Memaafkan adalah salah satu akhlak yang sangat mulia dalam Islam. Member maaf berkaitan erat dengan kesabaran. Sabar yang dimaksud yaitu sabar untuk tidak melampiaskan kemarahan secara tidak wajar ketika disakiti, dicemooh orang serta sabar dalam menanti orang lain mengalami proses menuju kebaikan dan kesempurnaan dirinya. Sabar dalam menghadapi kesulitan contohnya ketika seseorang menghina atau berkata tidak sopan (kasar) maka dibalas dengan kata – kata lembut yang mengandung keselamatan dan pencerahan. Artinya orang tersebut sabar terhadap apa yang mereka ucapkan dan membalasnya dengan cara yang baik.
Kesabaran sebagaimana asal katanya bermakna ketegaran hati, keberanian dan jauh dari sikap yang melemahkan. Dalam kitab tafsir Majmu Al Bayan, Ayatullah Tabrisi mengartikan sabar sebagai kemampuan diri mengendalikan hawa nafsu. Jadi sama sekali tidak benar jika sabar dan sikap pemaaf diindentikan dengan kelemahan diri. Sebagaimana defenisinya, sabar justru berkebalikan dari itu. Menghinakan diri, tetap konsisten dengan keadaan yang merusak diri, rela untuk dizalimi dan pasrah pada keadaan yang menyakitkan sesungguhnya bukanlah termasuk kesabaran. Oleh karena itu sabar bukanlah pasrah dengan keadaan yang merusak dan takluk di bawah musuh, namun sabar justru adalah sikap melawan pada musuh, baik musuh lahir maupun musuh dari dalam diri.
Kesabaran justru merupakan kekuatan terbesar kaum muslimin. Itu sebabnya Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 153).
Sikap ghufran dalam menghadapi kesalahan orang lain adalah sebuah tindakan yang sangat sulit. Akan tetapi, Al-Quran senantiasa mengajak seluruh kaum mukminin di samping memaafkan dan shafh, juga harus berbuat kebajikan kepada mereka yang telah berbuat kesalahan. Hal ini sejalan dengan sebuah pepatah bijak yang mengatakan, “Berakhlaklah sebagaimana pohon mangga, dilempari orang yang lewat, namun ia membalas dengan memberi buah yang ranum.”
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang dikarunia hati yang penyayang, lembut dan senantiasa lebih memilih memaafkan daripada membenci dan memusuhi.
Penulis: Alvin Lazuardi




