KENIKMATAN YANG BESAR

 

Kenikmatan dalam hidup dirasakan berbeda oleh setiap orang. Ada yang merasakan kenikmatan pada perkara dunia, dan ada pula yang merasakan kenikmatan pada perkara akhirat. Masing-masing memberikan gambaran seberapa besar cita-cita hidupnya. Apabila seseorang hidup senantiasa ingin mengenal Tuhannya, mencintai-Nya dengan melakukan hal yang Dia cintai, ingin segera bertemu dengan-Nya, dan menjadikan seluruh waktunya untuk keridhoan-Nya, itulah cara mendapatkan kenikmatan hidup tertinggi.

 

Sebaliknya apabila seseorang sudah merasakan kenikmatan sebatas pada kesenangan dunia. seperti memuaskan hawa nafsunya dalam perkataan, perbuatan, dan perasaan yang tidak diridhoi Allah, maka sungguh sebatas itu pula cita-citanya. Semua kenikmatan dunia seharusnya digunakan dan dijadikan sarana untuk mendapatkan kenikmatan akhirat. Karena sesungguhnya kenikmatan dunia itu semu dan tidak sempurna.

Allah mengetahui derajat kenikmatan yang dirasakan oleh semua orang. Yang paling tinggi adalah orang yang merasakan kelezatan hati, ruh, dan badan pada hal yang diperbolehkan dan diridhoi oleh-Nya. Ada pun yang paling rendah adalah kenikmatan yang dirasakan dalam melakukan hal kotor, hina, keji, dan dibenci oleh-Nya. Apabila orang yang sudah merasakan kenikmatan tertinggi, lalu ia dihadapkan pada perkara rendah, niscaya ia tidak akan menikmatinya, dan begitupun sebaliknya.

Kesempurnaan nikmat sejatinya ada pada bagaimana seseorang menjadikan segala kenikmatan dunia sebagai jembatan menuju kenikmatan akhirat. Allah tidak melarang manusia merasakan nikmat dunia, Dia-lah yang memberikan rezeki yang bisa dinikmati setiap orang. Tinggal bagaimana orang tersebut memaknai dengan bijak apa yang didapatkannya. Orang yang berakal pasti akan berpikir semua hal duniawi tidak kekal, sehingga ia akan mencari kenikmatan yang sesungguhnya dengan mendekat kepada Tuhannya.

Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad): ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah: ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.’” (Al A’raf: 32)

Janji Allah bagi orang yang beriman dan bertakwa adalah kenikmatan dunia dan akhirat. Karena mereka adalah orang-orang yang memprioritaskan urusan Tuhannya. Apabila mereka tidak diberi kenikmatan yang banyak di dunia, mereka meyakini bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik di akhirat nanti.

Ada pun orang-orang yang menginginkan kenikmatan dunia semata, mereka tidak merasakan bahwa hal yang diusahakannya untuk menggapai kenikmatan itu adalah hal yang sia-sia. Karena kelezatan dunia adalah pemutus kenikmatan yang sebenarnya. Sudah selayaknya orang-orang tersebut sadar, ketergantungan akan kenikmatan dunia hanya melenakan dan memperburuk jalan kepada sesuatu yang lebih besar.

Kenikmatan yang dijanjikan Allah di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang berhak mendapatkannya tidak akan bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang semu. Jika kenikmatan dunia tidak didapatkan, maka yakinlah bahwa kenikmatan akhirat yang berlipat akan menantinya. Semua perlu diusahakan, bukan berputus asa mengira Allah tidak memperdulikannya. Cita-cita akhirat memang tidak didapatkan dengan mudah semudah mengikuti hawa nafsu. Ia bernilai tinggi, tidak akan mencapainya orang yang masih terbelenggu nikmat dunia.

Allah menyebutkan orang-orang yang merugi adalah yang tidak bisa memanfaatkan apa yang didapatkannya di dunia untuk akhiratnya, “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang menikmatinya.” (Al Ahqaf: 20)

Kenikmatan dunia memang dapat menenangkan, tapi ia sangat berpotensi melenakan. Didapatkan atau tidak, setelah kenikmatan dunia itu ada kenikmatan yang lebih besar menanti yang harus disadari. Apabila kenikmatan dunia dirasakan dengan cara yang diridhoi Allah, ketahuilah bahwa kenikmatan akhirat yang kekal akan bisa diraih juga.