MEMAAFKAN ORANG YANG TIDAK TAHU

Islam memiliki misi yang mulia untuk manusia. Misi tersebut adalah melakukan perbaikan (islah) dengan kasih sayang (rahmat). Firman Allah dalam Al-Qur’an telah memberikan pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan misi dakwah penuh rahmat ini. Begitu pun dengan utusan-Nya yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah memberi keteladanan sikap dalam membawa misi baik Islam kepada manusia.

Umat Islam telah diperintah untuk memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain, tak terkecuali kepada orang-orang yang belum menerima ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (al-A’raf: 199)

Dalam kisah para nabi terdahulu diceritakan, bahwa tatkala umat-umat yang diutus kepada mereka nabi dan rasul itu membangkang, Allah bertitah kepada para nabi dan rasul untuk memaafkan mereka, sebagaimana firman-Nya, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (al-Hijr: 85)

Allah tetap meminta hamba-Nya yang berdakwah untuk berlapang dada, dan tidak membiarkan mereka mengeluh, mencaci, dan merendahkan orang-orang yang menolak agama Allah. Di antara tujuan dan hikmah Allah memerintahkan demikian adalah untuk menunjukkan ke-rahmat-an Islam, seperti halnya Nabi kita Muhammad diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Nabi Muhammad sebagai penyampai risalah, telah memberi kita teladan. Kisah keluhuran akhlak Nabi Muhammad ketika beliau menemui penolakan dalam dakwah banyak kita temukan. Salah satunya apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ceritakan kepada Aisyah RA, istri beliau, tentang perkara yang lebih berat bagi beliau dari saat perang Uhud.

Nabi menceritakan, sebagaimana dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim, ketika itu beliau mendapat penolakan dakwah yang pedih di daerah Thaif. Beliau dicaci dan dilempari batu oleh penduduk di sana. Setelah itu Allah mengutus seorang malaikat penjaga gunung agar Nabi meminta melakukan apa yang beliau butuhkan saat itu, yakni menghancurkan daerah tersebut beserta penduduknya.

Mendengar tawaran tersebut tidak membuat Nabi Muhammad meluapkan kekesalannya. Beliau memilih untuk memaafkan penduduk Thaif, serta berharap kepada Allah supaya Allah mengampuni mereka, dan bahkan mendoakan agar di antara penduduk Thaif ada yang beriman kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya.

Inilah contoh langsung dari Nabi Muhammad untuk kita amalkan. Meskipun cobaan dakwah kita tidak sama dengan apa yang dialami Nabi dan para sahabatnya, namun umat Islam perlu membudayakan sikap memaafkan siapa-siapa yang menolak dan tidak tahu tentang agama. Ini adalah ajaran Islam dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selaras dan harmoni. Syaikh Wahbah az-Zuhaili mengatakan, “Al-Qur’an dan Sunnah berjalan harmonis. Al-Qur’an memberikan petunjuk, sunnah Nabi yang menunjukkan bagaimana praktiknya.” (Akhlak Muslim)

Mengenai makna ayat Jadilah pemaaf pada surah al-A’raf, Syaikh as-Sa’di memberi penafsiran bahwa memberi maaf adalah pedoman dalam bergaul dengan manusia. Beliau mengatakan, “Yakni maafkanlah perangai yang orang lain sukai, serta berbagai perbuatan dan akhlak yang mereka mudah melakukannya. Janganlah membebani mereka dengan apa yang tidak sesuai dengan tabiat mereka. Akan tetapi hendaknya berterima kasih kepada setiap orang atas perbuatan dan ucapan baik dari mereka. Serta hendaknya memaklumi kelalaian dan memaafkan kekurangan mereka.” (Tafsir as-Sa’di)

 Sudah menjadi keumuman, bahwa kemampuan dan keadaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang sudah memiliki perangai yang baik, dan ada juga yang butuh pendidikan akhlak lebih lama. Ada yang mudah menyerap ilmu, dan ada juga yang tingkat pemahamannya kurang. Ada yang dapat langsung menerima nasihat dan dakwah, ada pula yang membutuhkan pendekatan berbeda. Jika setiap orang dapat memahami dan berempati atas apa pun keadaan orang lain, maka perintah Allah dalam ayat 199 surah al-A’raf tentang menjadi pemaaf akan dapat dipenuhi.

Ke-rahmat-an Islam dapat diwujudkan dengan menahan ekspektasi dan beban kepada orang lain. Tidak mungkin semua orang sama derajat penerimaan, kepandaian, dan pemahamannya. Rendahkanlah hati kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Janganlah seseorang merasa lebih baik dari selainnya, hanya karena mereka tidak lebih tahu, tidak lebih pintar, atau tidak lebih sholeh dari dirinya.

Syaikh as-Sa’di menambahkan, “Hendaknya seseorang tidak  menyombongkan diri kepada yang lebih kecil karena kecilnya, atau kepada orang bodoh karena kebodohannya, atau kepada orang miskin karena kemiskinannya. Akan tetapi bergaul lah dengan semuanya dengan lemah lembut dan perlakuan yang sesuai dengan kondisi, dan dada yang lapang.”

Sikap memaafkan dan tidak membebani orang lain dengan ekspektasi kita dapat diterapkan tidak hanya dalam dakwah dan nasihat, namun juga di keseharian kita.  Berharap orang lain sama dengan kita adalah sikap kurang adil dan bijak, serta merupakan pangkal kekecewaan. Maka dari itu kita perlu mengedepankan sikap memahami, memaafkan, dan berempati. Baru setelahnya kita dapat berinteraksi dengan mereka lebih adil tanpa kekesalan. Sebagaimana lanjutan ayat, Dan perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (al-A’raf: 199)

Allah menyuruh kita untuk berpaling dari orang-orang bodoh dan tidak membalas kebodohannya, setelah kita mengajak mereka kepada kebaikan. Gangguan kebodohan adalah suatu keniscayaan, maka kita diminta agar menyikapinya dengan tidak melakukan kebodohan lain. Siapa saja yang menyakiti kita dengan ucapan atau perbuatannya, maka janganlah kita balas menyakiti. Jika ada yang menzhalimi kita, maka kuatkan hati dan bersikap adil lah kepadanya. Luapkan emosi dengan cara yang baik. Tunjukkan bahwa kita berusaha menjadi rahmat, bukan seperti mereka.

Sikap ini bagi orang beriman dijanjikan oleh Allah ampunan dan kasih sayang-Nya. Allah berfirman, Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (an-Nur: 22)

Penulis: Irham M Azama, Lc.,M.A.