Bila medan dakwah kepada Allah swt. adalah kedudukan ibadah papan atas yang dengan itu seorang dai dapat juga meraih kedudukan seorang mujahid dan orang yang berhijrah karena Allah swt dan bila memaparkan Islam kepada dunia merupakan cara terbaik dalam menyeru kebaikan dan melarang keburukan, maka keihklasan merupakan rukun asasi yang tidak dapat diabaikan dan ditinggalkan begitu saja. Dengan modal ini seorang Dai mampu untuk menyucikan amal perbuatannya, meningkatkan kualitas jiwanya, menguatkan azamnya dalam membela agama Allah, serta memberi pelumas untuk berjalan menuju Allah.
Salim bin Abdullah menulis surat kepada Uman bin Abdul Aziz. Di dalam suratnya tersebut dikatakan, “Katakanlah saudaraku! Pertolongan Allah terhadap hambanya adalah sebanding dengan besar keihklasan dalam niatnya. Bila seorang hamba memiliki niat ikhlas yang sempurna, maka pertolongan Allah pun akan sempurna kepadanya. Begitu pun sebaliknya. Barang siapa yang memiliki niat tidak sempurna maka pertolongan yang Allah turunkan kepadanya tidaklah penuh.”
Lihatlah sosok yang dijuluki sebagai Saifullah al-Maslul, Khalid bin Walid r.a., dan keihklasannya kepada Allah swt. Maimun dan Abu Bakar r.a. menuturkan kepadanya, “Berbahagialah atas kehormatan dan niatmu, wahai Abu Sulaiman.”
Dengan keikhlasannya juga, kekaisaran besar Persia tunduk dan menyerahkan diri. Tidak lama kemudian, kekaisaran Romawi berhasil ia singkirkan dari bumi Syam untuk selamanya, yaitu pada peperangan Yarmuk.
Abu Bakar r.a. begitu memercayainya, “Demi Allah, aku tentu akan mengusir kaki dan gangguan Romawi dengan pedang Khalid.”
Di dalam realitas medan dakwah menuju ajaran Allah, suatu amal takkan naik bila tidak diiringi dengan keinginan untuk beramal yang semata-mata untuk Allah swt, bahkan tidak hanya itu, seseorang yang memegang erat tali Allah dalam beragama, tapi disertai hawa nafsu dalam aplikasi nilai ibadah akan dinilai memiliki jiwa yang bengkok, perangai yang tidak lurus, serta mengundang rasa muak dan segan.
Ikhlas adalah kewajiban asasi berada di pundak seorang hamba dalam tatanan relasi antara ia dan Tuhannya. Sementara itu, dalam tataran interaksi sesama hamba, kewajiban ikhlas menjadi lebih kuat dan kentara.
Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. ketika menyampaikan betapa ikhlasnya Abu Thalhah r.a. dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Hakim:
“Suara Abu Thalhah di dalam pasukan lebih baik daripada seribu tentara sekalipun.” (HR. Hakim; hadits sahih)
Hal ini karena keikhlasannya jika ia melakukan sesuatu, ia hanya memperuntukkan hal itu bagi Allah swt.
Dalam medan dakwah, seorang dai akan merasakan panjangnya perjalanan, beratnya beban, problematika manusia sekitar yang datang tumpang tindih, kelapangan hati atau sebaliknya dalam menerima metode dakwahnya, intensitas kekuatan dan kelemahan daya tangkap masyarakat awam, menjadikan seorang dai yang ikhlas lebih menyingsingkan lengannya dan lebih khusyu dalam bermunajat kepada Tuhannya. Ia senantiasa merasakan bahwa Allah swt. selalu memerhatikan dan mengawasinya agar ia takkan kehilangan kendali dalam memegang roda dakwahnya dan tidak tersesat di tengah arus kehidupan.




