MUHARRAM: MEMULAI TAHUN BARU HIJRIAH DENGAN HIJRAH MENUJU KETAATAN

Datangnya bulan Muharram menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Bagi seorang muslim, pergantian tahun bukan sekadar momentum menghitung bertambahnya usia, melainkan kesempatan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sudah sejauh mana perjalanan iman selama setahun terakhir? Amal apa yang perlu dipertahankan, dan dosa apa yang harus segera ditinggalkan? Semangat inilah yang seharusnya mengiringi datangnya Muharram. Dalam pandangan Islam, tidak terdapat tuntunan khusus untuk merayakan malam pergantian tahun Hijriah dengan ritual tertentu, doa awal tahun, atau perayaan yang tidak dicontohkan Rasulullah saw. Manhaj Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa ibadah harus berdasar pada dalil yang sahih, sehingga momentum Muharram hendaknya diisi dengan memperbanyak amal saleh yang memang memiliki landasan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36). Muharram termasuk salah satu dari empat bulan mulia tersebut, sehingga menjadi waktu yang istimewa untuk meningkatkan ketakwaan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Kemuliaan Muharram juga ditegaskan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa amalan utama yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah memperbanyak puasa sunah, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu’a dan Asyura). Ketika Rasulullah saw. mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa a.s. dari kejaran Fir’aun, beliau bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.” Lalu beliau berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bahkan pada tahun berikutnya Rasulullah berniat menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan tradisi Yahudi. Oleh karena itu, Tarjih Muhammadiyah menganjurkan pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura berdasarkan hadis-hadis yang sahih, bukan dengan ritual-ritual lain yang tidak memiliki dasar yang kuat. Selain puasa, Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, memperbanyak sedekah, menjaga salat berjamaah, memperbaiki akhlak, dan mempererat silaturahmi, karena seluruh amalan tersebut dianjurkan sepanjang waktu dan semakin bernilai ketika dilakukan pada bulan yang dimuliakan Allah.

Semangat Muharram sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari makna hijrah. Meskipun peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah tidak terjadi tepat pada bulan Muharram, para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam karena hijrah merupakan titik balik kebangkitan umat. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari kehidupan yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang dipenuhi ketaatan. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Al-Bukhari). Inilah hijrah yang relevan sepanjang zaman. Umar bin Khattab ra. sendiri memberikan teladan sebagai pemimpin yang selalu mengevaluasi dirinya. Ungkapan beliau yang terkenal, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab,” menjadi nasihat yang sangat tepat untuk menyambut Muharram. Pergantian tahun hendaknya menjadi saat untuk menyusun target ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak amal kebajikan, serta meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini menghambat kedekatan kepada Allah Swt.

Menariknya, semangat Muharram juga mengingatkan kita pada pelajaran besar yang telah ditempa selama Ramadan. Ramadan mendidik umat Islam agar mampu mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, mencintai Al-Qur’an, dan membiasakan diri melakukan amal saleh. Namun, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari semaraknya ibadah selama satu bulan, melainkan dari kemampuan menjaga istiqamah setelahnya. Muharram menjadi salah satu momentum terbaik untuk membuktikan bahwa pendidikan spiritual Ramadan masih membekas dalam kehidupan seorang muslim. Jika setelah Ramadan seseorang tetap menjaga salat tepat waktu, gemar membaca Al-Qur’an, rajin bersedekah, berpuasa sunah, dan menjaga lisannya dari dusta maupun ghibah, maka itulah tanda bahwa Ramadan telah melahirkan pribadi yang bertakwa. Karena itu, marilah kita menyambut Muharram bukan dengan euforia yang berlebihan, melainkan dengan hati yang penuh syukur, tekad untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, serta semangat mengisi hari-harinya dengan amal-amal yang sesuai tuntunan Rasulullah saw. Semoga setiap lembaran baru di tahun Hijriah menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah, semakin bermanfaat bagi sesama, dan kelak termasuk golongan hamba yang beruntung di dunia maupun di akhirat.

 

Penulis: Bayu Dwi Cahyono