Suatu hari saat kota Madinah yang tenang, tiba-tiba terdengar gagap gempita seperti rombongan pawai yang tidak putus-putus, sampai semua orang keluar dari rumah dan bertanya “Apa ini? siapa yang datang?” lalu seseorang berkata kepada Aisyah ra. “Itu adalah 700 kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf”. Maka Aisyah pun berkata “Aku teringat dengan perkataan Rasulullah, Abdurrahman bin Auf memang dijamin masuk surga bersama sahabat lain, namun ia masuk surga dengan keadaan merangkak”.
Abdurrahman bin Auf merupakan entrepeneur yang sangat sukses. Namun sebenarnya ia sangat ingin miskin bahkan sering berdoa, “Jadikan aku ini miskin, Ya Allah”. Setiap hari ia gundah, “Kenapa bisnis saya maju terus ya?” kira-kira begitulah. Setelah terus bersedekah, terus menghabiskan keuntungan demi islam, hartanya justru terus bertambah. Masyaallah, orang lain mau kaya, eh ia malah mau miskin, dan kenyataannya bisnisnya semakin maju, dan ia selalu gagal miskin.
Menurut riwayat, ia sering menangis ketika makan, karena ia takut bila meninggal dalam keadaan kenyang, sedangkan ada kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan lapar dan tidak punya harta apa-apa. Ia sering menangis kalau ingat hal itu, dan kembali berdoa supaya jadi miskin.
Usaha yang dilakukan untuk menjadi miskin itu banyak sekali. Ia pernah menjual tanah dan membagi-bagikan hasilnya kepada seluruh warga Bani Zahra, kalangan ibu-ibu muslim, dan orang-orang muslim yang miskin. Pernah juga ia memberikan 500 kuda dan 1.500 unta untuk keperluan umat Islam. Namun apa daya, ia masih tetap sulit miskin.
Ada satu cerita yang menarik tentang kegagalan miskinnya Abdurrahman bin Auf. Kondisinya saat itu sehabis perang, dan ia bingung, mau diapain lagi harta ini di jalan Allah?. Namun karena perang itulah, kurma-kurma milik sahabat Nabi dan masyarakat setempat menjadi busuk. Karena busuk, mereka tidak bisa menjual kurma. Abdurrahman merasa bahwa ia harus menolong mereka. Ia ingin membantu dengan cara membeli kurma tersebut, maka semuanya dibeli oleh Abdurahman bin Auf dengan harga normal.
Awalnya Abdurahmman bin Auf senang karena hartanya telah dipakai untuk kebaikan, dan karena sekarang ia kemungkinan akan miskin. Jika ia jual kurma-kurma busuk ini, kan tidak akan laku. Maka bahagialah Abdurrahman bin Auf saat itu. Karena salah satu cita-citanya: menjadi miskin, bisa segera terwujud. Namun ternyata, tiba-tiba di negara Yaman sedang terjadi wabah, dan obatnya adalah kurma busuk. Maka perwakilan raja Yaman datang mencari-cari kurma busuk. Ketika sampai di sana, bertanyalah orang Yaman itu: “Siapakah yang punya kurma busuk di sini, saya akan membelinya dengan harga sepuluh kali lipat.” Karena semua kurma busuk telah dibeli oleh Abdurrahman bin Auf, maka serempak semua warga menjawab: “Abdurrahman bin Auf”. Orang-orang Yaman mendatanginya dan membeli semua kurma tersebut dengan harga sepuluh kali lipat. Bahkan dikasih gratis pun, orang-orang Yaman tak mau karena ini adalah perintah rajanya. Niat awal ingin bangkrut dan miskin, eh malah laku dengan harga sepuluh kali lipat. Abdurrahman bin Auf langsung kaya raya lagi, dan bersedih kembali karena gagal miskin berulang kali.
Nah, hal ini kelihatan beda banget kan sama kita. Kalau kita inginnya kaya, tiap waktu tuh rasanya aset harus bertambah. Selalu bingung bagaimana caranya agar tidak bangkrut, dan tidak miskin. Kalau untung terus, merasa senang, tapi sulit terus buat kaya, sulit terus biar gak miskin, sulit terus biar untung. Sementara Abdurrahman bin Auf inginnya jadi miskin. Selalu bingung kenapa bisnisnya maju terus. Kalau untung terus, merasa sedih dan menangis, tapi selalu digampangkan buat kaya oleh Allah SWT, bahkan selalu gagal miskin.
Abdurrahman bin Auf memang salah satu sahabat Nabi, tapi kita harus ingat, bahwa beliau juga manusia biasa seperti kita semua. Ingatlah Ar-Ra’du ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.. Intinya Allah tidak akan mempermudah, kalau tidak ada yang namanya usaha. Jadi meski bergelar sahabat nabi pun, Abdurrahman bin Auf takkan semata-mata kaya hanya karena itu.
Dalam bisnis, kita gak bisa ujug-ujug kaya, ujug-ujug dapat pembeli, pasti ada actionnya. Sama juga seperti Abdurrahman bin Auf. Dalam setiap bisnisnya, pasti ada yang namanya strategi, ada mental pebisnis, ada sikap-sikap pengusaha yang sangat kuat dalam diri Abdurrahman bin Auf, sehingga apapun itu dia bisa sangat kaya. Sebagai entrepeneur muslim, sudah seharusnya kita mengidolakan Abdurrahman bin Auf, setelah Nabi Muhammad SAW. Jangan hanya mengidolakan pebisnis-pebisnis luar: Jack Ma, Ellon, Jeff Bezos, dll. Harusnya kita mengidolakan, meniru, mengambil hikmah dan ilmu bisnis dari Abdurrahman bin Auf.
Kisah bisnis Abdurrahman bin Auf mengajarkan kepada kita semua bahwa modal dasar kesuksesan seorang pengusaha adalah kejujuran serta kepercayaan. Kerja keras dan kerja cerdas dapat memastikan keberhasilan, namun giving atau sedekah dapat memudahkannya.


