Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

Bertawadhu’lah

 

Sikap yang hampir hilang atau lebih tepatnya luput dari sebagian besar manusia di manapun adalah ketawadhu’an. Jika kita mengamati kehidupan manusia, dalam lini sosial sehari-hari maupun lini media masa, kita akan mendapati keangkuhan manusia dalam berperilaku maupun berucap. Terjadinya banyak perpecahan dan perselisihan di berbagai lini kehidupan akhir-akhir ini adalah sebagai akibat hilangnya sikap tawadhu atau rendah hati pada diri manusia.

 

Bersikap tawadhu’ tidak berarti lemah, tidak berarti menjadikan diri rendah, justru sikap tawadhu, merendahkan hati adalah kesantunan yang menunjukkan seseorang memiliki derajat yang tinggi. Sebagaimana Imam asy-Syafi’i pernah bertutur, “Rendah hati melahirkan cinta,”  orang yang bersikap tawadhu’ akan dicintai dan dihormati sesamanya. Bentuk sikap kerendah hatian ini seperti yang ditunjukkan oleh panutan kita, Rasulullah Saw.. Beliau tak segan-segan memulai salam dan menyapa siapapun yang dijumpainya, sekalipun derajat beliau sebagai utusan Allah Swt. tak menjadikan beliau angkuh, beliau tak segan pula membawa barang dagangannya sendiri, sekalipun banyak sahabat yang menawarkan diri untuk membawakannya.

 

Sikap tawadhu’ adalah upaya menunjukkan orang lain lebih mulia daripada diri sendiri, sekalipun ia memiliki kelebihan dari orang lain. Termasuk sikap bertawadhu’, apabila seseorang memiliki suatu kapabilitas wawasan atau keilmuan, ia mengutamakan orang lain yang lebih berhak daripada ia. Sikap ini bukan berarti menunjukkan ketidakmampuan seseorang, melainkan menghormati orang lain yang lebih berhak untuk menyampaikannya. Dengan seperti maka akan tercipta rasa saling menghormati dan rasa saling mengasihi.

 

Barangkali inilah yang melatar belakangi banyaknya perselisihan dan huru hara di media sosial akhir-akhir ini, banyak manusia yang merasa dirinya berhak mengomentari apapun, hingga ia tak peduli lagi apakah perkataannya menyakiti pihak lain atau tidak. Seandainya ia memiliki sikap kerendah hatian maka ia tidak akan mudah unjuk diri, ia tahu kapabilitas dirinya. ia akan memikirkan perasaan orang lain. Sikap ketawadhuan ini hanya bisa dilihat dari sikap lahiriyah, apabila seseorang mengatakan ia telah bertawadhu’ namun perilaku lahirnya tidak menunjukkan ketawadhuan maka ini namanya sombong, kesebalikan dari tawadhu’.

 

Sikap bertawadhu’ ini juga menunjukkan sikap seorang ahli ilmu. Itulah kenapa adab lebih utama daripada ilmu. Karena tingginya adab seseorang menunjukkan kedalaman ilmunya. Diriwayatkan, Imam Malik, salah satu imam madzab yang menjadi gurunya Imam Syafi’i, tatkala ditanya oleh seseorang yang datang dari jauh tentang suatu perkara, beliau menjawab, “Aku tidak tahu tentang hal itu,” hingga diulang sebanyak tiga kali. Beliau tidak peduli lagi dengan reputasinya sebagai ahli fiqh, namun beliau melihat bahwa ada ulama yang lebih berhak dan tahu menjawab permasalahan tersebut.

 

Sikap Imam Malik ini sangat kontras dengan sikap ahli ilmu di zaman sekarang, dimana mereka mudah menjawab berbagai persoalan yang diajukan kepada mereka sekalipun mereka tidak memiliki kapabilitas. Banyak pula kita jumpai di lini masa sosial, seseorang mudah menampakkan kepandaian dirinya disertai merendahkan orang lain. Inilah dampak hilangnya sikap tawadhu’ atau kerendah hatian pada diri seseorang. Bayangkan, jika seseorang mendahulukan sikap tawadhu’, maka yang lahir di mana-mana adalah rasa saling menghormati dan mencintai, seseorang akan menakar setiap perbuatan maupun perkataannya, seseorang lebih sibuk memperhatikan kekurangan dirinya, hingga kedamaian akan menyeruak di sendi-sendi kehidupan.

Penulis : Ust. Irham M. Azamma, Lc.,M.A.

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239