Ilmu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan memungkinkan manusia untuk memahami, mengeksplorasi, dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam kehidupan. Islam sebagai agama yang peduli terhadap ilmu pengetahuan, menekankan pentingnya belajar dan mencari ilmu sebagai bagian dari ibadah. Ini tercermin dari fakta bahwa ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran, yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam pandangan Islam.
Islam sebagai agama yang sempurna berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits, menyediakan panduan komprehensif untuk semua aspek kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan. Al-Qur’an dan Hadits tidak hanya mengajarkan tentang ibadah, tetapi juga memberikan petunjuk dalam mencari ilmu dan mengaplikasikannya untuk kebaikan umat manusia. Dengan demikian, dalam Islam, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk mencapai kemajuan duniawi tetapi juga sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sesungguhnya Islam adalah syarat keselamatan di sisi Allah. Islam merupakan agama yang memberikan pedoman hidup bagi umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Keselamatan yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi mereka yang beriman dan mengikuti ajaran Islam bukanlah sekadar kepercayaan, tetapi juga merupakan hasil dari penerapan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam agama ini. Dengan mengikuti ajaran Islam, seseorang dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yang pada akhirnya membawa mereka menuju keselamatan yang hakiki.
Islam tidak akan tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. Ilmu adalah fondasi utama yang menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan umatnya. Tanpa ilmu, seseorang tidak dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan benar. Ilmu memberikan pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an dan Hadits, serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, karena hanya dengan ilmu, Islam dapat dipahami, diamalkan, dan ditegakkan sebagai agama yang benar-benar membawa keselamatan di sisi Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ إِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَّةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
(رواه : مسلم)
Artinya : Jika Seseorang meninggal akan terputus segala amalannya kecuali 3 perkara, Yaitu : Shadaqoh Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak sholih yang selalu mendo’akanya (HR. Muslim)
Hadis tersebut memberikan pemahaman mendalam tentang kelanjutan amal setelah seseorang meninggal dunia. Dalam hadis ini, dijelaskan bahwa tidak semua amal akan berakhir seiring dengan berakhirnya kehidupan di dunia. Terdapat tiga amal yang memiliki keistimewaan, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh. Ketiga amal ini bagaikan investasi akhirat yang memberikan keuntungan abadi. Pahala dari amal-amal tersebut akan terus mengalir tanpa henti, meskipun pelakunya telah tiada.
Sedekah jariyah, misalnya, seperti membangun masjid, menggali sumur, atau wakaf, merupakan bentuk amal yang memberikan manfaat bagi orang banyak dalam jangka waktu yang lama. Ilmu yang bermanfaat juga memiliki dampak yang luas. Ketika seseorang mengajarkan ilmu kepada orang lain, dan ilmu tersebut diamalkan, maka pahala akan terus mengalir kepada orang yang mengajarkannya. Begitu pula dengan anak yang saleh, doanya akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir kepada orang tuanya. Hadis ini menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa berbuat baik dan menuntut ilmu, karena keduanya akan menjadi bekal kita di akhirat.
Hadis mengenai tiga amal jariyah yang terus mengalir pahalanya setelah kematian, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, yakni pengetahuan tentang agama Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Kebermanfaatan ilmu ini tidak hanya dirasakan oleh individu yang mempelajarinya, tetapi juga oleh orang lain yang menjadi penerimanya. Ilmu syar’i yang diajarkan kepada orang lain dan kemudian diamalkan secara terus-menerus akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi yang mengajarkannya. Begitu pula dengan penulisan buku-buku agama yang bermanfaat, selama buku tersebut terus dibaca dan diamalkan isinya, maka pahala akan terus mengalir kepada penulisnya.
Dengan demikian, menuntut dan mengajarkan ilmu agama merupakan investasi akhirat yang sangat menguntungkan. Seorang muslim yang memiliki ilmu agama yang mendalam dan mau membagikannya kepada orang lain, akan mendapatkan pahala yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, ilmu agama juga menjadi bekal yang sangat penting untuk menghadapi kehidupan di dunia dan akhirat. Dengan ilmu agama, seseorang akan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, sehingga ia dapat menjalani hidup dengan penuh petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT.
Imam syafi’i dalam kalimat bijaknya menyampaikan beberapa akibat orang yang tidak menuntut ilmu :
مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً # تَجَرَّعْ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ # فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى # إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
- Barang siapa yang belum pernah merasakan sulitnya belajar, maka tidak bisa lari dari kebodohan, dan akan merasakan akibat kebodohannya sepanjang hidupnya.
- Dan barang siapa yang tidak belajar di waktu kecilnya dan tidak memanfaatkan kesempatannya menuntut ilmu, maka ia dianggap sebagai orang yang mati, tidak ada kehidupan padanya karena tidak ada manfaat yang diharapkan darinya
- Ketahuilah, bahwa seseorang dianggap hidup sebenar-benarnya, jika ia berilmu dan bertaqwa, Dia tidak dianggap hidup apabila tidak memiliki keduanya (Ilmu dan Taqwa) pada dirinya.
Kalimat bijak Imam Syafi’i tersebut dengan tegas menggarisbawahi kedudukan ilmu dalam kehidupan manusia. Beliau menyatakan bahwa seseorang yang tidak memiliki ilmu dan takwa bagaikan tidak hidup. Pernyataan ini mengandung makna yang sangat mendalam tentang peran vital ilmu dalam membentuk kualitas hidup manusia. Ilmu bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga merupakan kunci untuk memahami diri sendiri, alam semesta, dan Sang Pencipta. Dengan ilmu, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Lebih dari itu, ilmu juga menjadi sarana untuk mengembangkan potensi diri, memecahkan masalah, serta berkontribusi bagi kemajuan masyarakat.
Ilmu dan takwa yang disebutkan Imam Syafi’i merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ilmu tanpa takwa dapat membawa seseorang pada kesombongan dan kesesatan, sedangkan takwa tanpa ilmu dapat membuat seseorang menjadi pasif dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Oleh karena itu, keduanya harus berjalan seiring. Dengan ilmu, kita dapat memahami ajaran agama dengan lebih baik, sehingga kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, dengan takwa, kita akan terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, serta senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas diri. Kesimpulannya, ilmu dan takwa adalah dua pilar penting dalam kehidupan manusia yang harus selalu kita kejar dan kembangkan.
Penulis: Luqman Bagus Kurniawan, M.Pd. / Guru SMP UMP
Referensi :
- Mahfudzat li fashli tsaani
- Hadits Rasulullah SAW Riwayat Muslim No. 1631
- Syakhrani, Abdul Wahab, et al. “Petunjuk Rasulullah Saw Tentang Keutamaan Orang Yang Berilmu.” Adiba: Journal Of Education 2.3 (2022): 358-367.



