Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

BOLEH BERBEDA, TAPI TETAP SAUDARA

Hidup di era media sosial, setiap orang bebas mengutarakan pendapat dan opininya di publik. Derasnya arus informasi dan berita makin sulit dibendung. Berbagai komentar dan ocehan terus bermunculan. Kita bisa saja ikut terhanyut di dalamnya, tapi kita juga masih punya pilihan untuk mengendalikan diri.

Selengkapnya: BOLEH BERBEDA, TAPI TETAP SAUDARA

BELAJAR PUASA DARI ULAR ATAU ULAT ?

“Ada anak bertanya pada bapaknya

 Buat apa berlapar-lapar puasa

Ada anak bertanya pada bapaknya 

Tadarus tarawih apalah gunanya” 

Mungkin kita juga pernah mendengar celotehan anak kecil yang baru belajar puasa kepada kedua orang tuanya.  “Abi…. ngapain sih kita harus puasa hingga satu bulan penuh? kan kalau ga makan, nanti bisa mati dong, apalagi siangnya abi masih harus tetap kerja” 

“Umi…mengapa malamnya kita juga harus tadarus dan tarawih di masjid? kan kalau sholatnya lama, nanti malah capek dong mi…”

Ibadah puasa merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang berakal dan baligh. Meskipun demikian, anak-anak sudah boleh diperkenalkan dengan ibadah puasa agar mereka terbiasa dengan kewajiban tersebut nantinya. Bagi anak kecil, puasa dianggap sebagai kegiatan tidak makan dan tidak minum belaka tanpa mereka tahu apa makna dari menahan haus dan lapar itu sendiri. Sedangkan bagi orang tua, memang tidak mudah dalam mengajarkan dan memahamkan arti puasa bagi anak kecil.

Tak perlu pusing dan jauh-jauh untuk memahamkan arti puasa kepada anak kecil. Lihatlah alam sekitar kita. Secara sunnatullah, sesungguhnya puasa tidak hanya diwajibkan kepada orang mukmin saja, beberapa jenis makhluk hidup juga melakukan puasa sebelum mendapatkan kualitas dan kelangsungan hidupnya. Di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat taqwa, ialah puasanya ular dan puasanya ulat. 

Apa persamaan ular dan ulat? Keduanya berjalan dengan cara merayap. Tapi bukan cuma itu, ternyata ular dan ulat sama sama dalam fase hidupnya menjalani puasa. Namun terdapat perbedaan ‘hasil’ dari puasanya. Puasa ular hanya menghasilkan pergantian kulit. Ular tetap jadi ular dengan karakter yang sama dengan sebelumnya. Tetap berbisa dan berbahaya bagi manusia. Berbeda dengan ulat, setelah puasa dalam kepompong, ulat berubah menjadi kupu kupu yang cantik. Tidak hanya secara fisik berubah juga karakternya. Jika saat masih berwujud ulat, ia adalah musuh tumbuh-tumbuhan karena memakan daun dengan sangat rakus. Namun setelah berubah menjadi kupu-kupu, ia menjadi sahabat tumbuh-tumbuhan karena membantu penyerbukan. 

Puasa yang dijalani oleh umat Islam pada bulan Ramadhan ini juga bisa seperti ular atau ulat. Jika puasanya hanya sekadar ritual rutin belaka, saat lebaran hanya berubah jadi memakai baju baru tanpa ada perubahan karakter yang lebih baik, maka itu tipe puasa ular. Jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, hanya menggugurkan kewajiban saja, tidak mendapatkan pahala dan ampunan dari Allah SWT.  Maka dari itu, rasulullah bersabda:

 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

 

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”) 

Jadi, tanamkan sejak dini kepada anak kita: “Nak, puasa itu tak sekedar menahan lapar dan haus, tapi kita juga harus menjaga larangan-larangan yang dapat mengurangi pahala puasa, sehingga kita bisa berubah menjadi lebih bertaqwa kepada Allah, lebih peduli dengan orang lain, mendekat kepada kebaikan, lalu menebar kebaikan disekitar, ibarat ulat yang berubah menjadi kupu-kupu” 

Lapar mengajarmu rendah hati selalu 

Tadarus artinya memahami kitab suci 

Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi”


Oleh : Ust. Firdaus, M.Pd.

 

 

Kekuatan Tauhid disaat Bencana

Sering kita mendengar seruan manusia kepada Allah dengan kata-kata “Allahu Akbar”, Masya Allah”, “Subhanallah”, “Laailaahaillallah”, atau “Allah Allah”. Kata-kata tersebut terucap oleh manusia pada saat menyaksikan kebesaran Allah, dalam keadaan mendapat ni’mat atau musibah. Hal ini sebagaimana contoh berikut ini:  

1.      Sahabat Bilal bin Rabbah ra pada saat dipaksa murtad dengan dijemur dan ditindih batu, terucap “Ahad-Ahad” untuk menguatkan kesabaran dan tauhid kepada Allah.

2.      Pada saat perang berkecamuk melawan penjajah, sebagaimana yang dikibarkan oleh Bung Tomo “Allahu Akbar-Allahu Akbar”. Maka timbulah kekuatan spiritual mengalahkan kekuatan persenjataan penjajah yang lebih lengkap. 

3.      Pada saat menghadapi atau tertimpa musibah berupa tsunami, gempa bumi, gunung meletus maupun bencana disebabkan kelalaian manusia.

Demikianlah suara-suara fitrah manusia untuk kembali mentauhidkan kepada Allah. Mereka yakin tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Allah, meskipun sebelumnya mereka meminta kepada selain Allah. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.  (QS Ar-rum 30)

Demikianlah fitrah bertauhid akan berbicara manakala manusia ditimpa masalah yang dirinya sudah tidak mampu lagi meminta pertolongan kepada makhluk. Tetapi secara umum, manusia akan terbagi menjadi empat dalam menghadapi musibah atau bencana:                                                                                                       

Pertama, Orang yang tertimpa musibah atau bencana dengan marah dan jengkel, baik dalam hati, lisan maupun perbuatan. Hatinya berburuk sangka terhadap Allah, lisannya mengeluh dan mencela takdir Allah, dan perbuatannya bermaksiat kepada Allah.

Kedua, Orang yang tertimpa musibah atau bencana dengan bersabar meskipun dirinya tidak menyukai. Berusaha menahan diri dari segala yang diharamkan untuk mendapatkan pahala Allah.

Ketiga, Orang yang tertimpa musibah atau bencana dengan ridha kepada Allah, berusaha tidak hanya sabar tapi tidak mengeluh dengan ketetapan Allah. Karena musibah yang menimpanya sebagai wujud cinta Allah untuk mengujinya.

Keempat, Orang yang tertimpa musibah atau bencana dengan bersyukur, karena baginya musibah adalah sarana unuk menghapus dosa dan meningkatkan derajat disisi-Nya.


Oleh : Ust. Muntohar, M.Pd.I

 

Kandungan Surat At-Takatsur

 

Allah SWT berfirman:

 

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ١

 

Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur:1)

 

 

 

Isi surat At-Takatsur seluruhnya berisi janji, ancaman dan peringatan yang cukup bagi orang-orang yang mau berpikir. Firman-Nya: “...telah melalaikan kalian..” yakni kesibukan Anda dengan cara yang tidak benar telah melalaikan Anda, karena melalaikan sesuatu berarti sibuk dengan sesuatu yang lain. Jika kelalaian itu terjadi disengaja, maka hal itu ada hukumannya, sedangkan jika tidak disengaja maka pelakunya dimaafkan dan hal itu termasuk dalam kategori lupa.

 

Rasulullah SAW bersabda tentang selimut atau tirai bermotif bunga:          

 

...فإنَّها ألْهَتْني آنفًا عن صلاتِي

 

“Sesungguhnya selimut ini telah melalaikanku tadi dari shalatku.”

 

 

 

Dalam hadis juga disebutkan dengan kata-kata: “Lalu dia lupa dari anak itu”.

 

Kata “lalai” digunakan untuk hati, sedangkan kata “bermain-main” adalah anggota badan, sehingga keduanya dapat digabungkan. Maka dari itu, firman Allah “bermegah-megahan telah melalaikan kalian” lebih tepat daripada perkataan “kalian telah disibukkan.”  Sebab bisa jadi seseorang melakukan suatu kesibukan dengan menggunakan anggota badannya untuk bekerja, tetapi hatinya tidak lalai.

 

Di dalam Shahih Muslim disebutkan perkataan Abdullah ibn As-Sikhir, bahwa dia menghadap Rasulullah SAW ketika beliau membaca surat At-Takatsur. Nabi SAW bersabda:

 

قَالَيَقُولُ ابنُ آدَم: مَالي! مَالي! وَهَل لَكَ يَا ابْنَ آدمَ مِنْ مالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَو لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟! رواه مسلم.

 

“Ibnu Adam berkata, ‘hartaku, hartaku’. Dan apakah bagimu dari hartamu, kecuali apa yang kamu makan lalu habiskan atau yang kamu pakai lalu rusak, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu lewatkan?” (HR. Muslim)

 

Arti bermegah-megahan adalah saling beradu atau saling berlomba mengumpulkan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sedangkan sesuatu yang dimegah-megahkan dalam ayat ini tidak disebutkan, sehingga bersifat umum. Yaitu segala sesuatu yang dimegah-megahkan oleh manusia selain ibadah kepada Allah SWT, Rasul dan apa yang membawa manfaat di akhirat kelak. Bermegah-megahan bisa termasuk di dalamnya harta, jabatan, kepemimpinan, wanita, kisah (riwayat hidup), dan ilmu pengetahuan, apalagi kalau semua itu tidak diperlukan. Orang yang meminta agar dilebihkan dari orang lain, dia dapat dikatakan bermegah-megahan. Ini adalah perbuatan yang tercela, kecuali jika bermegah-megahan itu tentang sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berlomba-lomba dalam memperbanyak kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebajikan.

Oleh : Ust. Arian Sahidi, M.Pd.

 

Menebar Kasih Sayang

Rasulullah SAW bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di atas muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit”. (HR. Tirmidzi).

Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang. Mewujudkan kasih sayang pada diri sendiri, serta memberikan kasih sayang kepada siapa dan apa yang ada disekeliling kita adalah ibadah. Dan itulah bagian dari sifat dan jati diri orang muslim.

Sifat saling menyayangi adalah sifat yang terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya Allah SWT akan memberikan pahala atas setiap kasih sayang yang diberikan oleh seorang Muslim kepada makhluk yang lain baik itu kepada kerabatnya maupun kepada yang bukan kerabatnya, bahkan kasih sayang yang diberikan oleh seseorang kepada binatang dan tumbuhan sekalipun.

Rasa kasih sayang seharusnya timbul kapan saja dan tanpa harus seremonial tertentu pada waktu tertentu saja. Kasih sayang merupakan wujud rasa persaudaraan yang mengikat hati antara setiap makhluk Allah. Hubungan persaudaraan tidak sebatas pada hubungan darah atau keturunan saja, tetapi lebih pada aqidah atau keyakinan sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Jika kesadaran ini yang melandasi etika saling berkasih sayang setiap orang di bumi Allah ini, niscaya tidak akan terdengar kasus kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan perilaku kezaliman lainnya. Karena rasa kasih sayang yang ikhlas dan diaplikasikan sesuai kaidahnya akan memberikan energi positif bagi diri dan lingkungan sekitar.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah. Seorang dari sahabatnya bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban).

Hadits ini secara jelas memberikan perintah untuk saling berkasih sayang antara sesama manusia tanpa embel-embel apapun. Karena balasan bagi mereka yang menumbuhkan akhlak saling berkasih sayang tidak sebatas kehidupan di dunia saja, tetapi hingga kelak di akhirat. Sangat lucu bila kemudian ada remaja atau mereka yang kasmaran mensyaratkan rasa cintanya dengan harus rela menjadi budak nafsunya. Mungkin kepuasaan mereka dapat rasakan saat itu, tetapi semua itu hanya bersifat sementara dan dampak negatifnya lebih besar.

Islam sangat memahami cinta. Karena itu Islam menganjurkan pernikahan. Bahkan hingga level  emergency atau wajib bagi yang sudah mampu. Itu adalah fitrah dan Islam tidaklah bertentangan dengan fitrah manusia. Ia bukanlah ajaran yang mengharamkan cinta dalam bingkai pernikahan seperti kependetaan dalam kekristenan.

Allah menurunkan ke dunia ini hanya satu rahmat saja. Dengan satu rahmat itulah makhluk saling berkasih sayang sampai-sampai induk binatang mengangkat kakinya karena takut terinjak anaknya, demikian sebuah hadits dari Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas kasihan dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Jika seekor induk binatang saja memahami etika berkasih sayang, maka sepatutnya manusia lebih mampu untuk saling berbagi kasih sayang. Karena manusia tidak hanya dibekali naluri, tetapi juga akal pikiran dan perasaan yang tidak terdapat pada mahkluk Allah lainnya di muka bumi ini.


Oleh Ust Muammar,Lc.,M.H.

Pict by kumparan.com

Semua Atas Kehendak-Nya

Semua Atas Kehendak-Nya

oleh M. Alfian N Azmi, S.T.,S.Ud.

Manusia hanya berencana, akan tetapi hanya Allah yang akan menentukan.  Sering kita mendengar kata, “tugas manusia hanya berusaha dan berdo’a”, namun hasilnya hanya Allah yang akan menetukan, sehebat apapun manusia berusaha dan sesering apapun manusia berdo’a. Namun jika Allah belum mengijabah, belum menentukan atau belum mengabulkan, maka hasil tersebut juga tidak akan didapat. Allah maha tau segala hal yang tebaik untuk hamba-Nya.

 “Dan barangsiapa berusaha, maka sesungguhnya usahanya itu untuk dirinya sendiri.” (Al-Ankabut 6)

Setiap manusia pada umunya  pasti menginginkan bisa hidup tenang, bahagia, berkecukupan serta tidak ada konflik batin, seperti kecemasan, kekhawatiran dan takut dalam hidupnya. Itu semua adalah hal yang sangat manusiawai dan diinginkan oleh semua orang, tapi sayangnya, bagi beberapa orang, hal tersebut merupakan sesuatu yang  kadang sulit untuk dicapai dan bahkan paling sulit untuk diraih. 

Kebanyakan dari kita, seringkali mencemaskan segala sesuatu yang terkait dengan rezeki dan keinginan-keinginan duniawi kita yang belum tercapai. Tidak ada yang salah dengan sesorang yang mempunyai mempunyai keinginan, karena itu seharusnya hal tersebut dapat membuat kita termotivasi untuk senantiasa berdo’a dan berusaha untuk mendapatkannya. Tetapi yang sering membawa kita pada kekecewaan adalah, disaat usaha kita tidak membuahkan hasil atau gagal. Ini salah satu yang menjadi penyebab konflik batin yang menyebabkan ketidakbahagiaan, dan yang menjadi obyek ketidak puasan kita dengan usaha dan do’a kita.

 “Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut 69)

Kita harus menyadari bahwa hidup kita kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Layaknya roda yang berputar. Dalam hidup ini, kadang kita bisa meraih apa yang kita inginkan, mencapai apa yang kita do’akan dan usahakan.  Kadang mengalami keberhasilam dan kadang juga mengalami kegagalan. Tidak ada seorang pun manusia yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, satu jam kemudian atau semenit kemudian. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha dan berdoa disertai dengan tawakal kepada Allah SWT. Dalam berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan, sebaiknya kita berusaha dan ikhtiar sebaik mungkin, dan semaksimal mungkin, namun tetap menyerahkan segala hasil dari usaha yang kita lakukan kepada Allah SWT, dan hanya mengharap ridho Allah. Karena Allah SWT lah yang berhak menentukan, Allah SWT  Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Allah SWT Maha tahu apa yang paling baik dan paling cocok untuk kita.

 “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah 17)

Dia-lah ALLAH SWT yang berhak menentukan segalanya, karena setiap kejadian, apakah itu kejadian baik atau buruk yang menimpa segenap insan di bumi ini, merupakan bagian dari skenario Allah SWT, bagian dari apa yang sudah digarskan Allah dan semuanya sudah tertuang dalam Lauhil Mahfuzh. Begitu juga disaat Allah memberikan manfaat (kebaikan) atau suatu kesulitan (musibah) pada seseorang, tentunya hal ini juga pasti mengandung hikmah didalamnya.

Manusia memang boleh berharap dan berencana tentang apa saja yang diinginkan, apa saja yang diharapkan, akan tetapi Allah satu-satunya yang berhak menentukan hasil akhirnya. Ini berlaku bagi siapapun seorang hamba. Oleh karena itu, apapun yang kita usahakan dan harapkan, tetap harus ada ruang, waktu dan tempat yang kita sediakan untuk Allah. Sebuah waktu, ruang tekhusus, yang merupakan waktu kita untuk berdo’a dan berusaha, dengan berkeyakinan penuh bahwa usaha yang kita lakukan atas kehendak Allah SWT, yang benar-benar berada di luar kuasa dan jangkauan kita. Yang mana dalam ruang keyakinan ini, kita hanya bisa menyikapinya dengan cara berdo’a, berharap dan bertawakal kepada-Nya.

Wallahualam bissawab

 

 

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239