Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

Mencari Surga dari Rumah

 

Baiti Jannati… Rumahku surgaku… Kata-kata tersebut sudah mengakar kuat dalam benak dan hati setiap manusia. Meskipun mayoritas manusia memahaminya dengan bangunan megah nan indah bak istana para raja, yang lengkap dengan fasilitasnya. Ada pula yang menganggap rumah kecil nan sederhana, asalkan berkah dan bahagia penghuninya. Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, mau tidak mau rumah merupakan tempat kembali dan berlindung dari berbagai kemungkinan buruk yang tidak kita sadari.

 

Saat ini pun kita tidak asing dengan ajakan “kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah”. Meskipun masih ada yang bingung bagaimana bekerja dari rumah, sementara harus menjemput rezeki di luar, ataupun ada yang kerepotan karena harus mengajar dan mendidik anak-anaknya. Bahkan bisa jadi ada yang kesulitan beribadah dari rumah, lantaran tidak ada yang mengajak dan mengingatkan. ‘Ala kulli haal, jangan sampai  jiwa kita meronta dan memberontak ingin keluar, lantaran bosan dan jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang selalu sama karena stay at home. Sabarlah…dan kembalilah ke rumah.

 Coba tengok seluruh sisi ruangan di rumah kita. Apakah kita memperlakukan rumah tidak lebih dari tempat persinggahan untuk tidur dan buang kotoran saja.  Ibarat sangkar yang dihuni beberapa ekor burung. Renungilah kala duduk bersama di ruang keluarga, tapi masing-masing asyik berkelana  dengan smartphonenya. Suami istri seranjang tapi masing-masing mengalami “orgasme” dalam dunia virtualnya. Bapak ibu masih tinggal seatap, tapi kadang tidak peduli dan tak beradab. Jika keadaan rumah seperti itu, maka diperlukan “renovasi” pemaknaan rumah, baik secara spiritual maupun sosial.

  Kini saat aktivitas setiap manusia berbalik 180 derajat, sebagian besar terpusat di rumah.  “Teguran” virus Corona menyadarkan kita akan pemaknaan rumah yang sebenarnya. Lantaran virus ini mudah sekali menular pada orang yang terdekat secara fisikal, termasuk orang yang tinggal serumah. Tiba-tiba bapak dan ibu khawatir anaknya terjangkiti. Seorang anak juga khawatir bila ibu, bapak, saudara sekandung terjangkiti. Merebak kekhawatiran jika sekeluarga terjangkiti semua, ada potensi keluarga itu tutup sejarah. Intinya, kita sebenarnya sedang diajak untuk kembali ke fitrah manusia sebagai mahluk keluarga.

Meningkatkan kualitas keluarga berarti memaknai “rumah” itu sendiri. Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan tatkala sedang berkumpul bersama keluarga guna mengusir rasa bosan selama physical distancing. Seperti memasak, berkebun, dan beribadah bersama keluarga dapat menjadi salah satu alternatif disaat merasa bosan. Paling tidak kita juga semakin kuat dan yakin akan janji dan kebenaran dari surat at-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”.

Ya, jika dengan pandemi Covid-19 seperti ini saja kita sudah khawatir akan mencelakai keluarga. Maka seberapa besar rasa kekhawitaran kita, bila salah satu keluarga kita ada yang di neraka? na’udzubillahi min dzalika. Mudah-mudahan rumah kita menjadi sarana yang akan mengantar kita ke surga-Nya kelak. Wallahu a’lam bisshowab.

 

Oleh : Ust. Firdaus, M.Ag

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239