Belajar Al-Qur’an: Ikhtiar Menjaga Cahaya Iman di Tengah Zaman

Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, belajar Al-Qur’an sering kali menjadi aktivitas yang tertunda. Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang penuh distraksi gawai, media sosial, tuntutan akademik, dan berbagai target masa depan. Namun di balik semua itu, Al-Qur’an tetap hadir sebagai cahaya yang menuntun arah hidup. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus” (QS. Al-Isra’: 9). Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, tetapi pedoman hidup yang relevan sepanjang zaman. Belajar Al-Qur’an menjadi kebutuhan spiritual yang tidak boleh terlewat, terutama bagi generasi muda yang sedang membangun jati diri.

Keutamaan belajar dan membaca Al-Qur’an ditegaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa proses belajar Al-Qur’an memiliki nilai ibadah yang tinggi, bahkan bagi mereka yang masih terbata-bata. Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan susah payah akan mendapatkan dua pahala: pahala membaca dan pahala atas kesulitannya (HR. Muslim). Pesan ini sangat relevan dengan kondisi mahasiswa baru yang masih berproses memperbaiki bacaan. Belajar Al-Qur’an bukan soal cepat atau lambat, tetapi soal kemauan untuk terus berusaha dan tidak menyerah.

Dalam konteks ini, pelaksanaan Tes Baca Al-Qur’an (TBQ) serentak bagi mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memiliki makna strategis dan edukatif. Kegiatan ini bukan untuk menghakimi kemampuan mahasiswa, melainkan sebagai langkah awal pemetaan dan pembinaan. TBQ menjadi pengingat bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan seiring dengan kecakapan spiritual. Di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, Al-Qur’an tidak diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi pembentukan karakter islami. Imam Ibnul Qayyim pernah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur.” Melalui TBQ, mahasiswa diajak untuk jujur pada diri sendiri dan termotivasi untuk terus belajar.

Belajar Al-Qur’an pada akhirnya adalah proses seumur hidup. Tidak berhenti pada lulus tes atau mampu membaca dengan lancar, tetapi terus berlanjut pada pemahaman dan pengamalan. Di awal masa perkuliahan, mahasiswa sedang berada pada fase pembentukan arah hidup. Jika Al-Qur’an dijadikan teman belajar sejak dini, maka nilai-nilainya akan mewarnai cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. TBQ di UMP menjadi pintu masuk agar anak muda semakin giat dan rajin membaca Al-Qur’an, bukan karena kewajiban administratif semata, tetapi karena kesadaran iman. Dari huruf ke huruf, dari ayat ke ayat, Al-Qur’an membimbing generasi muda menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan cahaya petunjuk Allah.

 

Penulis: Bayu Dwi Cahyono