Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

LARI DARI KEMATIAN

Dunia  mempunyai sifat fana yang artinya kehancuran, hal ini tidak bisa diubah dan merupakan sunnatullah. Fana bagi manusia adalah senantiasa berubah dari waktu kewaktu , seorang manusia tidak mungkin akan menjadi bayi terus menerus, juga tidak akan menjadi remaja/muda terus menerus, akan tetapi dia selalu berkembang,  baik jasmani maupun  rohaninya yang  akhirnya akan mengalami kelemahan dan kematian. Mayoritas manusia mereka tidak suka dengan kematian, bahkan mereka akan mengerahkan segala upaya agar terhindar dari kematian. Islam telah memberikan solusi cara pandang kehidupan dan kematian.  Seorang muslim tidak boleh takut dengan kematian dan juga tidak boleh mencari kematian, karena status hidup bagi seorang muslim adalah “Ziyadatan fil khair” (menambah kebaikan) dan mati adalah “Raahatan fii kulli syarri” (Istirahat dari segala kemaksiatan).

Selengkapnya: LARI DARI KEMATIAN

HATI-HATI DENGAN HATIMU!

Suatu hari mungkin kita pernah merasakan hati yang hampa, melakukan suatu kerjaan terasa hambar, rasa malas menyelimuti hati bahkan ingin rasanya pergi jauh entah kemana. Karena keinginan-keinginan kita tak kunjung terwujud. Atau pada kondisi yang sebaliknya, merasa dalam kesuksesan dan bahagia, apa yang diinginkan tercapai, semua kebutuhan terpenuhi berkat usaha sendiri hingga merasa aman dan nyaman dengan dirinya.

Selengkapnya: HATI-HATI DENGAN HATIMU!

BIJAKSANA MENGHADAPI KORONA

 

Mendadak, banyak orang awam bahkan terpelajar berubah status menjadi ahli ilmu virologi, bahkan epidemologi. Mereka tampil ke muka untuk memberikan kuliah tentang sebab, cara penularan, tindakan preventif, atau bahkan menawarkan obat Covid-19. Pada kalangan ummat beragama (tidak terkecuali Islam), pendemi Covid-19 telah menjadi bahan ceramah segar yang seolah menjadi materi wajib dalam setiap kesempatan ceramah.

Selengkapnya: BIJAKSANA MENGHADAPI KORONA

IMAN SEMANIS COKLAT


    Keimanan adalah hal yang bersifat immateri, namun keimanan sendiri dapat dirasakan keberadaannya bahkan manisnya keimanan dapat dirasakan oleh semua orang yang mau untuk merasakannya. Dikatakan orang yang mau, karena ada segolongan orang yang tidak menginginkan untuk merasakan manisnya iman tersebut yang ditandai dengan pembangkangan mereka terhadap apa-apa yang telah digariskan oleh Allah, beriman secara parsial, banyak melakukan maksiat, dan penolakan secara eksplisit terhadap keimanan tersebut seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq. Sehingga merasakan manisnya iman itu sendiri merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap muslim manapun.

Selengkapnya: IMAN SEMANIS COKLAT

Menepati Janji.!!

 

Kehidupan kita didunia ini sesungguhnya merupakan suatu mata rantai dari pada ikatan janji, janji yang diucapkan dengan lisan atau perbuatan, Baik janji sang maha Pencipta, yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala, janji pada diri sendiri, maupun janji kepada sesama manusia. Mengakui sebagai hamba Allah kita berikrar dan bersyahadat, artinya akan menepati janji dengan Allah.

Selengkapnya: Menepati Janji.!!

JATUH BANGUN KEMBALI

 

Jika seorang anak jatuh dari latihan sepeda, mestinya orang tua akan tetap memotivasi agar  tidak putus asa. Memulai  latihan dari menuntun sepeda, menaikinya dengan kaki menyeret ke tanah, hingga melepas dan menggayuh pedalnya. Jatuh dan bangun itu tidak hanya menimpa seorang anak, tetapi jatuh terjadi pada setiap orang tua, terjadi pada suatu bangsa, terjadi pada peradaban manusia dari generasi ke generasi.

Selengkapnya: JATUH BANGUN KEMBALI

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239