Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang perjalanan ruhani menuju derajat takwa. Menariknya, ketika sebagian orang justru mulai lelah di penghujung Ramadan, Rasulullah SAW justru semakin meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir. Inilah fase puncak dari madrasah Ramadan, masa memanen rahmat, ampunan, dan peluang bertemu Lailatul Qadar. Sayyidah Aisyah r.a. meriwayatkan, “Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberi pesan bahwa sepuluh malam terakhir bukan waktu untuk melonggarkan ibadah, tetapi justru momentum meningkatkan kualitas kedekatan dengan Allah. Dalam kehidupan hari ini, ketika banyak orang sibuk dengan persiapan hari raya, belanja, dan rutinitas duniawi, pesan ini terasa sangat relevan: jangan sampai kita sibuk menyambut Idulfitri, tetapi lalai dari puncak kemuliaan Ramadan.
Menghidupkan sepuluh malam terakhir berarti mengisi malam dengan ibadah yang bermakna: qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dzikir, istighfar, dan doa-doa terbaik. Allah memberi isyarat agung tentang keutamaan malam-malam ini melalui firman-Nya dalam QS. Al-Qadr ayat 3, “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” Bayangkan, satu malam bernilai lebih baik daripada ibadah lebih dari delapan puluh tahun. Karena itu para ulama menegaskan bahwa orang yang meremehkan malam-malam ini sejatinya sedang kehilangan peluang besar yang mungkin tidak akan terulang. Imam Ibn Rajab berkata, “Barang siapa tidak mampu berlomba di awal Ramadan, hendaklah ia menebusnya di akhir Ramadan.” Ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir adalah ruang perbaikan bagi siapa pun yang merasa ibadahnya belum maksimal.
Rasulullah SAW dan para sahabat memberi teladan luar biasa dalam memuliakan malam-malam ini. Nabi bukan hanya menghidupkan dirinya dengan ibadah, tetapi juga membangunkan keluarganya, menunjukkan bahwa keberkahan Ramadan seharusnya dirasakan bersama. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib dikenal memperpanjang qiyam dan memperbanyak tilawah di malam-malam akhir Ramadan. Bahkan Utsman r.a. diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat qiyam. Keteladanan ini bukan untuk membuat kita minder, tetapi untuk menginspirasi bahwa kesungguhan spiritual selalu melahirkan kemuliaan. Dalam konteks sekarang, menghidupkan sepuluh malam terakhir bisa dimulai dari hal sederhana: mengurangi waktu bermain media sosial, memperpanjang shalat malam, lebih banyak beristighfar, dan meluangkan waktu berkhalwat dengan Al-Qur’an.
Pada akhirnya, menghidupkan sepuluh malam terakhir bukan sekadar memperbanyak aktivitas ibadah, tetapi menghidupkan hati yang mungkin lama lalai. Bisa jadi satu doa di sepertiga malam terakhir mengubah hidup kita. Bisa jadi satu sujud panjang menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa kita. Bisa jadi satu malam yang kita jaga dengan ikhlas menjadi malam bertemu Lailatul Qadar. Hasan Al-Bashri pernah berpesan, “Perbaikilah yang tersisa, niscaya Allah akan mengampuni yang telah berlalu.” Betapa indah pesan ini. Maka jangan biarkan akhir Ramadan berlalu biasa saja. Jadikan sepuluh malam terakhir sebagai ruang taubat, ruang harap, dan ruang cinta kepada Allah. Karena sering kali, keberkahan terbesar justru Allah letakkan di penghujung perjuangan.
Penulis: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.



