Di antara keistimewaan Ramadan, ada satu malam yang nilainya melampaui seluruh hitungan manusia: Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 1-5, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan…” Ayat ini menunjukkan betapa luar biasanya malam tersebut; ibadah pada satu malam itu lebih baik daripada ibadah selama sekitar 83 tahun. Bagi seorang muslim, Lailatul Qadar bukan sekadar malam untuk dicari, tetapi momentum untuk memperbarui iman, membersihkan hati, dan mendekat lebih intim kepada Allah. Di tengah kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk, malam ini menjadi ruang sunyi untuk berdialog dengan langit, saat seorang hamba meletakkan segala luka, harapan, dan taubatnya di hadapan Rabb-nya.
Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana menyambut Lailatul Qadar dengan kesungguhan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh beribadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” Ini menunjukkan bahwa mengejar Lailatul Qadar bukan amalan pasif, tetapi membutuhkan mujahadah, keseriusan spiritual. Bahkan Rasulullah menganjurkan mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Sayyidah Aisyah r.a. pernah bertanya, “Ya Rasulullah, jika aku menjumpai Lailatul Qadar, doa apa yang aku baca?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku). Doa ini menunjukkan bahwa inti malam itu bukan sekadar memperbanyak amal, tetapi meraih ampunan Allah.
Para sahabat dan ulama salaf memberi teladan luar biasa dalam memuliakan malam ini. Dikisahkan, Imam Syafi’i dan Imam Malik memperbanyak tilawah, qiyam, dan mengurangi urusan dunia ketika sepuluh malam terakhir tiba. Mereka memahami bahwa mungkin inilah malam yang menentukan nasib seorang hamba. Umar bin Abdul Aziz bahkan mematikan urusan administratif negara di malam-malam itu agar fokus beribadah. Ada hikmah besar di sini: orang-orang saleh memandang Lailatul Qadar bukan hanya kesempatan mendapat pahala, tetapi malam transformasi jiwa. Di zaman sekarang, saat banyak orang justru sibuk dengan belanja Lebaran, scrolling media sosial, atau mengejar rutinitas dunia di penghujung Ramadan, semangat mengejar Lailatul Qadar menjadi refleksi: jangan sampai kita kehilangan malam terbaik karena sibuk dengan hal-hal yang fana.
Lailatul Qadar sejatinya mengajarkan bahwa perubahan besar sering lahir dari malam-malam sunyi yang dipenuhi doa. Bisa jadi satu sujud di malam itu mengubah hidup seseorang, satu taubat diterima, satu doa dikabulkan, atau satu air mata penyesalan menjadi sebab keselamatan dunia akhirat. Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Jangan remehkan satu malam yang Allah muliakan, karena bisa jadi keselamatanmu ada di dalamnya.” Maka, mengejar Lailatul Qadar bukan sekadar tradisi Ramadan, tetapi latihan menjadi hamba yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Mari isi malam-malam akhir Ramadan dengan qiyamul lail, tilawah, istighfar, dan doa-doa terbaik. Sebab kita tidak tahu, mungkin Ramadan ini adalah kesempatan terakhir kita, dan mungkin di salah satu malam itu Allah sedang menyiapkan takdir terbaik bagi hidup kita.
Penulis: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.




