Nilai Waktu di Bulan Ramadhan

Sore menjelang magrib, kaum muslimin menunggu-nunggu keputusan Menteri Agama terkait awal bulan Ramadhan. Meskipun Muhammadiyah telah memutuskan lebih dahulu awal bulan Ramadhan. Mereka sama-sama menyambut dengan riang gembira, karena bulan Ramadhan kali ini suasananya berbeda dengan dua kali Ramdhan sebelumnya, yaitu saat kita diuji dengan wabah covid 19 yang membatasi kesempurnaan amaliah Ramdhan. Perbedaannya Ramadhan kali ini kita menikmati kebebasan  untuk beribadah di masjid. Bulan ramadhan adalah bulan istimewa bagi orang-orang yang beriman. Banyak amalan istimewa yang telah disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya untuk menjadikan dirinya mulia yaitu menjadi muttaqiin.

Tapi betepa banyak saudara-saudara kita dua tahun sebelumnya yang telah di panggil Allah tidak menjumpai Ramadhan tahun ini. Hal ini tentunya menjadikan mereka tidak berkesempatan untuk meraih nilai waktu di bulan Ramadahan. Maka kita yang masih diberikan usia, seyogyanya kita memanfaatkan nilai waktu di bulan Ramadhan.

Begitu berartinya nilai sebuah waktu dan memang modal utama manusia untuk meraih kesuksesan adalah waktu. Selagi masih diberi kesempatan waktu, banyak hal yang bisa dilakukan. Seseorang bisa mengejar ketertinggalan, menyelesaikan tugas dan persoalan-persoalan kehidupan serta menyediakan bekal untuk meraih cita-cita yang diharapkan. Barangkali inilah salah satu hikmah, mengapa setelah Allah mengulangi pernyataan bahwa setelah mengalami berbagai kesulitan diwaktu tertentu, Allah sudah menyiapkan kemudahannya.

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insirah: 5-6)

Namun betapa banyak orang yang tidak sabar untuk menghadapi kesulitan demi meraih kesuksesan, inginnya sukses dengan mudah dan sukses mendadak. Kita bisa bercermin kepada para ulama dalam memanfaatkan waktu. Dengan modal waktu, para ulama telah sukses mencapai cita-cita dan tujuannya. Mereka sangat bakhil membelanjakan waktu, kecuali untuk sesuatu yang jelas-jelas bermanfaat. Jika orang-orang memiliki semboyan “time is money”, tapi justru para ulama sebaliknya, rela mengorbankan hartanya untuk mendapatkan waktu dan peluang menuntut ilmu. Begitu pula dengan nilai waktu di Bulan Ramadhan, banyak kaum muslimin yang berguguran dalam mengisi waktu di bulan mulia ini. Akhir Ramadhan masjid semakin sepi jamaahnya.

Dikisahkan oleh Thalhah bin Ubaidilah yang bermimpi berada di pintu syurga, dikejutkan dengan dua saudara sekaligus sahabat Rasulullah saw yang telah meninggal lebih dahulu. Salah satu dari dua saudara diberikan usia waktu lebih panjang dan diberikan kelebihan masuk syurga terlebih dahulu. Dikisahkan ada dua orang bersaudara yang masuk Islam secara bersama-sama dan mereka berdua sama-sama semangat dalam berislamnya. Namun salah satu dari keduanya lebih semangatnya melampaui saudaranya.

Lelaki yang paling semangat itu lalu ikut berjihad hingga akhirnya syahid. Sedangkan lelaki satunya, masih hidup satu tahun lebih lama. Dalam masa hidunya satu tahun sejak temannya meninggal karena syahid dalam jihad tadi, ia berkesempatan berjumpa dengan bulan Ramadhan. Ia beribadah secara maksimal pada bulan tersebut. Īmānan wahtisāban. Penuh dengan keimanan dan harapan akan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Setelah itu, lelaki kedua tadi akhirnya meninggal. Kemudian Thalhah melihat seorang lelaki keluar dari Surga. Laki-laki itu kemudian memberi izin kepada laki-laki yang meninggal terakhir setelah melaksanakan puasa Ramadhan untuk masuk ke dalam Surga. Lalu ia keluar lagi dan memberi izin kepada laki-laki yang mati syahid untuk masuk Surga.

Setelah itu, laki-laki yang keluar masuk Surga tadi mendatangi Thalhah. “Kembalilah, ini bukan untukmu!” kata laki-laki itu kepada Thalhah. Thalhah bin Ubaidillah menceritakan mimpi  menakjubkan itu kepada para sahabat yang lain hingga berita itu sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau pun menyampaikan sebuah cerita, orang-orang takjub mendengarnya. Mereka berujar, “Wahai Rasulullah, lelaki yang paling semangat berislam dan mati syahid ini masuk Surga setelah lelaki yang satunya ini? Bagaimana bisa?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah lelaki yang masuk Surga terlebih dahulu ini masih hidup lebih lama satu tahun?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Lalu beliau meneruskan sabdanya, “ kemudian dalam satu tahun dia berjumpa dengan bulan Ramadhan, ia melaksanakan puasa, shalat, dan ibadah lainnya sepanjang satu tahun sisa hidupnya?” Mereka menjawab “Benar, wahai Rasulullah.” Kemudian Nabi saw meneruskan “ oleh karena itu, jauh sekali jarak derajat kemuliaan antara keduanya, lebih jauh dari jaraj antara langit dan bumi.”