MENUTUP SYAWAL, MENYAMBUT DZULQA’DAH

Bulan Syawal yang penuh keberkahan dan kebahagiaan setelah Ramadhan akan berlalu. Umat Islam telah melaksanakan ibadah puasa sunnah Syawal, saling memaafkan, serta mempererat silaturahmi. Kini kita memasuki bulan Dzulqa’dah, salah satu dari asyhurul hurum (bulan-bulan yang dimuliakan) dalam Islam. Bagaimana seharusnya kita mengakhiri Syawal dengan baik dan menyambut Dzulqa’dah dengan penuh kesadaran? 

Syawal adalah bulan untuk kita melakukan ‘refleksi’ setelah melalui bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:  “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).  Puasa Syawal adalah bentuk kesinambungan ibadah kita pasca-Ramadhan, yang menunjukkan keistiqamahan seorang Muslim dalam ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. 

Maka, sebelum meninggalkan bulan Syawal, mari kita mengevaluasi diri: Sudahkah kita menyempurnakan puasa Syawal? Apakah silaturahmi dan kebiasaan baik kita di bulan Ramadhan masih terjaga? dan Bagaimana kualitas taubat kita setelah Ramadhan dan Idul Fitri berlalu?

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan pertama dari empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Allah berfirman:   

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنا عَشَرَ شَهْراً في كِتابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ مِنْها أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ 

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan) yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36) 

Bulan-bulan haram adalah momentum mahal untuk kita meningkatkan ketakwaan dan menjauhi kemaksiatan, karena dosa yang dilakukan di bulan-bulan tersebut lebih besar akibatnya, begitupun amal shaleh yang dikerjakan di bulan-bulan haram lebih tinggi pahalanya. 

Perpindahan dari bulan Syawal ke bulan Dzulqa’dah ini adalah momentum yang mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan. Maka dari itu, mari kita tutup bulan Syawal dengan kebaikan dan kita sambut Dzulqa’dah dengan kesungguhan niat untuk memperbaiki ibadah dan memperbanyak amal shalih. Sebagaimana pesan KH. Ahmad Dahlan: 

“Hidup harus dengan ilmu, berjuang dengan iman, dan beramal dengan ihsan.”

Semoga Allah memberi kekuatan dan selalu meridhai kita untuk tetap istiqamah dan meraih kemuliaan di bulan-bulan-Nya. 

Wallahu a’lam bish-shawab

 

Oleh: Alin Safaraz Himam, S.Pd., M.Pd. / Dosen PBA UMP