Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

TALBIS IBLIS


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. An-Nuur [24]:21)

 

 

Talbis artinya menampakkan kebatilan dalam rupa kebaikan, maksudnya seseorang merasa melakukan sebuah kebaikan padahal sebenarnya ia sedang melakukan kebatilan/kemungkaran kepada Allah. Talbis lebih mudah dimaknai sebagai perangkap.

Iblis adalah makhluk Allah yang pertama kali mengingkari/mendurhakai perintah Allah untuk bersujud kepada Adam dikarenakan merasa dirinya lebih baik dari Adam. Maka Talbis Iblis adalah perangkap-perangkap yang dibuat oleh iblis dalam rangka memalingkan manusia dari mengabdi hanya kepada Allah. Setan adalah anak keturunan iblis, makhluk halus sejenis dengan jin diciptakan dari api, kerjanya menyesatkan manusia. Kalau hati tergerak untuk berbuat jahat, tanda hati itu telah dirasuki setan.

Para ulama telah banyak mengungkap bahaya setan dan sebangsanya, seperti Ibnul Jauzi dengan kitab Talbis Iblis secara rinci menjelaskan apa, siapa dan bagaimana setan itu. Maka agar kita bisa selamat dari perangkap setan yang dahsyat ini wajib kita ketahui seperti apa trik-trik setan dalam menjebak manusia masuk perangkapnya.

Trik pertama setan secara terang-terangan mengajak manusia untuk kufur, atheis, tidak mempercayai Allah, kitab maupun rasulNya. Rasionalitas sebagai standar manusia modern sedangkan agama adalah sesuatu yang irasional, memperbudak dan dogmatis. Seperti yang pernah kita dengar, Friedrich Nietzche berkata Tuhan telah mati, Karl Marx berkata agama adalah candu bagi masyarakat.

Trik kedua, jika seorang mukmin masih bisa selamat dari jebakan pertama adalah dibiarkan beragama dan rajin beribadah tetapi ditawari dengan hal-hal bid’ah yang sudah dibungkus dengan bumbu-bumbu ajaran agama sehingga terkesan sangat baik jika dilakukan. Bid’ah adalah menambah-nambah dalam hal ibadah (maghdah) yang dianggap/diyakini sebagai bagian ajaran Islam tetapi tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah. Seperti kegiatan ritual paska kematian salah seorang keluarga dengan hitungan hari-hari tertentu yang dibungkus dengan amalan-amalan sunnah seperti dzikir/wirid.

Jika seorang mukmin masih bisa lolos dari perangkap kedua ini, maka trik ketiga yang segera dilancarkan setan adalah menawari dengan dosa-dosa besar yang tentunya sudah dikemas sedemikian cantik dan mempesona. Seperti free sex sebagai sistem pergaulan anak jaman now, korupsi sebagai kemahiran mengatur dan menghitung angka-angka, durhaka kepada orangtua sebagai bentuk persamaan derajat semua anak manusia, sebagai simbol egalitarian.

Kalau perangkap ketiga pun masih bisa lepas, maka segera akan diserang dengan trik yang keempat yakni menawarkan dosa-dosa kecil yang sudah dipacking dengan sejuta bahasa nan indah yang akan melalaikan kita. Seperti kata-kata:”Manusia itu tempatnya salah dan khilaf, jadi ga apa-apa kalau kita melakukan kesalahan dosa kecil. Itu manusiawi, jangan dirisaukan, biasa sajalah.” Ingatlah apa yang pernah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib:”Dosa paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Selanjutnya manakala seorang mukmin masih jika berhasil menghindari jebakan setan ini, maka setan tidak pernah berhenti untuk membujuknya agar untuk bisa masuk dalam perangkapnya, yakni trik kelima dilancarkan dengan menyibukkannya pada hal-hal yang mubah sehingga lalai dari kewajiban yang seharusnya dilakukan. Contohnya wanita karier yang begitu hebat diluar sana dielu-elukan oleh partner dan coleganya tetapi anak-anak dan suaminya terabaikan, atau sebagai seorang pegawai/dosen asyik dengan hobinya misalnya tennis sehingga orang-orang atau mahasiswa yang mestinya dilayani terabaikan dan dirugikan. Atau juga mahasiswa yang begitu asyik dengan game di gadgetnya sehingga melupakan tugas-tugas akademiknya.

Jika sampai perangkap kelima ini seorang mukmin masih bisa berhasil menyelamatkan diri maka trik keenam lebih halus lagi, yaitu dengan menawarkan amalan ibadah-ibadah yang utama namun melalaikan hal-hal yang lebih utama. Misalnya kita menyibukkan diri bertafakur dan berdzikir di masjid maupun di rumah namun melalaikan masalah-masalah sosial yang ada disekitarnya.

Terakhir perangkap yang paling canggih, khususnya untuk orang-orang yang bertakwa maka pasukan setan disiapkan sedemikian rupa, tentara dari jenis jin dan manusia dikerahkan guna meluluhkan keteguhan seorang mukmin yang mukhlisin dengan segala cara seperti menyakiti, memfitnah, mencaci maki, membully, segala tindakan maupun ucapan kebenarannya disebut dusta, kesucian dan kemuliaan dirinya dianggap sebagai skandal atau pencitraan, segala nasehatnya diperlakukan sebagai tindakan subversif atau meresahkan masyarakat.

Setelah kita mengetahui talbis iblis, begitu sungguh-sungguhnya iblis dan setan dalam menyesatkan manusia maka bagaimana kiat-kiat untuk menangkal dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan mereka , antara lain adalah :


Ikhlas.

Hamba-hambaNya yang ikhlas akan dijaga dan diselamatkan dari gangguan setan, sebagaimana menurut pengakuan setan sendiri yang diceritakan Allah  dalam firman-Nya:

“Iblis berkata, “Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (QS.Al-Hijr[15]:39-40).

 

Dzikrullah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahannya”. (Al-A’râf[7]:20).


Menuntut ilmu agama

Senantiasa menyadari bahwa setan adalah musuh (QS. [2]:208). Berlindung kepada Allah dari godaannya terutama saat kita merasakan godaan itu. Tekunlah melakukan ibadah, senantiasa menuntut ilmu (dien) agar kita tidak terperdaya oleh tipu daya setan.

Wallahu a’lam bisshawab

 

 

Penulis : Ust. Achmad Husein, S.Ag.,M.Sos.

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239