Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

IMAN SEMANIS COKLAT


    Keimanan adalah hal yang bersifat immateri, namun keimanan sendiri dapat dirasakan keberadaannya bahkan manisnya keimanan dapat dirasakan oleh semua orang yang mau untuk merasakannya. Dikatakan orang yang mau, karena ada segolongan orang yang tidak menginginkan untuk merasakan manisnya iman tersebut yang ditandai dengan pembangkangan mereka terhadap apa-apa yang telah digariskan oleh Allah, beriman secara parsial, banyak melakukan maksiat, dan penolakan secara eksplisit terhadap keimanan tersebut seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq. Sehingga merasakan manisnya iman itu sendiri merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap muslim manapun.

 

Kata iman seringkali diartikan sebagai suatu keyakinan umat terhadap Allah. Keimanan menjadikan seorang muslim yakin dengan sebenar-benar keyakinan kepada Rabb-nya.  Allah SWT bersabda dalam Q.S Al-Hujurat ayat 15 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Seseorang yang bisa menjadi figur tentang keimanan ialah sahabat dekat Rasulullah SAW Abu Bakar radiyallahu anhu. Bahkan ia mendapat julukan Ash-shidiq yang artinya membenarkan. Begitu besarnya iman Abu bakar hingga Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya keimanan seluruh umat ditimbang dengan keimanan Abu Bakar, maka keimanan Abu bakar lebih berat.”

Generasi para sahabat Rasulullah SAW dapat menjadi generasi yang menginspirasi bagi kita yang ada di generasi zaman serba moderan ini atau sering disebut generasi jaman now. Kita mempunyai kesempatan untuk mengikuti jejak mereka dengan mempelajari shirah sahabat Rasulullah SAW. Tahukah kalian, mengapa para sahabat Rasulullah SAW begitu besar imannya? Karena mereka merasakan manisnya iman. Manis yang diawali dengan rasa cinta kepada Allah SWT. Rasa cinta ini akan menghadirkan rasa ridha dalam diri seseorang. Dan perasaan ridha akan selalu menghantarkan kita pada keihlasan.

Seperti halnya ketika kita menikmati sebuah coklat atau makanan yang terdapat tambahan coklat dalam bentuk apapun. Begitu manis bukan? Bahkan sebagian dari umat manusia di dunia beranggapan bahwa memakan coklat dapat menenangkan fikiran. Iman dan coklat kita bisa merasakan keduanya. Jika lidah yang merasakan begitu manisnya coklat, maka hati yang merasakan begitu manisnya iman. Rasulullah SAW bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (kedua) mencintai seseorang semata-mata karena Allah SWT. (ketiga) tidak senang kembali pada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah SWT, sebagaimana ketidaksenangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut, dapat ditarik pelajaran, bahwa ada tiga cara untuk dapat merasakan manisnya iman:

1.   Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun

Menempatkan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya bukanlah sebuah perkara yang mudah, karena bertemu dengan keduanya pun kita belum pernah, lantas bagaimana kita bisa untuk mencintainya sementara kita belum pernah bertemu? Pertanyaan tersebut mungkin terlintas di dalam pikiran kita, tapi Allah dan Rasul-Nya telah memberikan petunjuk cinta-Nya kepada kita semua. Tidakkah kita berpikir bahwa Allah senantiasa mencintai kita dengan nikmat tak terhitung yang selalu dapat kita rasakan di setiap pagi hari semenjak kita bangun tidur hingga kita akan tertidur lagi? Tidaklah Allah pernah lupa untuk mencintai kita sesaat pun. Cinta-Nya abadi dan suci, tidak akan pernah terlupa untuk setiap makhluk hidup yang ada di langit dan bumi. Lantas masihkah kita akan membalas cinta Allah dengan kebencian dan kemaksiatan kita?

Pun dengan kecintaan Rasulullah Muhammad SAW kepada kita, bahkan di penghujung hayatnya, beliau masih mengingat kita: “ummatku… ummatku…” sebagai wujud kekhawatiran beliau kepada ummatnya yang tercinta setelah kepergian beliau. Bahkan Rasululllah pun memberikan berjuta hikmah dan petuah yang patut kita contoh untuk menjadi seorang manusia idaman langit dan bumi. Maka apakah kita belum bisa untuk mencintai Rasulullah SAW ini?

Mencintai orang tua, keluarga, dan apa yang kita miliki itu biasa. Tapi saat kita bisa menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari segala apapun, maka inilah yang LUAR BIASA. Karena dengan cinta suci inilah, seorang Bilal bisa tetap bertahan di tengah deraan siksaan majikannya di tengah padah pasir yang tandus. Itulah kekuatan cinta kepada Allah dan Rasulnya. Begitupun dengan kita dituntut untuk dapat mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan cinta yang hanya kata. Tapi dengan cinta yang berupa aksi nyata dalam realita kehidupan kita dengan senantiasa mengikuti jejak langkah suci Rasulullah SAW dan mengamalkan agama Islam secara kaffah sebagai agama yang diridhoi oleh Allah SWT

2.   Mencintai seseorang hanya karena Allah

Mencintai seseorang selain Allah dan Rasulnya, merupakan hal yang wajar dan manusiawi untuk seluruh ummat manusia. Mungkin kita akan bertanya: “lho itu kan namanya menduakan cinta kepada Allah”. Menanggapi pernyataan seperti itu, ada seseorang yang telah lebih dulu bertanya tentang cinta ini.

Sewaktu masih kecil, Husain kecil bertanya kepada ayahnya, sayyidina Ali R.A: “apakah engkau mencintai Allah?” Ali menjawab: “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “apakah engkau mencintai kakek dari ibuku (Nabi Muhammad SAW)?” Ali kembali menjawab: “Ya” Lalu Husain bertanya lagi: “apakah engkau mencintai ibuku (Siti Fathimah R.A)?” lagi-lagi Ali menjawab: “Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “apakah engkau mencintai aku?” Ali pun masih menjawab: “Ya”. Terakhir Husain kecil bertanya lagi: “wahai ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?”. Kemudian sayyidina Ali menjelaskan “wahai anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku kepada kakek dari ibumu, kepada ibumu, dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah, karena sesungguhnya semua itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah SWT”. Setelah mendengar penjelasan itu, maka Husain kecil pun mengerti.

Dengan menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai puncak cinta kita akan menjadikan kecintaan kita kepada orang lain menjadi cabang cinta kita untuk menguatkan cinta kita kepada Allah. Kita tidak akan mencintai orang lain karena dirinya sendiri, tapi karena kecintaan kita kepada Allah. Pun sebaliknya, kita tidak akan membenci seseorang karena dirinya sendiri, tapi karena kebencian kita akan pembangkangan orang tersebut kepada Allah. Seperti apa yang dilakukan oleh guru-guru kita yang seringkali mengatakan kepada lawan debatnya: “saya tidak membenci saudara, tapi saya hanya tidak menyukai ideologi yang saudara pegang teguh (ideologi non Islam)”. Dengan hal ini pula, maka kecintaan kita kepada Allah akan selalu terjaga, karena dengan kita mencintai seseorang yang mencintai Allah akan terjadi proses saling menguatkan dalam mencintai Allah dan mencari keridhoan Allah secara bersama-sama.

3.   Benci untuk kembali kepada kekufuran, seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka

Salah satu karakter seorang muslim itu adalah dia benci untuk dikembalikan kepada kekufuran. Karena dia telah tahu bahwa surga tidak layak untuk seseorang yang telah berani kufur kepada pencipta surga. Dan satu-satunya tempat yang layak bagi seorang kafir hanyalah di neraka, tidak ada yang lain lagi. Sehingga kebencian untuk kembali kepada kekufuran menjadi salah satu dari tiga hal yang wajib ditempuh untuk merasakan iman semanis coklat.

Iman semanis coklat akan kita rasakan dengan amal-amal shalih seperti yang dipandukan oleh Nabi dan para sahabat. Tak hanya sekedar niat dan angan saja, tapi harus diwujudkan dalam perbuatan. Semoga Allah selalu menaungi niat kita untuk meraih manisnya iman, Allahumma Aamiin.

  Penulis : Ubay DC

 

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239