Rasa Memiliki Itu Bikin Sakit Hati

Siapa yang tidak sakit hati jika kehilangan orang yang sangat dicintainya. Atau berpindahnya sang kekasih kepada orang lain karena tidak mampu memelihara kekasihnya tetap setia? Rasa memilki atau sense of belonging adalah perasaaan yang akan melahirkan sifat mencintai, menjaga, melindungi, memberi pengorbanan dan kepedulian kepada sesuatu.

 

Rasa memilki yang timbul hanya dari diri manusia  itulah yang membuat kita tambah sakit, tambah berat, tambah stress, tambah pusing. Ketika rasa memilki terhadap dunia semakin bertambah maka akan semakin susah untuk melepaskan diri dari belenggu kepemilikian. Takut kehilangan harta, takut kehilangan jabatan, pekerjaan, anak sholeh, istri cantik, kendaraan mewah atau rumah mewah. Kesenangan-kesenangan tersebut disindir oleh Allah swt melalui firman-Nya: “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S Ali ‘Imran ; 14). 

Oleh karena itu Allah mengajarkan kepada kita jika kehilangan sesuatu atau tertimpa musibah dihadapi dengan sabar dengan mengucapkan Innalillahi wainnailai raji’un. Kita adalah milik Allah dan apa yang melekat pada diri kita adalah titipan Illahi yang sewaktu-waktu akan diminta untuk kembali kepada Sang Pemilik segala sesuatu yaitu Allah swt.

Tetapi kembalinya titipan Illahi yang dicintai manusia bukan berarti  sama sekali tidak boleh menetestkan air mata, karena ketika istri Rasulullah meninggalpun, Rasulullah menangis. Dikisahlakn di saat detik-detik wafatnya Khadijah: “Ummul Mukminin, Khadijah, pun mengembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Rasulullah SAW. Khadijah pun didekap dengan perasaan pilu dan sedih yang teramat sangat. Melihat air mata Rasulullah turun, ikut menangis pula semua orang yang ada di situ.”

Kisah Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat menjadi pelajaran bagi kita. Mereka meninggalkan segala sesuatu yang dimiliki di kampung Mekkah. Rasulullah memanjatkan doa kepada Allah agar diberi kekuatan ketika meninggalkan Mekah, agar hati Rasulullah tidak terlalu terikat pada Mekah dan Rasulullah berdoa’a agar diterima dengan baik di tempat baru. Doa itu dipanjatkan kepada Allah swt ketika beliau hendak meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Rasulullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku, yang tadinya aku bukanlah siapa-siapa. Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi dunia, cobaan masa, musibah siang dan malam,”

“Ya Allah, temanilah aku dalam perjalananku, jagalah keluargaku yang kutinggalkan. Berkahilah apa yang Engkau anugerahkan kepadaku, tundukkan aku kepadaMu. Tegakkanlah aku pada akhlak yang baik, buatlah aku mencintaiMu dan janganlah Engkau serahkan aku kepada manusia,”.

“Wahai Tuhanku, orang-orang adalah lemah sedangkan Engkau adalah Tuhanku. Aku berlindung dengan Wajah-Mu Yang Mulia, yang karenanya langit dan bumi bersinar, kegelapan tersibak dan urusan orang-orang yang terdahulu menjadi baik,”.

“Janganlah Engkau timpakan murka-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, datangnya siksaan-Mu, hilangnya afiat-Mu dan seluruh murka-Mu. Bagi-Mu lah segala kesudahan yang baik pada diriku menurut kesanggupanku, tiada daya kekuatan kecuali dari-Mu,”.

Setelah kurang lebih 10 tahun, ternyata dibalik semua itu, Allah mengembalikan yang lebih kepada Rasulullah dan para sahabatnya ketika fathul Mekkah. Jadi ketika apa yang dimiliki seseorang hanya disandarkan pada dirinya sendiri, maka menjadi sakitlah hatinya. Tetapi jika yang miliki seseorang  sandarannya hanya kepada Allah, maka menjadi indahlah pada akhirnya. Hilang sakit hatinya. Wallahu alam.