Bekerja Keras dan Tanggung Jawab

 

 

Bekerja keras berarti berusaha atau berikhtiar secara bersungguh-sungguh, dengan kata lain bekerja keras adalah bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu yang dicita-citakan dan sesuai dengan target-target yang sudah ditetapkan.

 

Orang yang bekerja keras akan dengan senang hati menjalani kehidupan ini. Setiap detik kehidupan yang dijalaninya adalah bagian dari kehidupan yang lebih baik yang ia persiapkan untuk hari esok, untuk masa depannya yang lebih baik. Setiap detak nafas kehidupan dilaluinya dengan kepuasan hati dan dilandasi dengan keikhlasan hati, dan setiap langkahnya adalah perbuatan yang bermanfaat bagi siapa saja yang dijumpainya.

Empat prinsip yang harus dimiliki seorang muslim dalam bekerja dan bertanggung jawab harus memiliki menjadi acuan penting dalam menapaki kehidupan, Pertama. bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan). Kedua, bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban orang lain. Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi) dan Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi).

Setiap orang yang bekerja keras harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan atau prestasi tertentu yang diharapkan, kemudian disertai dengan do’a, usaha dan berserah diri (tawakkal) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, untuk kepentingan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa ta'ala.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Swt. telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash/28:77)

Orang yang cerdas tidak akan meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi. Ia tahu, perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika dilakukan, akan tetapi bila pengaruhnya terus berlangsung lama, akan amat besar pahala atau dosanya, karena setiap pekerjan, ucapan dan perbuatan apapun akan dimintai pertanggung jawaban.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Yasin [36]: 12, ”Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab itu bukan saja terhadap apa yang diperbuat seseorang, melainkan melebar sampai pada akibat dari perbuatan yang dilakukannya tersebut.

Artinya, perbuatan baik ataupun jahat akan diberikan pahala atau dosa ditambah dengan pahala atau dosa orang-orang yang meniru perbuatan itu. Orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, atau anak yang shaleh, kesemuanya itu akan mengakibatkan kebaikan. Demikian pula sebaliknya.

Tanggung jawab merupakan bagian dari ajaran Islam yang disebut mas’uliyyah. Setiap manusia harus bertanya kepada dirinya sendiri apa yang mendorongnya  dalam berperilaku, bertutur kata, bertindak dan merencanakan sesuatu.

Apakah perilaku itu berlandaskan akal sehat dan ketakwaan, atau malah dipicu oleh pemujaan diri, hawa nafsu, atau ambisi pribadi. Jika manusia dapat mententramkan hati nuraninya dan merespon panggilan jiwanya yang paling dalam, maka dia pasti bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Allah Subhanahu wa ta'ala. Berfirman.

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. al-Isra’/17:36).

Prilaku kerja keras dan tanggung jawab adalah prilaku yang terpuji yang tak hanya membawa manfaat dan hikmah bagi diri sendiri melainkan bagi diri orang lain. Adapun manfaat dan hikmah perilaku kerja keras, antara lain :

Pertama, seseorang bisa memaksimalkan potensi yang ada pada diri baik itu minat dan bakat, pengetahuan atau pun keterampilan, Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al Isra Ayat 70 “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

Kedua, Kerja keras akan membentuk pribadi seseorang menjadi lebih bertanggung jawab.

Ketiga, Bekerja keras akan mengangkat martabat seseorang dan menjauhkannya dari kehinaan (seperti meminta-minta). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Artinya: "Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, Bekerja keras menjadi jalan untuk memperbaiki kualitas hidup juga kesejahteraan. Kelima Bagi mahasiswa, dengan bekerja keras akan mampu meraih cita-cita yang diinginkan. Keenam Bekerja keras juga akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT sebab kerja keras adalah prilaku terpuji yang diganjar dengan pahala. Dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 105 yang artinya : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bekerja disejajarkan dengan keimanan, sekaligus sebagai wujud dari keimanan itu sendiri. Hal ini pulalah yang memberikan pemahaman bahwa bekerja hendaknya berada dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat  Al-Insyiqaaq ayat 6 yang artinya : “Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” Wallahualam Bishawab.  


Penulis : M. Alfian N Azmi, S.T.,S.Ud.,M.Sos.