KITA MILIK ALLAH

Kematian telah menjadi sesuatu yang begitu menakutkan, sehingga banyak orang tidak berani walaupun hanya sekedar mempercakapkannya. Sekalipun kematian adalah hal yang biasa kita dengar dan lihat dalam keseharian kita, namun bukan berarti hal itu menjadi sesuatu yang mudah untuk sepenuhnya di terima. Sebagai sesuatu yang menakutkan maka banyak orang tidak siap dengan kematiannya sendiri tetapi juga dengan kematian orang-orang yang dekat dengan dirinya. Tidak ada yang lebih pasti dari pada kematian. Tidak ada satupun makhluk yang diciptakan Allah SWT dalam keadaan abadi dan kekal. Tiap hari berita tentang kepergian belalu lalang tanpa hentinya. Jiwa dan nyawa luruh seperti daun-daun yang dihempas angin, lalu kembali ke peraduan menghadap Allah SWT.

Sedikit bercerita sekitar bulan Januari lalu kabar duka menyelimuti desa saya, salah satu warga yang amat sangat baik budinya pergi meninggalkan keluarga, tetangga, dan juga rekan rekan tanpa adanya gejala sakit yang terbilang berat. Tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi, pasalnya saat pagi hari ia pun masih sempat duduk duduk di depan rumah sambil tersenyum semringah. Menurut keluarga bapak ini memang sudah cukup lama mengidap penyakit paru paru namun ia tidak pernah merasakan rasa sakit di badannya sehingga keluargapun tidak terus membawa beliau ke rumah sakit. Bukan berarti keluarga telah pasra namun karena kondisi sehat yang terlihat dari badan si bapak mengakibatkan keluarga masih menganggap wajar penyakit ini. Berjuang dan berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan dan mempertahankan kehidupan pasti sudah beliau dan keluarga lakukan terbukti dengan setiap pagi si bapak selalu rutin mengkonsumsi jamu dan juga buah buahan yang disediakan oleh sang istri, namun mereka juga tahu bahwa kehidupan yang di jalaninya itu bukanlah sesuatu yang mudah, masih banyak hal yang tak terduga yang akan muncul kedepannya.

Pada sore hari sekitar pukul 4 sore ia mengadu kepada istrinya bahwa ia merasakan sesak nafas sehingga keluarga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit besar di daerah Purwokerto, setelah mengalami penurunan kondisi bapak ini mengalami masa masa kritis. Sakit yang di derita si bapak ini di akhiri dengan kematian. Bagi penderitanya tetap dianggap sebagai bentuk “kegagalan” dan bagi keluarganya di anggap sebagai “kehilangan”. Itulah sebabnya keluarga bapak ini berusaha sedemikian rupa untuk mepertahankan kehidupanya, meminta kepada dokter dan tim medis yang menangani untuk melakukan apa saja demi untuk keluarganya dapat tetap hidup. Dalam kasus-kasus yang demikian mereka atau kita yang sehat kerapkali menjadi pribadi-pribadi yang egois. Kita meminta kepada yang sakit untuk terus bertahan dalam kesakitannya demi untuk kita tidak merasa kehilangan, sementara mereka yang mengalami sakit merasakan betapa berat dan menderitanya menjalani kehidupan dalam keterbatasannya. Dan kalau pada akhirnya si penderita itu meninggal maka mereka menganggap bahwa usaha mereka gagal dan kematian di lihat sebagai sebuah kehilangan. Jarang sekali atau bahkan mungkin hampir tidak ada yang melihat kematian sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Segala jenis rangkaian pengurusan jenazah pun sudah dilakukan, sebut saja “Bapak Samsul” juga ikut serta memandikan dan mengurus pemakaman, tidak ada yang tau 2 hari kedepan adalah gilirannya menghadap kepada Tuhan. Sungguh sebuah keadaan yang tak terduga dan tidak diharapkan.Ia menyusul tetangganya ke hadapan Rahmatullah dengan keadaan yang sangat amat mendadak, sepulang ia memancing ia mengadu kepada istrinya bahwa ia merasakan rasa sakit dibagian dadanya. Tak lama setelah itu ia pingsan dan merenggut nyawa. Dari sini ada hikmah yang dapat saya ambil, Setiap orang pasti akan merasakan kematian. Kematian adalah salah satu bagian dari kehidupan yang pasti dijalani, sama seperti kelahiran. Bedanya adalah yang pertama menandai akhir dari suatu kehidupan, sedangkan yang terakhir menandai awal dari suatu kehidupan. Kelahiran dan kematian bisa diandaikan seperti ujung dari seutas tali yang bernama kehidupan, berbeda titik tetapi terentang sepanjang usia. Di tengahnya itulah kehidupan yang ada dan berada.

Manusia tidak akan pernah mengerti hakikat kehidupan jika ia tidak mau mengingat arti dan hakikat kematian. Allah berfirman,“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati” (QS Ali-Imran 185). Berdasarkan firman Allah ini telah jelas bahwa manusia pasti akan menghadapi kematian kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Orang yang pintar adalah orang yang bisa mengingat mati dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengingat kematian manusia akan lebih bijak dan berhati-hati dalam meningkatkan keimanan dan ketawaan pada Allah SWT. Rasululah SAW bersabda,”Banyak-banyaklah mengingat mati sebab mengingat mati itu menhapuskan dosa dan mengkikis ambisi seseorang terhadap dunia serta cukuplah mati sebagai pemberi peringatan.” (HR Bukhori Muslim)

Di antara faedah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa mengingat mati adalah melembutkan hatinya untuk bersegera memohon ampun atas dosa-dosanya dan bertobat kepada Allah. Dengan mengingat kematian dengan sendirinya akan menimbulkan ketidaksenangan terhadap dunia dan akan mendorong manusia untuk melakukan persiapan di kehidupan akhirat, sedangkan kelalaian terhadap maut akan mendorong manusia untuk tenggelam dalam kehidupan di dunia.

Rasulullah SAW bersabda,”Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” (HR Muslim)

 

Penulis : Dewi Suci Lestari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *