Dalam hiruk-piruk kehidupan modern, sering kali kita terjebak dalam perlombaan mengejar kemewahan, jabatan, dan popularitas. Kita mencurahkan seluruh energi untuk membangun “istana” di dunia, namun terkadang lupa bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Esai ini akan mengajak kita merenungi kembali tujuan sejati keberadaan kita di muka bumi agar tidak tersesat dalam fatamorgana yang fana.
Memahami Hakikat Dunia sebagai Persinggahan
Dunia digambarkan oleh Allah SWT sebagai permainan yang melalaikan dan tempat bermegah-megahan dalam kekayaan serta keturunan. Layaknya sebuah permainan, ia mungkin terasa menyenangkan, namun pada akhirnya akan selesai dan ditinggalkan. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh mengenai hal ini: beliau mengibaratkan diri kita di dunia seperti seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Tidak ada jaminan bahwa kita akan memiliki umur yang panjang; hari esok atau lusa bisa jadi adalah akhir dari perjalanan kita. Maka, menyadari bahwa dunia bukan tujuan utama adalah langkah awal untuk meraih ketenangan hati.
Akhirat: Negeri Abadi yang Tak Terbatas
Jika dunia hanya kita tempati selama 60 hingga 70 tahun, akhirat adalah kehidupan yang berlangsung selama-lamanya. Kekayaan dan jabatan bisa hilang dalam sekejap mata, namun amal shalih akan setia menemani kita hingga ke liang lahat dan Padang Mahsyar. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa sebaik-baik bekal yang harus kita siapkan adalah takwa. Tujuan utama diciptakannya jin dan manusia tidak lain adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, dunia seharusnya dijadikan sebagai ladang pengabdian, tempat kita menanam benih-benih kebaikan yang buahnya akan kita petik selamanya di surga yang penuh kenikmatan.
Menjaga Niat dan Memanfaatkan Waktu
Selama jantung masih berdetak dan napas masih berembus, kita masih memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki diri. Kita harus berlomba-lomba dalam ketaatan dan meningkatkan takwa agar tidak menjadi orang yang menyesal dan merugi di akhirat kelak. Menjaga niat tetap lurus dan fokus pada tujuan akhirat akan membuat hidup kita di dunia menjadi lebih bermakna dan terarah.
Dunia hanyalah jalan, sedangkan akhirat adalah tujuan. Mari kita gunakan waktu yang singkat ini untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kita tertipu oleh indahnya dunia sehingga melupakan negeri abadi yang menanti di depan mata.
Penulis: Santhy Hawanti, Ph.D. / Dosen UMP



