Khauf (rasa takut kepada Allah swt) adalah cambuk Allah swt untuk menggiring hamba-hambaNya menuju ilmu dan amal agar mereka mendapatkan kedekatan dengan Allah swt. Khauf inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan. Rasa takut kepada Allah SWT yang tertanam dalam diri setiap hamba adalah benih dari perjalanan sebuah proses keimanan, dimana pokok-pokok ibadah telah dijalankan dengan baik dan sempurna. Ada tiga pokok ibadah yang tidak boleh lepas apalagi ditinggalkan oleh manusia dalam pengabdiannya kepada Sang khalik. Hati selalu berzikir, lidah menyampaikan nasihat dan kebenaran dan tubuh sebagai pelaksana dari amal-amal shalih untuk mencapai keridhaan dan menghadirkan cinta-Nya. Kekurangan Khauf akan mengakibatkan kealpaan dan keberanian untuk berbuat dosa. Sebaliknya terlalu berlebihan dalam Khauf akan menyebabkan putus asa-putus harapan. Khauf kepada Allah swt bisa lahir dari ma’rifah kepada Allah swt dan ma’rifah kepada sifat-sifatNya. Khauf bisa juga lahir dari perasan banyaknya dosa yang telah diperbuat oleh seorang hamba. Juga terkadang Khauf lahir dari keduanya.
Imam As-Sya’biy pernah diseru “Hai ‘alim (orang yang berilmu)!”, beliau berkata, “Sesungguhnya yang ‘alim itu hanyalah yang takut kepada Allah. Hal itu karena Allah berfirman,”Hanya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama”. (QS : Fathir : 28) Orang yang takut kepada Allah swt bukanlah hanya orang yang menangis dan bercucuran air matanya. Tetapi ia adalah orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang ia khawatirkan hukumannya.
Imam Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada Allah?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan diri (dari berbagai hal ) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”
Imam Abul Qasim al-Hakim bertutur, “Siapa yang takut terhadap sesuatu ia akan lari darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Allah ia justru lari untuk mendekatinya.”
Imam Fudlail bin ‘Iyadl berujar,”Jika kamu ditanya, ‘Apakah kamu takut kepada Allah?’, maka diamlah, jangan menjawab! Sebab jika kamu jawab ‘ya’, kamu telah berdusta. Sedangkan jika kamu jawab ‘tidak’, maka kamu telah kafir!!!”
Khauf akan membakar syahwat yang diharamkan, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai menjadi dibenci. Seperti madu, orang yang suka pun menjadi tidak suka jika tahu madu itu mengandung racun. Syahwat terbakar oleh khauf. Anggota badan pun jadi beradab. Dan hati pun diliputi rasa khusyu’ dan tenang, jauh dari kesombongan, iri, dan dengki. Bahkan ia mampu menguasai segala kegundahan dan tahu bahayanya. Maka ia tidak pernah pindah kepada selainNya. Tiada lagi kesibukannya selain usaha mendekatkan diri , muhasabah, mujahadah, dan memperhitungkan setiap desah nafas dan waktunya. Ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah, dan kalimat yang keluar dari dirinya. Keadaannya seperti dalam cengkeraman binatang buas. Ia tidak tahu apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa melepaskan diri, atau sebaliknya ia justru menerkamnya maka hancurlah ia. Lahir dan batinnya disibukkan oleh sesuatu yang ia takutkan, tidak ada tempat bagi yang lain disana.
Keutamaan Khauf yaitu Allah swt menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu, dan keridhoan bagi hamba yang khauf kepadaNya.
Allah berfirman (yang artinya), “Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Rabb mereka (QS. Al-A’raf : 156).”
Allah berfirman (yang artinya): “Allah ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla kepadaNya. Demikian itu bagi siapa saja yang takut kepada RabbNya (QS. Al-Bayyinah:8).”
Allah memerintahkan khauf , dan menjadikannya syarat iman. Dalam firman-Nya “Dan takutlah kalian kepadaKu, jika kalian benar-benar beriman.! (QS. Ali Imran: 175).”
Imam Yahya bin Mu’adz berkata, “Jika seorang mukmin melakukan suatu kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga; takut akan siksa dan harapan akan ampunan.”
Surat Al-Imran ayat 175 menjelaskan bahwa “Sesungguhnya setan itu menakut-nakuti pengikut-pengikutnya maka jangan takutlah kalian kepada mereka tapi takutlah kepadaKujika kalian beriman.” Dalam kehidupan harus memiliki rasa takut salah satunya dalam beribadah, ada dua sifat berlawanan dalam beribadah yaitu rasa cinta dan rasa takut kepada Allah swt yang mana satu dan yang lainnya harus ada dan bersinergi, seperti dalam shalat dilandasi dengan kecintaan kepada Allah swt dan di sisi lain rasa takut apabila ibadahnya tidak diterima oleh Allah swt.
Rasa takut kepada Allah swt merupakan salah satu pilar akidah. Ketahuilah kalian bahwa Allah swt Maha Penyayang, Maha Keras AdabNya, dan Maha Pengampun. Dalam surat Al-Maidah ayat 28 dijelaskan bahwa Allah swt menggabungkan dua sifat bahwa rasa takut harus ada dalam diri seorang hamba. Prasangka Allah swt sama seperti prasangka hambaNya, ketika hambaNya meyakini bahwa Allah swt sangat keras terhadap adabNya maka manusia akan merasa takut jika melakukan laranganNya. Rasa takut kepada selain Allah swt dalam beribadah maka itu merupakan perbuatan musrik atau iri. Rasa takut yang menyimpang akan mengancam tauhid kita kepada Allah swt. Takutlah kalian terhadap satu musibah yang bila musibah itu datang akan menimpa semuanya, tidak hanya kepada orang kafir saja.


