Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

APAKAH SUDAH IKHLAS?

 

 Kapankah terakhir kali kita ikhlas?

Ikhlas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan.Banyak nasehat supaya kita selalu bekerja dengan ikhlas agar hidup lebih tenang dan bahagia. Namun ternyata tidaklah mudah beribadah atau beramal saleh dengan benar-benar ikhlas.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya”.

Ikhlas itu merupakan pekerjaan hati. Al-Junaid al-Baghdadi (tokoh tasawuf, sekaligus fiqih dari Baghdad) berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang hanya diketahui oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, namun tidak diketahui oleh setan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.”

Kalau ada pertanyaan, bolehkah amal kita diperlihatkan kepada orang lain? Jawabannya adalah tergantung “Niat”. Kalau niatnya ingin dipuji tentu itu menjadi riya’, namun bila niatnya adalah syiar supaya orang lain mengikutinya maka itu bukanlah riya’.Setiap amal itu tergantung kepada niatnya. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah ia akan tetap beramal meskipun ada atau tidak ada orang lain yang melihat. Namun bila ia hanya beramal ketika ada orang lain yang melihat, dan tidak beramal kalau tidak ada orang yang melihat maka itu tandanya tidak ikhlas alias riya’. Seseorang belum benar-benar ikhlas jika ia masih bahagia saat dipuji dan kecewa saat dicaci.

Ciri lain orang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk, karena yang diharapkannya hanyalah penilaian dan keridhoan Allah Swt. Orang yang banyak kecewa terhadap makhluk yaitu orang yang banyak berharap dan bergantung kepada makhluk.Dengan begitu maka kita perlu memahami makna ikhlas secara menyeluruh. Hakekat ikhlas sering diilustrasikan dengan filosofi gula dan kopi.

Filosofi Ikhlas Gula dan Kopi

Bila gula dicampur kopi dan dimasak dengan air namanya “Kopi Manis”,

bukan Kopi Gula. Disitu nama gula tidak disebut.

Bila gula dicampur teh dan dimasak dengan air namanya “Teh Manis”,

bukan Teh Gula. Disitu nama gula juga tidak disebut.

Tetapi jika rasa kopinya pahit, siapa yang disalahkan?

Tentu gula-lah yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasanya menjadi pahit.

Dan jika rasa kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan?

Tentu gula lagi yang disalahkan, karena terlalu banyak hingga rasanya menjadi kemanisan.

Namun jika takaran kopi & gula imbang, siapa yang dipuji...?

Tentu semua akan berkata... “Kopinya mantaaap.” Gula tidak mendapat pujian.

Begitulah fenomena kehidupan. Kadang kebaikan tak pernah disebut orang, tapi kesalahan akan dibesar-besarkan.

Kendati begitu tetaplah seperti gula, ia tetap memberi rasa manis meskipun namanya tak pernah disebut dan tak pernah mendapat pujian. Meski namanya tak pernah disebut dalam kopi manis atau teh manis namun semua orang tau bahwa peranan gula sangatlah signifikan. Begitulah hakekat ikhlas, perbuatan yang tak butuh pujian.

Maka tetaplah semangat menebar kebaikan. Karena kebaikan tidak untuk disebut, tapi untuk dirasakaan.

Belajar ikhlas lah dari daun, sebab daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tak melawan, dan mengikhlaskan semuanya berjalan pada semestinya.

Belajar ikhlas lah dari akar pohon, sebab akar pohon itu letaknya tersembunyi dalam tanah, tidak banyak manusia yang peduli atau mengaguminya. Dia terus bekerja siang dan malam demi kehidupan batang dan dedaunan tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih.

Belajar ikhlas lah dari Nabi Ibrahim, sebab ia rela dan mengikhlaskan anaknya untuk disembelih karena atas perintah Allah Swt. Marilah saat ini, detik ini, mulailah kita bersikap ikhlas dengan menjalani kehidupan ini. Awali lah permasalahan-permasalahan kecil dalam hidup ini dengan rasa dan sikap Ikhlas. Maka hidup yang indah dan jiwa yang tenang lah yang akan kita dapatkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239