Mewaspadai Ujub!!

 

"Untung ada saya".

"Dia bisa begitu karena saya".

" Saya lho yang bantu dia".

"Siapa dulu dong, gue gitu loh".

"Siapa dulu dong ibunya, bapaknya”.

Pernahkah Saudara mendengar kalimat-kalimat ini? Atau, malah pikiran dan lisan kita sendiri yang menuturkannya. Kita mungkin juga pernah berpikir,

 

“Aku lebih baik dari dia”.

“Aku lebih sholeh/sholehah dibanding dia”.

“Jabatan dan status sosialku lebih tinggi dibanding mereka”.

“Ibadahku lebih banyak”.

“Jilbabku lebih panjang”.

“Sholatku lebih khusyu”.

“Sedekahku dimana-mana”.

Na’udzubillah min dzalik, bila kalimat-kalimat ini keluar dari lisan kita atau fikiran-fikiran ini ada dalam benak kita. Kalimat dan fikiran yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita menganggapnya hal biasa. Kalimat yang tanpa kita sadari mengandung kesombongan dan sifat ujub yang merupakan sifat tercela yang harus dihindari oleh seorang muslim.

Ujub merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang secara harfiah artinya keangkuhan, kesombongan, atau rasa bangga (KBBI). Ujub adalah merasa diri lebih baik, lebih hebat, merasa berjasa pada keadaan atau kehidupan orang lain. Ujub merupakan salah satu penyakit hati yang tidak seharusnya ada dalam diri seorang muslim. Karena sifat ini akan membawa seseorang pada murka Allah.

Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ujub, maka ia menanti murka Allah” (HR. Baihaqi).

Ketika sifat ujub ada dalam diri seseorang, pada hakikatnya ia sedang menafikan peran Allah SWT dalam kehidupan. Padahal, tidak ada yang dapat memberikan manfaat maupun bahaya (kemudharatan) dalam kehidupan di alam semesta kecuali atas izin Allah SWT.

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".(QS. Al-A’raf : 188)

Seseorang yang memiliki sifat ujub karena merasa berjasa pada orang lain, merasa bahwa apa yang terjadi adalah karena kekuatan dan kelebihannya, membuat ia melupakan bahwa tidak ada hal di dunia ini yang terjadi tanpa izin Allah SWT. Islam mengajarkan seorang muslim untuk sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada kekuatan selain kekuatan-Nya. Manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin Allah. Seseorang bisa membantu atau menolong orang lain karena Allah mengizinkan hal ini untuk terjadi.

Adapun sifat ujub karena seseorang merasa lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain, kagum pada diri, dan kelebihan yang dimilikinya adalah bagian dari kesombongan dan keangkuhan. Hal ini dapat membuat seseorang merendahkan serta meremehkan orang lain. Di dalam Al-Qur’an banyak larangan dan celaan untuk kesombongan ini, seperti yang disebutkan di dalam QS. Al-Isra ayat 37 :

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Sifat ujub ini bisa membuat seseorang lalai bahwa apa yang Allah karuniakan berupa kelebihan baik dalam bidang keilmuan, kekayaan, fisik yang baik, kekuatan, dan jabatan yang pada dirinya juga merupakan salah satu bentuk ujian Allah. Seseorang mungkin saja gagal melalui ujian ini dan membawa kepada kesengsaraan dunia maupun akhirat.

Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. Thabrani)

Sebagai seorang muslim, sifat ujub harus kita bersihkan dari hati kita. Seorang muslim harus menyadari bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah-lah yang memberi kita kelebihan dan Allah-lah yang menentukan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini. Dalam diri kita hendaknya selalu ada sifat tawadhu’ atau rendah hati dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Orang mukmin adalah mereka yang selalu rendah hati dan menghargai manusia lainnya, seperti firman Allah SWT berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS al-Furqan:63).

Imam Ghazali mengajarkan beberapa kunci agar seseorang terhindar dari ujub.

Pertama, jangan meremehkan anak kecil. Anak kecil belum pernah bermaksiat, sehingga lebih baik dari orang dewasa.

Kedua, jangan menyepelekan orang yang lebih tua. Anggaplah orang lebih tua beribadah kepada Allah SWT lebih dulu daripada kita, sehingga bisa jadi amalan pahalanya lebih besar.

Ketiga, bila ada orang berilmu, berusahalah menganggap orang itu menerima anugerah yang tidak kita peroleh, sudah menjangkau apa yang belum kita capai, tahu apa yang belum kita ketahui.

Keempat, bila orang lain bodoh, anggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara diri kita berbuat maksiat dengan ilmu.

Kelima, bila orang lain kafir, anggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia husnul khatimah. Sebaliknya, bisa jadi Allah sesatkan diri kita dan di ujung kehidupan, lalu menutup usia kita dengan amal terburuk atau su’ul khatimah. Na’udzubillah…

Saudarakau, marilah kita lihat kembali diri ini, adakah tanda-tanda sifat ujub pada diri kita? Dan apakah kita akan terus memliharanya atau akan memulai untuk memperbaikinya? Pertanyaan ini hanya diri kita dan Allah-lah yang mengetahui jawabannya. Semoga kita termasuk pribadi muslim yang senantiasa memperbaiki diri dan dijauhkan dari sifat-sifat ujub tersebut. Amin

 

 Penulis : Itsna Nurahmah M, M.A.

Foto : Unsplash