TAWAKAL

Tawakal berasal dari kata وكل (wakala) yang berarti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan urusan kita kepada orang lain. Dalam kaitan ini penyerahan tersebut adalah kepada Allah Swt. Tujuannya, untuk mendapat kemashlahatan dan menghilangkan kemudharatan. Secara istilah arti tawakkal adalah menyerahkan suatu urusan kepada kebijakan Allah SWT., yang mengatur segalanya-galanya.

Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. adalah salah satu perkara yang diwajibkan dalam ajaran agama Islam. Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. dilakukan oleh seorang muslim apabila sudah melaksanakan Ikhtiar (usaha) secara maksimal dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya. Tawakkal dilaksanakan setelah manusia melakukan iktiar dengan maksimal, maka tawakal kepada Allah Swt. tidak dibenarkan apabila menyerahkan (tawakkal) segala urusan kepada Allah Swt. sebelum melaksanakan usaha semaksimal mungkin. Demikian juga tawakkal yang ditujukan kepada selain Allah Swt. termasuk perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh setiap orang yang beriman.

Menurut Ibnu ‘Athaillah, tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Sikap tawakal kepada Allah Swt tidak bertentangan dengan usaha manusia. Rasulullah saw menganjurkan umatnya berusaha mencari rezeki dengan tetap menjaga etika serta hati. Karena tawakal di hati merupakan bukti keimanan. Barangsiapa menolak usaha atau kerja berarti mengingkari sunnah dan barangsiapa menolak tawakal berarti mengingkari iman. Jika ada sedikit kesulitan dalam asbab itu adalah takdir Allah. Bila ada kemudahan semata-mata karena Allah yang memudahkan sehingga anggota badannya bergerak dalam asbab dengan perintah Allah dan batinnya yakin dengan janji Allah.

Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari telah mengenalkan konsep tawakal agar kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ibnu ‘Athaillah dalam kitabnya al-Hikam dengan apik telah membahas konsep tersebut. Tawakal menurut Ibnu ‘Athaillah merupakan keadaan yang agung meliputi aspek lahir dan batin, di mana lahirnya taat kepada Allah Swt dan batinnya tidak menentang-Nya karena seorang muslim adalah yang menyerahkan dirinya serta melaksanakan perintah Allah Swt dan batinnya pada ketentuan-Nya, maka siapa pun yang mengaku muslim, diniscayakan untuk berserah diri kepada Allah. Jika seorang hamba telah bertawakal kepada Allah Swt, maka dalam konteks apapun dia harus konsisten menjalankannya, seperti dalam mencari rezeki, maka perlu menjaga etika selama bekerja karena Allah Swt telah menjamin rezeki hamba-Nya. Bekerja dengan cara yang baik karena tawakal sangat erat kaitannya dengan usaha. Ibnu ‘Athaillah ingin memberikan pemahaman agar kita tetap untuk menjalani kehidupan sehari-hari di atas landasan kebersandaran terusmenerus kepada Allah Swt dengan tetap berusaha, menjaga etika dan bertawakal kepadaNya.

Penulis: Aisyah Irawati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *