-tawwabin (orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS al-Baqarah [2]: 222). Dengan kasih sayang-Nya, at-Tawwab selalu memberi kesempatan hamba-Nya untuk bertaubat, agar masa lalu yang “hitam kelam” diganti dengan masa depan yang cerah dan penuh kebaikan.

Didalam kehidupan kita tak luput dari perbuatan dosa, setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Baik yang disengaja ataupun tidak, baik yang kecil ataupun yang besar. Oleh karena itu supaya dosa kita tidak menumpuk kita harus sadar dan memperbaiki diri kita agar lebih baik dari sebelumnya dan kembali ke jalan yang di ridhai oleh Allah SWT. Meminta ampun kepada Allah SWT dengan cara berdzikir, tirakat memohon ampunan agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Salah satu yang membuat kita berdosa yaitu dari hawa nafsu yang tinggal didalam diri manusia yang senantiasa menghiasi kejahatan sehingga terlihat baik dan menyuruh untuk melakukannya. Diantara musuh yang lain adalah syaitan baik dari golongan manusia dan golongan jin yang selalu mengiringi manusia menuju sumber-sumber kebinasaan dan selalu menghalangi dari jalan yang di ridhai oleh Allah SWT.

Beristigfar tetapi tidak meninggalkan maksiat ini adalah salah satu taubatnya orang dusta yang sering sebagaian dari orang bertaubat tetapi pada hari yang sama dia melakukan kesalahan yang sama padahal seseorang itu sudah bertaubat. Jika maksiat itu berkaitan dengan hak-hak manusia,maka taubatnya tidak sah kecuali setelah ia membebaskan diri dari hak-hak tersebut. Kegelisahan, gundah-gulana, kekhawatiran,ketidak tenangan dan ini dirasakan oleh setiap pelaku maksiat, tidak bisa dipungkiri hal ini demikian juga dengan orang yang minum khomer dia merasakan kelezatan, namun setelah minum khomer yang ada akan kegelisahan maka setelah itu dia akan mencari kelezatan berikutnya,sehingga maksiat tadi akan menjerumuskan dia kepada maksiat berikutnya. Kenapa? karea dia ingin mencari kelezatan yang telah hilang tersebut. Kelezatan yang bersifat sementara. Saat melakukan kemaksiatan memang merasakan kelezatan namun kelezatan tersebut hanyalah sementara dan setelah pergi kelezatan tersebut akan ada kegelisahan, akan ada kekeringan didalam hati, dan akan ada gunda gulana dan setelah itu akan dihisab oleh Allah SWT.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar,dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan. Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikashi Allah SWT dan bertaubat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah SWT. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 112 yang artinya “maka tetaplah pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. bertaubat itu tidak harus menunggu berbuat dosa terlebih dahulu, tetapi dari sebuah perbuatan yang tidak baik harus segera ditaubati karena pada dasarnya manusia hidup di dunia ini penuh dengan kesalahan baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan batin yang dilakukan di hati. Sebagai mana Rasulullah SAW pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud ”Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat. Kita ini manusia yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT maka dari itu segera kita sadar, segera kita taubat kepada Allah SWT.

Jika hidup kita ingin berbahagia maka tawakallah kepada Allah SWT, melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi yang dilarang oleh Allah SWT maka kebahagiaan tersebut akan selalu ada di hati. Semoga Allah SWT memberikan kepada manusia hidayah untuk menuju surga Allah SWT yang luasnya seluas langit dan bumi. Amin

Penulis: Widiya Nita Ambarsari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *