Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

BIJAKSANA MENGHADAPI KORONA

 

Mendadak, banyak orang awam bahkan terpelajar berubah status menjadi ahli ilmu virologi, bahkan epidemologi. Mereka tampil ke muka untuk memberikan kuliah tentang sebab, cara penularan, tindakan preventif, atau bahkan menawarkan obat Covid-19. Pada kalangan ummat beragama (tidak terkecuali Islam), pendemi Covid-19 telah menjadi bahan ceramah segar yang seolah menjadi materi wajib dalam setiap kesempatan ceramah.

Apakah salah? Tentu saja tidak, tugas dakwah adalah menyampaikan segala sesuatu yang menjadi probelematika ummat. Lalu, di mana masalahnya? Persoalan mulai muncul saat banyaknya ceramah yang dibawakan tentang Covid-19 tapi sebenarnya yang memberi ceramah tidak paham tentang Covid-19. Jika demikian, apakah tugas ummat hanya mendakwahkan ilmu agama saja? Tentu saja juga tidak. Coba kita sejenak belajar dari dr. Zakir Abdul Karim Naik atau yang lebih kita kenal dr. Zakir Naik. Ulama kelas dunia yang  sangat terkenal dengan keahliannya menjelaskan kebenaran agama Islam. Tentu saja pemahaman dan penguasaan ilmu Islam nya tidak diragukan. Lebih dari itu,Ia juga adalah seorang Dokter. Namun, kita bisa melihat bahwa dr. Zakir Naik tidak tergesa-gesa memberikan ceramahnya tentang Covid-19. Bahkan Ia pada akhirnya baru berceramah setelah pendemi ini berjalan lama dan banyaknya yang meminta tanggapannya. Apa yang dikatakan? Di luar dugaan, Ia justru prihatin dengan pemuka agama yang menyampaikan tentang Covid-19 padahal sebenarnya minim pengetahuannya. Dari hal ini harus bisa menangkap bahwa tidak dikatakan bijak seseorang, jika menyampaikan sesuatu yang  sebenarnya Ia tidak mengetahui sesuatu tersebut.

Pada tataran akar rumput, Covid-19 juga telah menjadikan ummat Islam di Indonesia terbelah menjadi beberapa sisi. Pada satu sisi ummat memandang bahwa Covid-19 ini hanyalah virus, tidak perlu ditakuti karena virus juga makhluk Allah SWT. Sedangkan pada sisi yang lain, ummat menjadi sangat takut bahkan cenderung berlebih sampai-sampai justru menjauh dari mengharap pertolongan Allah SWT. Jika demikian kondisi di lapangan,  lalu bagaimana seharusnya ummat Islam bersikap? Sebuah cerita dari Anas bin Malik tentang orang yang membiarkan Untanya tidak diikat di halaman Masjid karena merasa sudah bertawakal kepada Allah SWT menjadi pelajaran penting yang bisa kita ambil sebagai hikmah dalam menghadapi pendemi ini Covid-19 ini.

Alkisah, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan Masjid untuk mendatangi Rasulullah. Orang tersebut mambawa Unta dan Unta itu dilepas begitu saja tanpa ditambat. Rasulullah bertanya, ''Mengapa Unta mu tidak kau ikat ? '' Lelaki itu menjawab, ''Saya lepaskan Unta itu karena saya percaya pada perlindungan Allah SWT.'' Maka Rasulullah menegur secara bijaksana, ''Ikatlah Unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal kepada Allah SWT.'' Lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Dari cerita ini mungkin sebagian dari kita akan melanjutkan pertanyaan, kalau misalnya Unta itu sudah diikat, dan ternyata tetap hilang juga? itulah yang dinamakan takdir. Dari kisah ini kita belajar bahwa tidak cukup hanya berserah diri menunggu pertolongan Allah SWT, tanpa melakukan usaha dengan anggota badan kita.

 

Maka, sedikitnya ada empat hal yang bisa kita lakukandalam rangka menghadapi ujian dari Allah SWT yakni pendemi Covid-19 ini. Pertama,  Bertawakal kepada Allah SWT, tawakal dalam makna yang sebenarnya, tidak pasif menunggu pertolongan, namun aktif berusaha mencari jalan keluar. Agama Islam senantiasa mengajarkan kepada ummatnya untuk terus berusaha sekuat tenaga baru berserah diri kepada-Nya. Kedua, berada pada posisi tengah (ummatan washatan), senantiasa mampu mengendalikan diri sesuai dengan kemampuan dan tidak ekstrim dalam bersikap atas segala sesuatu. Senantiasa ada dalam koridor ilmu pengetahuan sekaligus tetap berpegang teguh terhadap ajaran agama. Ketiga, menerima Takdir dan ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT atas diri kita dan lingkungan kita. Sikap yang tidak mudah lari dari masalah serta senantiasa memposisikan segala sesuatu pada tempatnya. Keempat, muhasabah, tidak pernah berhenti untuk introspeksi diri atas kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan. Bisa jadi datangnya sesuatu yang negatif justru karena kesalahan serta kekurangan yang kita lakukan bukan dari orang lain. Maka memperbaiki diri sendiri akan jauh lebih bijaksana dibandingkan dengan memposisikan orang lain sebagai biang dari masalah yang kita hadapi. Akhirnya hanya kepada Allah SWT lah, sebenar-benarnya petunjuk jalan. Allah SWT berfirman: ''Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar (dari kesulitan), dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, Maka Allah akan mencukupkan (keperluannya).'' (Q.S. 65: 2-3). Wallahu a’lam.

 

Penulis : Andi Wahyono, M.Pd.

 

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239