Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

LARI DARI KEMATIAN

Dunia  mempunyai sifat fana yang artinya kehancuran, hal ini tidak bisa diubah dan merupakan sunnatullah. Fana bagi manusia adalah senantiasa berubah dari waktu kewaktu , seorang manusia tidak mungkin akan menjadi bayi terus menerus, juga tidak akan menjadi remaja/muda terus menerus, akan tetapi dia selalu berkembang,  baik jasmani maupun  rohaninya yang  akhirnya akan mengalami kelemahan dan kematian. Mayoritas manusia mereka tidak suka dengan kematian, bahkan mereka akan mengerahkan segala upaya agar terhindar dari kematian. Islam telah memberikan solusi cara pandang kehidupan dan kematian.  Seorang muslim tidak boleh takut dengan kematian dan juga tidak boleh mencari kematian, karena status hidup bagi seorang muslim adalah “Ziyadatan fil khair” (menambah kebaikan) dan mati adalah “Raahatan fii kulli syarri” (Istirahat dari segala kemaksiatan).

 

Minimal ada dua hal kenapa manusia takut kepada kematian diantaranya:

  1. Takut berpisah dengan apa yang dia cintai dan ingin lebih lama bersenang-senang.

Mencintai kehidupan dunia adalah sesuatu yang alami yang  sudah Allah titipkan pada diri setiap manusia sebagaimana firman Allah

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenanga hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali Imran)

Allah memberikan sifat kecintaan orang yang beriman dengan “Asyaddu hubban lillah” cinta kepada Allah yang lebih besar.  Mencintai yang akan hancur adalah suatu kebodohan dan kerugian sedangkan mencintai yang kekal abadi adalah kecerdasan dan keberuntungan, Rasulullah SAW bersabda  Orang yang cerdas adalah orang yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang dungu adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan mengangankan kepada Allah berbagai angan-angan."(Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, nomor 2459).  Solusi yang ditawarkan Nabi kita dalam urusan dunia adalah cinta sekedarnya saja sebagaiman sabda rasulullah SAW “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi no.1997)

  1. Masih banyak dosa dan tidak tahu keadaan setelah kematian.

Merasa diri banyak dosa yang berdampak pada tambahnya ketaatan dan takut kepada perbuatan maksiat adalah suatu kebaikan dan keutamaan, akan tetapi merasa banyak dosa yang berdampak pada rasa putus asa, rasa pesimis dan rasa selalu menyalahkan diri  merupakan suatu kemungkaran bahkan bisa sampai pada kekafiran sebagaimana firman Allah “dan janganlah kalian berputus asa karena  tidaklah seorang merasa putus asa kecuali mereka orang-orang yang kafir” (QS. Yusuf 87). Solusi Al qur’an pada mereka yang berlumur dosa adalah bertaubat dan mengharap ampunan dari Allah “ katakanlah “wahai hamba-hambaku yang melampai batas terhadap diri mereka sendiri!  janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,  sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa  semuanya, sungguh Dialah yang Maha pengampun dan Maha Penyayang”. Allah mempunyai dua sifat pemberi rahmat yang selalu disandingkan dan sering kita baca dalam keseharian yaitu dalam bacaan basmallah yaitu sifat Rahman dan Rahim, sifat rahmannya Allah adalah memberi rahmat secara umum baik orang beriman atau tidak beriman, manusia atau hewan dan seterusnya, adapun sifat rahimnya Allah hanya teruntuk bagi mereka yang beriman, oleh karena itu ketika kita sudah beriman hendaknya kita selalu menyandarkan hidup kita dan selalu berhusnudzon /berprasangka yang baik kepada Allah baik urusan dunia maupun akhirat kita, sehingga akan terhindar dari perasaan putus asa dan pesimisme.

 

Para ahli hakikat mempunyai pandangan yang berbeda dengan kehidupan dan kematian. Ahli hakikat mengatakan kebanyakan manusia hidup didunia ini dalam keadaan bodoh karena tertutup tabir hakikat,   banyak  manusia yang menganggap penting pada sesuatu yang tidak penting, uang tidak penting tapi dianggap penting sedangkan sujud penting tapi dianggap tidak penting, jabatan dan kemewahan tidak penting tapi dianggap penting sedangkan berbuat baik dan menolong orang lain penting tapi dianggap tidak penting , karena menganggap penting maka dia akan mengerahkan segala upaya dan kekuatan untuk mendapatkanya tanpa mempertimbangkan halal haram, anggapan penting seperti inilah yang dilarang dalam Islam. Manusia akan mengetahui hakikat sebenarnya ketika Allah sudah menyingkap tabir hakikat  “fakasyafnaa ‘anka ghithoaka fabasorukal yauma hadiid” maka kami singkapkan tabir tersebut maka pada hari itu kamu akan berpandangan tajam /menjadi pintar,faham (tidak bodoh) (QS. Qaf:22). Maka sebelum tabir itu disingkap oleh Allah dengan mendatangkan kematian hendaknya kita sadar lebih awal akan makna kehidupan dan kematian ini, Jangan sampai tabir hakikat disingkap oleh Allah tapi kita terlambat sadar.  


Penulis : Ust. Fajar Sidig, S.Pd.

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239