Langit mendung lebih pekat dari biasanya. Azan Asar baru saja berkumandang, namun langit sudah sangat gelap. Angin semilir berhembus, membuat tubuhku yang tidak terbalut mantel bergidik kedinginan. Biasanya suamiku rajin melipat mantel yang aku pakai dan memasukannya ke jok motor. Namun pekan ini sudah dua kali aku pulang kehujanan tanpa menggunakan mantel. Mantelku tertinggal di rumah. Aku merasa suamiku mulai tidak peduli padaku. Banyak hal aneh pada suamiku akhir-akhir ini. Di rumah ia lebih asyik dengan HP-nya. Suamiku juga menjadi semakin pendiam, entah karena apa. Kukayuh slah motorku untuk menyalakannya, perlu ganti accu karena tombol starter sudah tidak berfungsi. Lagi-lagi biasanya suamiku yang rajin membawa motorku ke bengkel. Namun ini sudah lama tidak dilakukannya. Kutarik gas motor menerobos gerimis yang sudah turun sejak zuhur tadi. Tidak begitu deras, tapi tetap saja akan membuatku basah setiba di rumah yang berjarak 30 menit dari kantor tempatku bekerja.
Sore ini aku merasa sangat lelah. Bukan badanku yang lelah, perasaan dan pikiranku yang diaduk-aduk seharian ini. Sejak pagi aku sudah bertengkar dengan suamiku. Entah mengapa tiba-tiba suamiku berkata “Maafkan aku, ya, Bu..”. Aku yang sedang menyetrika seragam, merasa sangat aneh mendengar kata-kata itu. Mengapa suamiku tiba-tiba minta maaf? Kesalahan apa yang suamiku lakukan? Pasti ada yang sedang disembunyikannya. Apa mungkin suamiku punya wanita lain? Terbesit dalam benak ada wanita lain dalam hidup suamiku. Seketika emosiku tersulut. Kucecar suamiku dengan pertanyaan penuh curiga. Namun tak satupun jawaban keluar dari bibirnya. Kehadiran putriku yang akan berpamitan untuk berangkat sekolah sedikit menahanku untuk semakin meluapkan emosi. Sambil mencium tangan santun putriku berkata “Bu, kasihan Bapak, jangan dimarahi terus”. Kalimat yang sebetulnya sudah sering diucapkan putriku, namun mendengarnya pagi tadi membuat emosiku semakin memuncak. Aku merasa putriku lebih sayang pada suamiku dibanding padaku.
Kejadian di rumah ternyata hanya pembuka dari hariku yang buruk. Aku terlambat tiba di kantor. Tidak seperti biasa, mobil Pak Dar atasanku sudah terpakir di sisi kiri gedung kantor. Bila Pak Dar datang pagi, berarti ada sesuatu yang penting untuk diselesaikan. Masuk ruang kerja seluruh anggota unit sudah berkumpul di sana. Aku tidak tahu apa yang sedang dibahas, namun melihat pandangan teman-teman padaku, aku yakin mereka sedang membicarakan aku. Perasaanku semakin tak menentu ketika Pak Dar memintaku untuk menghadap selesai pertemuan. Benar saja, aku ditegur karena kinerjaku yang buruk. Ini pasti karena teman-teman mengadu. Lili yang aku yakini menjadi dalangnya. Pak Dar sangat sibuk dan jarang berada di kantor. Tentu Pak Dar tidak bisa mengawasi pekerjaku setiap hari. Aku dan Lili adalah teman satu angkatan tapi kami sulit untuk bekerja sama. Sejak awal aku merasa Lili tidak menyukaiku. Ya, aku yakin sekali Lili yang mengadukanku pada Pak Dar. Aku kecewa pada Pak Dar yang begitu mudah dihasut oleh bawahannya.
Jalanan selalu padat pada jam pulang kantor. Waktuku untuk sampai rumah akan semakin panjang bila turun hujan seperti sekarang ini. Riuh rintik gerimis yang menghantam helm menambah ribut isi kepalaku. Pikiranku bergelut mengingat satu persatu kejadian sejak pagi. Aku ingin menangis. Mengapa orang-orang di sekitarku seperti membenciku. Suami, anak, teman, atasan, semua memusuhiku. Suamiku yang dulu penuh perhatian, sekarang jarang menghubungi ketika jam kerja. Pulangpun semakin larut malam. Kalau dulu sebelum magrib sudah tiba di rumah, sekarang selalu lewat pukul 8 malam, lembur katanya. Putriku yang dulu banyak bercerita padaku, kini lebih sering memilih berdiam di kamar. Mungkin dia marah karena aku melarangnya untuk terlalu aktif berorganisasi. Memang sebentar lagi putriku akan mengikuti UTBK masuk perguruan tinggi dambaannya, tapi apa semua waktunya hanya untuk belajar, tidak adakah waktu untuk ibunya ini? Hatiku sakit mengingat tidak ada lagi yang peduli padaku. Teman-teman di kantor tidak jauh berbeda. Mereka selalu berbisik-bisik membicarakan aku. Apa yang mereka bicarakan tentangku, aku tidak tau.
Tiba di perempatan Hotel Aston hujan turun semakin deras. Aku berhenti lebih lama karena terkena dua kali lampu merah. Sekarang posisiku tepat di belakang mobil L300. Meski tidak terlalu jelas, aku masih bisa melihat stiker yang tertempel di kaca belakang mobil itu. Ada lingkaran warna merah dengan tulisan “su’udzon” yang dicoret merah. Berulang kali aku membaca tulisan itu. Aku pahami artinya prasangka buruk. Aku ingat sekali pesan almarhumah simbok yang diucapkan ketika aku mempertanyakan nasib keluargaku yang menurutku tidak sebaik keluarga yang lain “Jangan suka su’udzon Nduk…, jangan su’udzon sama Allah, jangan su’udzon sama hamba-Nya”. Simbok melanjutkan dengan nasihat panjang yang cukup menyadarkanku. Sejak hari itu aku belajar husnudzon. Aku belajar menerima dan berpikir baik semua yang ditakdirkan Allah untukku. Meski tidak mudah, pesan simbok ini selalu berusaha aku praktekan hingga hari ini.
Mengingat simbok hatiku selalu nelangsa. Air mataku mulai mengalir. Bagiku simbok adalah pahlawan. Simbok wanita perkasa. simbok membesarkanku seorang diri setelah bapak meninggal ketika aku berusia tiga tahun. Tiba-tiba aku sangat rindu pada simbok, orang yang kasihnya tidak pernah habis untukku. Berharap sedikit menenangkan hati, mulutku berucap seperti berbicara dengan simbok “Nggeh Mbok, Nana tidak akan su’udzon sama Allah. Nana tau Allah Maha Baik, takdir Allah yang terbaik buat Nana, Nana mboten su’udzon sama Allah, Nana mboten su’udzon sama.…”. Seketika Bibirku kelu. Bayangan wajah simbok berganti dengan wajah sabar suamiku dan senyum manis putri kesayanganku. Bayangan teman-teman kantor yang dulu sangat dekat denganku seperti slide yang tayang satu-persatu. “Su’udzon…, su’udzon…, ya Allah…, aku su’udzon pada suamiku, aku su’udzon pada putriku, aku su’udzon pada atasan dan teman-temanku. Aku juga su’udzon pada tetangga karena berpikir mereka iri melihat aku membeli kulkas baru. Astaghfirullah…, ampuni hamba ya Allah…
Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Hatiku berkecamuk. Aku malu sekali menyadari bahwa prasangka buruk inilah yang membuat hubunganku dengan keluarga dan orang-orang di sekitarku menjadi tidak baik. Aku sering bermain dengan pikiranku sendiri. Aku berusaha berbaik sangka pada takdir Allah namun aku berburuk sangka pada hamba-Nya. Aku selalu berpikir orang lain buruk namun ternyata aku yang buruk. Aku tidak pernah instrospeksi diri. Su’udzon ini mematikan cahaya hatiku.
Aku ingin cepat sampai rumah. Aku ingin memeluk putriku dan minta maaf padanya. Aku seharusnya menemani belajar dan tidak mengganggunya dengan prasangka burukku. Aku juga berprasangka buruk pada suamiku. Dalam beberapa bulan suamiku pulang malam, tidak satu kalipun aku membuatkan minuman untuknya setiba suamiku di rumah. Aku berpikir suamiku sudah makan atau jajan bersama teman kantornya dan tidak peduli pada istri dan anaknya di rumah. Nyatanya, akulah yang tidak peduli pada suamiku.
Satu perempatan lagi aku tiba di rumah namun masih harus berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan untuk sedikit menghilangkan beban dan mengurangi sesak di dada. Kulepaskan kedua tanganku dari stang, kuusapkan keduanya untuk sekedar mengurangi rasa dingin. Air mataku masih terus mengalir. Kusapukan pandangan pada orang-orang yang senasib denganku, terjebak hujan karena lampu merah. Pandanganku berhenti pada seorang pria pengendara armada online dengan jaket khas warna hijaunya. Di belakang pria itu duduk seorang penumpang yang aman tertutup mantel, berbeda dengan pria pengendara yang basah kuyup karena hujan yang semakin deras. Aku sangat mengenal pria itu meski jarak kami tidak terlalu dekat. Tapi bukankah seharusnya ia masih berada di kantor tempatnya bekerja sampai pukul 16.30 nanti? Ku picingkan mataku untuk menajamkan pandangan. Aku semakin yakin setelah melihat nomor yang tertulis pada plat kendaraan yang sudah cukup tua itu. Tidak salah lagi, itu suamiku. Hatiku berdetak kencang, ya Rabb…, tanpa disangka pria yang sedang kupandangi menoleh padaku. Mati kami bertemu. Badanku seketika membeku. Mata kami masih beradu. Kulihat ia tersenyum mengambang, senyum yang tidak bisa aku pahami maknanya.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (QS. Al-Hujurat : 12).



