EVALUASI DAN KOORDINASI GERAKAN JAMAAH DAKWAH JAMAAH

0-2976x3968-0-0#

Notulensi GJDJ 8 Rabi’ul Akhir 1446 H/11 Oktober 2024

Ustadz Ibnu Hasan | Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng

Pemahaman tentang GJDJ=> setuju dengan ust Asep, jalan dulu sembari dibetulkan pemahamannya.

GJDJ: bukan Gerakan mingguan, bulanan, atau tahunan, tapi Gerakan yang setiap saat.

GJDJ sudah dirumuskan sejak 1968, direvitalisasi 1985, tapi masih belum berjalan sampai saat ini.

Cerita di Wangon, jama’ah yang numpang di masjid keluarga, kemudian terusir, akhirnya membangun masjid sendiri, minta pak Ibnu untuk meresmikan. Singkat cerita dikelola untuk GJDJ, diberi pelatihan 1 hari, akhirnya sampai sekarang kegiatan berjalan, sholat penuh, kajian penuh, kemudian merambat ke usaha-usaha, peternakan lele, pertanian, melon hidroponik, dll. Dua tahun berjalan, masjidnya ikut lomba, menang, sekarang jadi masjid dan ranting yang pertama menjalankan GJDJ.

GJDJ itu sudah ada garis besarnya, hanya saja menterjemahkannya ke dalam kegiatan operasional hingga saat ini itu belum banyak.

Memahami GJDJ itu dari QS 8:65 => Jika 10% jama’ah kader/anggota inti: kurang ideal

  • Kalo ada 20 orang, bisa menghadapi 200 orang. Kalo ada 100 orang, bisa menghadapi 1000 orang. Artinya 1:10, tapi ini kurang ideal.
  • Katakanlah tendik dan dosen UMP itu ada 800, maka minimal 80-nya adalah kader.
  • Maka, di QS 8:66, maka Allah mengubah, 100 orang mengalahkan 200 orang, artinya 50%.
  • Kalo yang bergeraj hanya LPPI, BPH, maka tidak akan selesai meng-Islamkan UMP.
  • GJDJ itu Gerakan berbasis masjid, kalo hanya masjidnya saja, maka tidak akan selesai.
  • Maka Gerakannya adalah Gerakan Jama’ah.
  • Ideal: 50% jama’ah kader/anggota inti

Belajar dari sejarah: Kenthongan K.H. Ahmad Dahlan dan Gerakan Infak Pendidikan 500 Golden

  • H. Ahmad Dahlan memukul kenthongan ‘titir’, kemudian warga berbondong-bondong datang ke rumah K.H. Ahmad Dahlan. Kemudian beliau mengumumkan bahwa kas Muhammadiyah kosong. Beliau mengumumkan bahwa rumahnya akan dilelang. Kemudian karena warga tidak membawa uang, mereka pulang dan kembali lagi membawa uang. Kemudian warga menyerahkan uangnya tanpa membawa barang-barang yang dilelang. Target 500 golden, terkumpul 4.000 golden.
  • Pelajaran yang dapat diambil: 3J, Kekuatan JAMA’AH, JAM’IYAH, dan JARIYAH.
  • Yang akan dibangun melalui GJDJ adalah 3J ini.

GJDJ adalah Gerakan dakwah pemberdayaan jama’ah berbasis kampus. Karena kita ketemunya di kampus, maka berbasis kampus.

Mengapa berpusat pada Jama’ah:

  1. Jama’ah adalah asset termahal
  2. Dakwah yang berpusat pada jama’ah itu lebih dinamis dan tahan lama
  3. Mengubah jama’ah dari pasif ke aktif

Mengapa pemberdayaan?

  1. Dakwah kemandirian
  2. Syarat kemajuan Gerakan
  3. Jama’ah terpantau, terbina secara optimal => jadi tahu jika jama’ah ada yang kekurangan.

Unit GJDJ itu maksimal baiknya 10, jadi unit yang besar itu bisa dipecah.

Diperlukan pelatihan:

Materi pelatihan bagi Pamong/ Ketua kelompok:

  1. Fiqh GJDJ
  2. Dinamika kelompok
  3. Teknik motivasi => ketua punya tugas memotivasi anggota untuk dinamis

Aspek-aspek pemberdayaan:

  1. Gerakan shalat berjama’ah. | ada pegawai UMP yang aneh-aneh, ada yang kalo adzan, malah pergi, pulang, jam 1 datang lagi. Hal-hal seperti inilah yang menjadi focus pemberdayaan gerakan
  2. Gerakan pengajian. | yang belum bisa ngaji, dituntaskan. Yang belum bisa sholat, ngaji.
  3. Gerakan zakat, infak, dan sedekah. | zakat sudah ke lazismu meskipun belum optimal. Yang sudah dizakatkan baru gaji pokok. Sertifikasi, tunjangan, dll, belum tahu kemana, entah zakat kemana. Zakat pegawai UMP itu sebulan 45 juta. Dana zakat, infak, sedekah itu untuk pemberdayaan jama’ah.
  4. Aksi sosial berbasis kelompok.

UMP adalah satu-satunya kampus yang memproklamirkan dakwahnya melalui GJDJ.

Pertanyaan:

  1. Bruri

Di asrama itu menerapkan QS 8:65, yang 1:10, 1 orang memegang 20 anak, musyrif yang sekarang itu mahasiswa magang. Untuk sekarang musyrifnya masih meunggu mahasiswa kader yang lulus. Di asrama menggunakan kurikulum beasiswa kader yang dijalankan selama 3 tahun. 1 tahun di asrama, 1 tahun di LPPI, 1 tahun di BKA. Harusnya setelah 3 tahun itu ada wisuda. Usulannya, setiap Pembina memiliki buku panduan selama 1 tahun.

  1. Perwakilan WD 3 FEB

Sejak ada GJDJ, belum ada pengajian bulanan yang melibatkan seluruh pegawai. Pertanyannya apakah pengajian bulanan itu akan tetap diadakan? Karena pegawai butuh ajang bersilaturahmi sesame pegawai dan kader. Pertanyaan kedua, untuk kelompok idealnya adalah 10-15, di FEB itu kalo tendik mungkin bisa jadi 1 kelompok, tapi kalo dosen itu ada 50, jadi mungkin yang lebih tepat memplotting adalah dari pimpinan fakultas. Untuk itu, mungkin bisa diadakan surat edaran untuk mengeksekusi pembentukan kelompok-kelompok tersebut.

  1. Itsna

Terkait materi yang disampaikan ust Bruri, yang sebaiknya distandarkan, materinya itu dari PHIWM dan HPT. Materi HPT dihilangkan karena butuh tafsiran. Jadi, materinya ditentukan per-minggunya atau disesuaikan dengan kondisi masing-masing unit? Apakah sebaiknya ada silabus tertentu atau diserahkan pada unit terkait materi yang didiskusikan.

Jawaban:

Kalo mau mencermati jaman K.H. Ahmad Dahlan itu ada pengajian ‘kulakan’dan ada pengajian per-unit. Jadi pengajian ‘kulakan’ itu pembinanya ‘kulak’ materi untuk disampaikan di unit masing-masing. Jadi, nanti materiya seragam. Konsep ini diterapkan oleh PKS, ada liqo’-liqo’. Ketika dibentuk, kelompoknya itu variatif. Jadi, dosen itu anggota juga, jadi isinya variatif, bisa campuran tendik dan dosen. Harapannya konsep GJDJ ini juga diterapkan di mentoring mahasiswa. Modelnya bertahap, jadi laporanya itu formatnya disesuaikan, misalnya minggu ini fokusnya di shalat berjama’ah, zakat, ngaji. Nanti dilaporkan setiap minggu yang sudah shalat berjama’ah berapa, yang sudah zakat berapa, yang sudah lulus TBA berapa.

Tambahan Ust Asep:

  • Konsep di GJDJ, selain jama’ah, ada kata kunci lain, yakni berantai. Maksudnya kalo di masjid itu ada jama’ah, maka tidak berhenti di jama’ah tersebut. Tapi jama’ah taersebut dijadikan ketua untuk mengurus jama’ah nya juga. Seperti sistem MLM. Konsep ini diterapkan oleh Rasulullah dengan pusat pembinaannya itu di Rumah Arqam bin Abil Arqam.
  • Menegaskan dengan adanya GJDJ berbasis unit, bukan berarti pengajian yang bersifat umum tidak berjalan, jadi tetap berjalan. Seperti yang disampaikan pak Ibnu, ada habituasi, pembiasaan. Jadi kalo jum’at pagi itu mahasiswa mentoring, dosen dan tendik itu ada GJDJ. Untuk sekarang seminggu sekali dulu, kedepannya mungkin bisa ditingkatkan. Tapi perlu diperhatikan aspek kejenuhan. Kalo di FKIP, sudah dibentuk kelompok-kelompok kecil. Kalo dosen mungkin lebih mudah dikondisikan di prodi. Tapi kalo tidak seperti itu pun tidak apa-apa. Terkadang kita terjebak difokus pembuatan panduan, tapi pelaksanaannya belum jalan. Untuk panduan sudah ada, jadi sambal jalan, permasalahannya kadang adalah di pencarian anggarannya. Yang penting sudah berjalan, persoalan belum jalan, itu nanti diperbaiki sambil jalan.
  • Pedoman perlu segera dituntaskan. Terkait fiqh GJDJ dan lain lain nanti kita persiapkan.

Pengajian bulan ini: 25 Oktober 2024

Untuk bulan November in syaa Allah Ustadz Abdul Muthi yang akan diundang, tapi kalo tidak bisa mungkin akan mundur.

Di beberapa unit mungkin terkendala anggaran, karena kalo pengajian LPPI itu ada konsumsinya, kalo di unit ada atau tidak?

  • Ini yang kadang menjadi miskonsepsi, anggapannya GJDJ itu pasti kajian, pengajian di unit, padahal sholat dhuha saja sudah GJDJ, tadarus Bersama, dzikir pagi Bersama, itu saja sudah GJDJ. Pembina atau ketua kelompok harusnya mengetahui latar belakang anggota, yang ngajinya sudah bagus siapa, yang belum biasa. Jadi, ketua bisa menggerakkan anggotanya. Jadi GJDJ itu bisa mulai dari kegiatan kegiatan kecil.