Pendidikan: Ruh Perjuangan Islam yang Dimulai dari “Iqra’”

Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu pengetahuan. Sejak awal turunnya wahyu, Allah Swt. telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah ruh utama dalam perjuangan Islam. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ di Gua Hira bukanlah perintah perang, bukan pula tentang kekuasaan, melainkan kata agung: “Iqra’” bacalah. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…” Ayat ini menjadi penanda bahwa peradaban Islam lahir dari ilmu, literasi, dan proses belajar. Perintah membaca dalam Islam tidak hanya berarti membaca teks, tetapi juga membaca kehidupan, memahami realitas, dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Karena itu, pendidikan dalam Islam bukan sekadar alat mencari pekerjaan, tetapi jalan membangun manusia yang beriman, berilmu, dan beradab.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan utama dalam menjadikan pendidikan sebagai inti perjuangan dakwah. Setelah menerima wahyu, beliau tidak langsung membangun kekuatan politik, tetapi membangun manusia melalui pendidikan iman dan akhlak. Rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam di Makkah menjadi tempat lahirnya generasi awal Islam yang kuat ilmunya dan kokoh keimanannya. Dari tempat sederhana itu lahirlah tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan keberanian moral. Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan bukan pilihan tambahan, tetapi bagian dari ibadah dan tanggung jawab hidup seorang muslim.

Dalam sejarah Islam, ilmu selalu menjadi fondasi kebangkitan umat. Para ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, hingga Ibnu Sina adalah bukti bahwa Islam mendorong umatnya untuk berpikir maju dan terus belajar. Imam Syafi’i pernah berkata, “Barang siapa menginginkan dunia maka dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan akhirat maka dengan ilmu.” Kalimat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci untuk membangun kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dalam konteks sekarang, ketika dunia dipenuhi persaingan global, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat, pendidikan menjadi kebutuhan yang semakin penting. Namun pendidikan dalam Islam tidak cukup hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga harus membentuk manusia yang berakhlak dan memiliki kepedulian sosial.

Karena itu, perjuangan pendidikan hari ini sejatinya adalah bagian dari perjuangan Islam itu sendiri. Kampus, sekolah, dan majelis ilmu bukan hanya tempat transfer pengetahuan, tetapi ruang membangun peradaban. Generasi muda muslim harus memahami bahwa belajar adalah bagian dari jihad intelektual. Ketika seorang mahasiswa belajar dengan niat ibadah, membaca dengan kesungguhan, dan menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat, maka ia sedang melanjutkan semangat “Iqra’” yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Pendidikan adalah cahaya yang mengeluarkan manusia dari kebodohan menuju kemuliaan. Maka jangan pernah meremehkan proses belajar, karena dari ilmu lahir perubahan, dari pendidikan lahir peradaban, dan dari generasi berilmu lahir masa depan Islam yang berkemajuan.

Penulis: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.