Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

MENGHADAPI RASA TAKUT

Kita manusia memiliki masalah dengan rasa takut. Rasa takut ada dalam diri semua orang.  Rasa takut bisa muncul dalam bermacam bentuk, sehinga membatasi dan mencegah manusia untuk  melakukan aktivitas. Apalagi di masa pandemi yang penuh dengan ketidakpastian, maka banyak diantara kita semakin cemas dan takut. Hampir setiap hari, grup whatshap disuguhi berita duka saudara-saudara kita. Kalimat istirjaInnalillahi wainnailai raji’un” semakin memenuhi ponsel kita.

Seolah-seolah kematian akan datang menghantui dan menggilir setiap diri dengan pertanyaan “jangan-jangan sebentar lagi giliran saya”. Apalagi jika terkonfirmasi positif covid 19, maka bayangan kematian semakian dekat. 

Ya itulah rasa takut yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya di dunia, agar semakin waspada dan waspada jika apa yang ditakuti akan terjadi. Allah swt menyebutkan bahwa ketakutan yang terjadi didunia baru sedikit sebagaimana firman-Nya bisyai imminal khaufi wal  ju’i (dengan sedikit ketakutan dan kelaparan). Terungakplah melalui firman-Nya, bahwa itu adalah sebagian dari ujian yang telah disediakan untuk manusia. Ujian datang kadang berupa kebahagiaan dan pada saat yang lain Dia juga memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. Di masa pandemi banyak yang takut kehilangan pekerjaan, kekurangan harta, sehingga pundi-pundi dapurpun mengering dan kelaparan semakin melanda, kesehatan menurun serta banyaknya kematian. Sebagaimana firman Allah Swt:

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

Takut dalam Bahasa Arab khauf, yaitu reaksi emosional yang muncul disebabkan oleh dugaan seseorang tentang adanya kebinasaan, bahaya atau gangguan yang akan menimpa dirinya. Jika apa yang ditakuti benar-benar terjadi, maka itulah namanya musibah. Musibah berpotensi pahala juga berpotensi dosa. Barangsiapa bersabar, maka Allah akan memberikan pahala baginya, dan barangsiapa berputus asa dari musibah itu, maka Allah akan menimpakan siksa kepadanya.

Sikap seorang beriman, ketika tertimpa musibah telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Diantaranya adalah kisah dari Ummu Salamah yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya,) melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.”

Kata Ummu Salamah, Ketika Abu Salamah (suaminya) meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salama, yaitu Rasulullah. (HR. Muslim)

Perasaan takut termasuk bagian penting dari kajian aqidah, maka ulama membagi perasaat takut menjadi tiga bagian:

Khauf  Thobi’i

Yaitu perasaan takut yang bersifat naluriah. Misalnya perasaan takut seseorang kepada sesuatu yang membahayakan seperti binatang buas, takut terhadap ancaman wabah, takut mendekati api, takut tenggelam di tengah lautan atau takut yang bersifat naluri kemanusiawian. Seseorang yang memiliki rasa takut ini tidaklah tercela.

Khauf ‘ibadah

Yaitu perasaan takut yang diarahkan kepada Allah dan bernilai ibadah. Perasaan takut kepada Allah ada yang terpuji dan ada yang tidak terpuji. Perasaan takut kepada Allah yang terpuji adalah jika akhirnya bisa menghalangi diri dari kemaksiatan kepada Allah, yang mendorong untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan mencegah dari hal-hal yang diharamkan. Jika tujuan ini terwujud, hati akan tenang dan tentram serta diliputi perasaan gembira oleh nikmat-nikmat Allah dan harapan kepada pahal-pahala-Nya.

Perasaan takut kepada Allah yang tidak terpuji adalah yang menyebabkan seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, sehingga ia banyak meyesali diri, patah semangat, atau bahkan semakin jauh terjerumus dalam kemaksiatan disebabkan oleh kuatnya rasa putus asa.

Khauf sir

Yaitu perasaan takut tersembunyi. Misalnya takutnya seseorang kepada penghuni kubur atau kepada berhala, takut kepada pohon angker. jika hal tersebut diyakini mendatangkan bahaya maka termasuk dalam khauf sir.

Kembali pada persoalan takut kepada wabah covid 19, mestinya ketakutan ini diimbangi dengan harapan dan semakin memotivasi kita untuk menjalani kehidupan penuh makna serta meraih peluang pahala akan musibah ini.

Ibarat burung, jika ingin terbang sampai pada tujuannya, maka haruslah memiliki dua sayap yang saling mengepakkan sayap kanan dan kiri. Begitu pula manusia, jika ingin hidup seimbang haruslah memiliki rasa takut diiringi dengan harapan. Rasa takut mendorong manusia meninggalkan hal-hal yang mendatangkan siksa-Nya, sedangkan rasa harap akan mendorong manusia untuk taat kepada perintah-perintah-Nya. Harapan manusia kepada suatu perkara yang mudah diperoleh, atau perkara yang sukar diperoleh tetapi dianggap mudah. Seorang hamba memiliki harapan bukanlahlah dengan angan-angan kosong, tetapi melakukan usaha dan amal nyata. Sebagaiaman firman Allah:

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Adapun harapan yang tidak disertai dengan perbuatan, maka tidak lebih sekedar kecongkakan dan angan-angan yang tercela.

Pada akhirnya segala kejadian, segala sesuatu berjalan dan tunduk terhadap hukum Allah:

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (Juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).  (QS. An-Nahl: 49-50).

Wallahu alam

 

Penulis : Ust. Muntohar, M.Pd.

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239