Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

Nikmatnya Rasa Sakit

Allah SWT memberikan nikmat yang begitu banyak kepada hambaNya.  Jika manusia diminta untuk menghitungnya tidak akan mungkin sanggup dan mampu untuk menghitungnya. Firman Allah SWT, Qs. An Nahl : 18.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Kenikmatan yang diberikan Allah itu macam-macam. Nikmat tidak hanya berupa kelapangan, sehat, sempat, islam, iman, senang, bahagia, gembira, kaya atau yang lainnya, akan tetapi ada juga nikmat dari Allah yg berupa kesedihan, sakit, kekurangan, dan lain sebagainya, jadi semua istilah kenikmatan di atas itu dari Allah, bukan saja kenikmatan yang enak-enak saja, akan tetapi yang kurang enak atau manusia kurang sesuai itu juga bagian dari nikmat Allah, dan yang kurang enak itu manusia biasa menyebutnya dengan ujian.

Nikmat sakit, seorang hamba diberi rasa sakit dengan tujuan agar hamba Allah SWT senantiasa bersabar kuat dalam menghadapi ujian sakit dan kesedihan ini, sejauh mana manusia bisa bersabar. Jika nikmat sehat adalah cara Allah menguji syukurmu, maka nikmat sakit adalah cara Allah menguji sabarmu.

Berbicara tentang sakit, maka sudah tentu kita semua pasti sudah pernah mengalaminya, karena sakit sebenarnya adalah cara Allah memberitahu kita bahwa tubuh yang kita miliki adalah amanah dariNya.

Maka, bersyukurlah saat kita selalu diberi nikmat sehat oleh Allah karena nikmat yang paling berharga di dunia ini selain iman dan Islam adalah nikmat sehat, sebab dengan keadaan tubuh yang sehat kita bisa menikmati nikmat-nikmat Allah yang lainnya.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

 dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Allah memberi kita waktu agar kita tenang hanya mengingat-Nya, maka ketika sedang sakit bersabarlah, karena itu semua adalah cara Allah untuk mengetuk hati kita agar belajar untuk bersabar dan bersyukur.

Maka dari itu, perlu kita sadari dari sekarang agar kita tidak menjadi pribadi yang mudah mengeluh saat sedang sakit ataupun saat sedang sehat, bahwa sesungguhnya sakit maupun sehat itu adalah nikmat yang harus sama-sama kita syukuri.

Kenikmatan untuk beristirahat sejenak dari kerasnya dunia, kenikmatan untuk sejenak berpikir secara bijak tentang nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selama ini dengan cuma-cuma. Karena bisa jadi sakit adalah cara Allah untuk kita mampu memaknai secara bijaksana apa-apa yang telah kita lakukan ketika masih sehat, dan bisa jadi pula hal itu teguran dari Allah sebab ketika masih sehat seringkali kita gunakan nikmat sehat darinya secara cuma-cuma dan pada jalan yang cuma-cuma pula.

 

Maka, tetaplah bersyukur, tetaplah bersabar dan rendah hati dalam keadaan apapun, entah sakit ataupun sehat karena nikmat Allah itu selalu ada dalam setiap peristiwa, dan setiap peristiwa pasti mengandung hikmah yang luar biasa. Wallahu ‘Alam bis Shawab.


M. Alfian N Azmi, S.Ud., S.T. (Staf LPPI)

Pict by Google

ANAK KECIL PUN BERHASIL

Memetik sebuah hikmah di balik satu peristiwa jelas bukan hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap manusia, bahkan oleh manusia dewasa sekalipun. Bagi yang bisa melakukan, adakalanya bisa mendapatkan pesan inti sesegera mungkin ketika peristiwa masih berlangsung, bisa juga setelahnya, atau setelah berlalu sekian waktu.

Hikmah yang dimaksud sejatinya senantiasa ada pada setiap peristiwa, baik peristiwa yang buruk maupun yang baik yang harus dijalani dan dirasai oleh si pelakunya. Mengenai peristiwa baik, kebanyakan manusia tidak ada yang keberatan dengan hal itu, malahan mereka senantiasa mendamba semua episode kehidupan berjalan demikian. Sebaliknya jika pada peristiwa yang buruk atau mengandung keburukan, manusia akan merasa sangat payah seakan hampir tak sanggup menanggung keadaan.

Allah berpesan dalam al-Quran, bahwa peristiwa dan hikmahnya akan senantiasa ada dalam nafas kehidupan manusia, sebelum dicabutnya nyawa dari raga.

...وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35)

...Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (QS. al-Anbiyaa/21: 35)

Dalam kitab Tafsir Ibnu Jarir al-Thabari, Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat di atas bahwa “Kami (Allah) akan mengujimu dengan kesulitan dan kemakmuran, kesehatan dan kesulitan, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, kepatuhan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” Allah kemudian mengakhiri ayat tersebut, bahwa “kepada Allah mereka akan dikembalikan dan mereka akan mendapatkan balasan atas perbuatan-perbuatan mereka, baik atau buruknya perbuatan tersebut.”

Seiring dengan tafsiran tersebut, Ibnu Jarir al-Thabari menafsirkan bahwa, “Kami akan menguji kalian dengan keburukan berupa kesulitan yang harus kalian hadapi, dan Kami pun menguji kalian dengan kebaikan berupa kemakmuran, kesejahteraan, dan kesehatan.”

Merenungi ayat dan tafsir di atas, memberi arti bahwa setiap kemudahan dan kesulitan yang kita hadapi adalah bagian dari ujian yang tidak mungkin hanya untuk sia-sia belaka tanpa tujuan. Jika kita terlahir dalam keluarga yang berada, bukan berarti hanya sebagai keberuntungan, melainkan sebagai sebuah cobaan. Begitu juga sebaliknya, ketika terlahir dalam keluarga yang kekurangan, bukan berarti sebagai ketidakberuntungan dalam hidup, melainkan sama-sama sebagai sebuah ujian yang memiliki maksud di baliknya. Baik sehat atau sakit, hidup kaya atau miskin, memiliki rumah tangga yang harmonis atau penuh konflik, membesarkan anak yang penurut atau sebaliknya, bertetangga dan berteman dengan orang-orang yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, memiliki pekerjaan yang menuntut banyak tenaga hingga mengalami kondisi hectic hampir setiap hari ataupun pekerjaan yang bisa dijalani dengan santai. Begitulah kehidupan manusia yang memiliki keadaan berpasang-pasangan, antara positif dan negatif –menurut kacamata manusia-, akan tetapi sejatinya untuk menuntun kita menemukan hikmah-hikmah dari cobaan dan ujian kehidupan.

Akan tetapi manusia memang lebih sering menilai proses kehidupan dengan beruntung dan tidak beruntung. Alih-alih mencari hikmah di balik situasi tersebut, malah tidak sedikit yang langsung menyerah begitu saja dengan keadaan, pasrah dengan ‘sedikasihnya’ keadaan sama yang Maha Pemberi.

Berbicara tentang ini, saya ada kisah yang sangat sederhana namun membekas dalam ingatan. Terjadi setahun yang lalu ketika saya mampir mengunjungi saudara di Bogor setelah menyelesaikan keperluan di Jakarta Pusat. Bogor menjadi tujuan kedua dalam perjalanan saya, karena harus menjenguk saudara di sana. Ia sedang membutuhkan support untuk menguatkan hati dan mental menghadapi kerasnya cobaan hidup.

Siang itu saya meluncur dari Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Bogor menggunakan commuter line yang sangat nyaman. Tubuh pun lumayan letih hampir merebah berkali-kali. Sesekali saya tolerir rasa mengantuk tersebut, merebah pada kursi dan dinding kaca kendaraan tanpa peduli jika ada yang melihat, berharap akan sangat wajar ketika siapapun tertidur di tengah perjalanan.

Sudah disepakati sebelumnya bahwa saya akan dijemput di stasiun dan akan diajak jalan-jalan serta makan siang –tanpa sempat singgah ke rumah tinggal saudara- sampai jam di mana saya harus kembali menuju Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Purwokerto.

Kami akhirnya bertemu, dia datang bersama dengan putranya. Rupanya ia baru membawa putranya ke dokter sehingga dia dalam ijin tidak masuk sekolah. Kami bertiga langsung sibuk mencari tempat makan siang. Sembari makan tidak banyak hal yang dibicarakan, hanya obrolan ringan menanyakan kabar satu sama lain. Kami tidak membicarakan permasalahan secara rumit, kehadiran saudara dari jauh pun sudah terbilang cukup menenangkan hati yang sedang gundah.

Selesai makan siang kami lanjut ke pusat perbelanjaan, bermaksud ingin membelikan jajan, karena saya datang tanpa membawa buah tangan. Pada moment inilah saya mendapati hal yang menampar kesadaran. Anak kelas 2 SD yang merupakan keponakan saya sendiri tiba-tiba berucap “Alhamdulillah kaka hari ini sakit dan harus ke dokter, jadi bisa ketemu bibi deh.” Dia mengucapkan itu tanpa menyiratkan rasa menahan sakitnya, dia justru tersenyum sumringah. Saya tertegun, di saat dia di tengah kesakitan sekalipun, anak ini berhasil menemukan hikmah, tanpa berkeluh kesah atas keadaannya, dia bahkan mengucapkan alhamdulillah.

Memetik hikmah. Itulah yang dilakukan oleh anak berusia 9 tahun. Ia menyadari kebaikan di balik sakitnya pada hari itu, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana, ‘hanya’ berupa kebahagiaan pertemuan dengan bibinya. Andai saja ia sudah pandai mengungkapkannya dalam berangkai-rangkai kalimat dan menjelaskankan bahwa itu adalah sebuah hikmah yang dirasanya. Lantas, bagaimana dengan kita? Jika kita tak berhasil memetik hikmah dari peristiwa-peristiwa kehidupan, kiranya dapatkah kita menemukan titik bijak yang akan menuntun dalam perbuatan, respon lanjutan atas peristiwa tersebut, dan sebagainya? Padahal Allah akan senantiasa memberikan ujian dan kepadaNya kita semua kembali serta dariNya kita akan menerima balasan.

Temukanlah hikmah-hikmah. Ia akan menginspirasi kita untuk mengambil tindakan berikutnya ketika kita ada dalam sebuah fase kehidupan.

Wallahu ‘Alam bis Shawab.

Oleh : Istianah, Lc., M.Hum. (Dosen FAI)

HIDUP ADALAH PERSAINGAN, JADILAH MANUSIA TANGGUH

 

ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ

“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah 148).

Tahukah kita bahwa semenjak lahir kita sudah mulai persaingan dalam hidup, persaingan tersebut akan belanjut terus sampai menghembuskan nafas terakhir. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai daya saing tinggi, mereka adalah orang-orang tangguh, mampu bertahan dengan segala suasana dan berhadapan dengan siapa saja. Maka sebenarnya kita tumbuh dari gesekan persaingan demi persaingan yang kita hadapi, menang dan kalah telah membentuk kepribadian diri kita sehingga menjadi diri kita yang seperti saat ini.

Ketika kecil kita dihadapkan oleh persaingan untuk memperebutkan kasih sayang orang tua dengan saudara kita. Selanjutnya ketika telah masuk ke bangku sekolah, kita tak dapat menghindari persaingan yang lebih menantang dengan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai terbaik dalam sebuah mata pelajaran. Maka dia yang tak kunjung menyerah dan selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan-persaingan yang kian berdatanganlah yang akan keluar menjadi jawaranya.

Setelah beranjak dewasa, dunia pekerjaan justru memberikan tantangan dahsyat yang menimbulkan persaingan keras. Betapa tidak? Sering kali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, ribuan sarjana muda mengantri untuk berebut jatah kursi pekerjaan. Hal ini menjadi ironi saat lowongan pekerjaan tak mampu menyerap banyaknya berkas lamaran yang masuk. Maka inilah hidup, jika kita ingin dapat bertahan dan eksis dalam kehidupan, mendapatkan sebuah penghidupan yang layak sehingga dapat berjuang li i’lai kalimatillaah maka kita wajib terus melangkah ke depan, berlomba dan bersaing dalam kehidupan dengan cara yang baik dan elegan, terus maju jangan berhenti, layaknya pepatah yang mengatakan “malas tertindas, mundur hancur, berhenti mati”. 

Sejatinya persaingan itu diperlukan, dengan adanya persaingan ada dinamika hidup, dengan adanya persaingan manusia mandapat kebahagian, dengan persaingan akan tercipta kemajuan. Allah S.W.T menyuruh umat manusia untuk bersaing, bersaing dalam hal berbuat kebaikan dan beramal kepada orang lain, Allah melarang pemusuhan, berlawanan, dan bersaingan untuk menghacurkan yang lain.

Bersaing dalam hidup ibarat lomba lari, tidak perlu mengganggu orang lain, cukup dengan berlari di jalurnya, tidak perlu memikirkan dan berusaha menghambat lawan, yang terpenting adalah fokus kita sendiri. Menang tanpa merugikan orang lain. Cara utama memenangkan persaingan kehidupan adalah dengan meningkatkan daya saing diri sendiri, meningkatkan kemampuan diri, selalu belajar, berpikir kreatif, inovatif.

Akhirnya orang yang paling berdaya saing adalah orang yang paling berguna di masyarakat, diperlukan pula keikhlasan yang tinggi dalam bersaing, karena persaingan itu sepanjang hayat, maka orang yang sabar dan istiqamahlah yang akhirnya memenangkan persaingan didunia, yang akhirnya mendapat kebahagian dunia dan akhirat, semoga kita dapat memetik hikmah dari setiap persaingan yang telah kita lalui dan semoga kita  termasuk orang-orang yang tangguh, karena hidup adalah persaingan.

Bayu Dwi Cahyono, M.Pd – Instruktur LPPI
Gambar : Dok https://ultimatemotorcycling.com

 

Bulan Suro, Bulan Sial?

Menurut sebagian orang, bulan Suro adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, dan penuh kesialan. Karena itu,mereka tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Ketahuilah bahwa dengan sikap seperti itu berarti mereka telah mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu.

Dalam shohih Muslim, terdapat satu bab dengan judul larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Rasulullah SAW bersabda, ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Imam An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan Ya khoybah dahr (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.

Beranggapan sial atau dikenal dengan istilah tathayyur, merupakan tradisi perbuatan orang Arab Jahiliyah. Ketika mereka melakukan sesuatu, mereka membentak burung terlebih dahulu. Jika burung tersebut ke arah kiri, ini berarti pertanda sial sehingga mereka mengurungkan niat mereka untuk melakukan sesuatu tadi.

Perlu diketahui bahwa merasa sial seperti di atas dan contoh lainnya bukanlah hal yang biasa-biasa saja,tapi perbuatan ini termasuk kesyirikan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda): Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3912)

Ringkasnya, beranggapan sial dengan sesuatu, baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.

Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah SWT Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Satu hal yang patut direnungkan, seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibrabahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah SWT (yang artinya), ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa [42] : 30)

 

Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ’Azza wa Jalla.

Oleh : Ust. Muamar, Lc., M.H. (Staf LPPI)

Poto : ilustrasi 

Belajar Hidup dari Lebah

Lebah adalah salah satu jenis serangga yang mempunyai banyak manfaat. Lebah dikenal hidup berekelompok dan saling membantu satu sama lain sesuai dengan tugas masing-masing. Dalam Islam, lebah menjadi salah satu hewan istimewa karena dijadikan sebagai sebuah nama surat dalam Al Qur’an. Dalam salah satu ayatnya (Surah An Nahl ayat 68-69 tertulis: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.

Lebah menaati perintah Allah dengan membuat sarang di bukut, pohon, kayu dan tempat yang dibuat oleh manusia. Lebah juga memakan hal-hal yang baik serta mengeluarkan hal baik pula yaitu madu. Lebah tidak membuat kerusakan di tempat yang dihinggapinya serta lebah memberi manfaat ditempat tersebut yaitu membantu penyerbukan.

Hendaknya kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai sebaik-baik makhluk, dapat memetik pelajaran dari kehidupan lebah. Dalam sebuah Hadits Rasul menjelaskan bahwa Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).

Pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan lebah pertama Lebah memakan hal yang baik dan mengeluarkan hal yang baik. Allah Berfirman “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu”. (Al-Baqarah: 168).

Dari ayat ini jelas bahwasannya apa yang manusia makan hendaknya adalah makanan yang baik dan dijamin kehalalannya. Halal baik secara substansinya maupun halal dari cara mendapatkannya. Kehalalan makan yang masuk dalam diri kita tentu juga diikuti dengan kebaikan makanna tersebut. makanan yang baik adalah makanan yang apabila dikonsumsi tidak menimbulkan mudhorot. Sekalipun itu makanan halal, tapi jika menimbulkan madhorot maka makanan tersebut menjadi tidak baik bagi yang mengonsumsinya.

Pelajaran kedua adalah member kemanfaatan, yaitu menghasilkan madu dan membantu penyerbukan bunga. Manusia diciptakan oleh Allah menjadi khalifah dimuka bumi dan diciptakan sebaik-baik makhluk. Untuk menjadi khalifah yang baik maka manusia harus bermanfaat bagi orang yang ada disekitarnya. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. (HR Thabrani)

Seperti madu yang dikeluarkan oleh lebah, madu dapat bermanfaat bagi sekitarnya. Selain dicampur dengan makanan atau dibuat minuman, madu dapat dijadikan sebagai obat. Begitu juga manusia hendakanya dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang yang ada disekitarnya.

Pelajaran ketiga adalah tidak senang membuat kerusakan, dimanapun lebah hinggap rantingnya tidak patah. Sebagai umat Islam, hendaknya kita meneladani sikap tersebut. Islam adalah agama yang cinta damai, maka dalam kehidupan bermasyarakat hendaknya kita dapat senantiasa mengedepankan keadalian, kedamaian, ketentraman dan keamanan. Ketika Lebah diganggu maka dia dan sekawanan lebah akan menyengat musuhnya dengan resiko kehilangan nyawa, karena dengan menyengat musuhnya itu dia akan membuka racun yg ada didalam tubuhnya, ketika jarum yg lebah gunakan itu tertinggal di musuhnya, racunnya didalam tubuhnya terbuka dan racunnya menyebar didalam tubuhnya, meracuni diri sendiri, lalu mati. Itu artinya dalam kehidupan manusia  satu sama lain saling melindungi dan menyayangi. Seperti kita hidup harus bersatu dan saling membantu, agar kokoh dan sejahtera. Berjuang bersama, dan saling melindungi bersama meski harus kehilangan nyawa. Seperti para pahlawan kita saat berjuang mengusir para penjajah. Mereka tidak takut mengorbankan nyawanya hingga akhirnya Indonesia merdeka.


Yusmaniar Nur Aini, M.Pd - instruktur LPPI

Universitas Kehidupan

“Dunia adalah sebuah kampus besar kehidupan. Mahasiswanya adalah manusia. Kampusnya adalah dunia. Kurikulumnya adalah alur kehidupan. Diktatnya firman Tuhan. Ujiannya adalah masalah demi masalah yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya.”  (Ahmad Rifa’i Rif’an)


Jika orang tua telah selesai menyekolahkan anaknya pada saat SMA tentu menginginkan melanjutkan di perguruan tinggi favorit agar nanti lulus bisa nongkrong di kantor bonafide. Orang tua mencurahkan segala usaha meskipun dengan pengorbanan pikiran, tenaga dan harta yang kadang di luar kemampuannnya. Maka tidak wajar jika ada mahasiswa yang belajar di dunia kampus tetapi suka malas-malas, tugas tidak diselesaikan, dan melakukan penyimpangan-penyimpangan.


Universitas merupakan miniatur kehidupan dunia. Mahasiswanya adalah beragam manusia bersuku-suku, bangsa, bahasa, karakter dan  kemampuan akal maupun fisik.  Islamlah yang akan menyatukan sekat-sekat tersebut. Mahasiwa yang sudah tahu apa tugas-tugas  yang akan dihadapi tentunya akan menyiapkan segala sesuatu pada setiap tahap semester. Jika tidak bisa melewati pada setiap tahap, maka akan tersendat atau bahkan drop out. Misalnya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mahasiswa harus lulus baca Al Qur’an, mentoring, lulus KKN, menyelesaikan semua SKS dll. Begitu pula mahasiswa universitas kehidupan akan lebih siap menghadapi berbagai macam ujian sehingga berpredikat mukmin. Sebagaimana firman Allah:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut : 2–3 )

Jika kita cermati firman Allah tersebut maka bisa disimpulkan bahwa bisa dipertanyakan, mana bukti imanmu? Diuji dengan sedikit kesulitan saja sudah menyerah, mengeluh, menghindar dan kadang mencari jalan pintas yang diharamkan. Di dunia kita akan menjumpai ujian demi ujian yang disediakan Allah. Dipastikan bahwa manusia akan menemui tantangan, cobaan, ujian yang membuatnya makin tangguh jika mampu melewatinya. Inilah kurikulum dunia.


Kebahagian di Universitas Kehidupan kita adalah ketika dipanggil oleh Allah mendapatkan ijazah sebagai catatan amal dengan tangan kanan. Mengambil dengan penuh percaya diri, karena ia telah banyak menabung amal saleh dan banyak melewati ujian dengan sabar dan syukur. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”


Adapun jika ijazah kita terima dengan tangan kiri maka Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisihinya. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “…maka dia akan berteriak: “Celakalah aku…” yakni ia berteriak menyesali dirinya. Akan tetapi penyesalan tidaklah berguna lagi pada hari itu, karena habis sudah waktu untuk beramal. Waktu untuk beramal adalah di dunia, sedangkan di akherat tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah pembalasan.


Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap ujian dari Allah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan kita menjalaninya. Dan semoga Allah mengangkat amal kebaikan dan menghapus kesalahan-kesalahan kita.



Muntohar, M.Pd.I – Instruktur LPPI

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239