Pendaftaran Test Baca Al Qur'an

INGIN KONSULTASI / BIMBINGAN ?

Connect with us ...

JLIB_HTML_CLOAKING    

Semua Atas Kehendak-Nya

Semua Atas Kehendak-Nya

oleh M. Alfian N Azmi, S.T.,S.Ud.

Manusia hanya berencana, akan tetapi hanya Allah yang akan menentukan.  Sering kita mendengar kata, “tugas manusia hanya berusaha dan berdo’a”, namun hasilnya hanya Allah yang akan menetukan, sehebat apapun manusia berusaha dan sesering apapun manusia berdo’a. Namun jika Allah belum mengijabah, belum menentukan atau belum mengabulkan, maka hasil tersebut juga tidak akan didapat. Allah maha tau segala hal yang tebaik untuk hamba-Nya.

 “Dan barangsiapa berusaha, maka sesungguhnya usahanya itu untuk dirinya sendiri.” (Al-Ankabut 6)

Setiap manusia pada umunya  pasti menginginkan bisa hidup tenang, bahagia, berkecukupan serta tidak ada konflik batin, seperti kecemasan, kekhawatiran dan takut dalam hidupnya. Itu semua adalah hal yang sangat manusiawai dan diinginkan oleh semua orang, tapi sayangnya, bagi beberapa orang, hal tersebut merupakan sesuatu yang  kadang sulit untuk dicapai dan bahkan paling sulit untuk diraih. 

Kebanyakan dari kita, seringkali mencemaskan segala sesuatu yang terkait dengan rezeki dan keinginan-keinginan duniawi kita yang belum tercapai. Tidak ada yang salah dengan sesorang yang mempunyai mempunyai keinginan, karena itu seharusnya hal tersebut dapat membuat kita termotivasi untuk senantiasa berdo’a dan berusaha untuk mendapatkannya. Tetapi yang sering membawa kita pada kekecewaan adalah, disaat usaha kita tidak membuahkan hasil atau gagal. Ini salah satu yang menjadi penyebab konflik batin yang menyebabkan ketidakbahagiaan, dan yang menjadi obyek ketidak puasan kita dengan usaha dan do’a kita.

 “Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut 69)

Kita harus menyadari bahwa hidup kita kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Layaknya roda yang berputar. Dalam hidup ini, kadang kita bisa meraih apa yang kita inginkan, mencapai apa yang kita do’akan dan usahakan.  Kadang mengalami keberhasilam dan kadang juga mengalami kegagalan. Tidak ada seorang pun manusia yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, satu jam kemudian atau semenit kemudian. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha dan berdoa disertai dengan tawakal kepada Allah SWT. Dalam berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan, sebaiknya kita berusaha dan ikhtiar sebaik mungkin, dan semaksimal mungkin, namun tetap menyerahkan segala hasil dari usaha yang kita lakukan kepada Allah SWT, dan hanya mengharap ridho Allah. Karena Allah SWT lah yang berhak menentukan, Allah SWT  Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Allah SWT Maha tahu apa yang paling baik dan paling cocok untuk kita.

 “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah 17)

Dia-lah ALLAH SWT yang berhak menentukan segalanya, karena setiap kejadian, apakah itu kejadian baik atau buruk yang menimpa segenap insan di bumi ini, merupakan bagian dari skenario Allah SWT, bagian dari apa yang sudah digarskan Allah dan semuanya sudah tertuang dalam Lauhil Mahfuzh. Begitu juga disaat Allah memberikan manfaat (kebaikan) atau suatu kesulitan (musibah) pada seseorang, tentunya hal ini juga pasti mengandung hikmah didalamnya.

Manusia memang boleh berharap dan berencana tentang apa saja yang diinginkan, apa saja yang diharapkan, akan tetapi Allah satu-satunya yang berhak menentukan hasil akhirnya. Ini berlaku bagi siapapun seorang hamba. Oleh karena itu, apapun yang kita usahakan dan harapkan, tetap harus ada ruang, waktu dan tempat yang kita sediakan untuk Allah. Sebuah waktu, ruang tekhusus, yang merupakan waktu kita untuk berdo’a dan berusaha, dengan berkeyakinan penuh bahwa usaha yang kita lakukan atas kehendak Allah SWT, yang benar-benar berada di luar kuasa dan jangkauan kita. Yang mana dalam ruang keyakinan ini, kita hanya bisa menyikapinya dengan cara berdo’a, berharap dan bertawakal kepada-Nya.

Wallahualam bissawab

 

 

 

JIKA DOA BELUM TERKABUL

 

By. Usth. Yusmaniar Nuraini, M.pd. 

Pict by islamidia.com


Secara bahasa doa diratikan sebagai permohonan. Doa dimaksudkan permohonan kepada Allah yang disertai kerendahan hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada di sisi-Nya. Allah SWT juga berjanji untuk mengabulkan doa para hamba- Nya. Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. 40/Al-Mukmin: 60) "Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya”. (QS. 42/Asy-Syura: 26).

Doa yang kita panjatkan harus dengan iklhas dan thadaru’ (berdoa dengan sepenuh hati). Dengan tadharu’ dapat menambah kemantapan jiwa, sehingga doa kepada Allah akan senantiasa dipanjatkan, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, dalam penderitaan maupun dalam kebahagiaan, dalam kesulitan maupun dalam kelapangan. Allah berfirman “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (tadharu’) dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan tidak diterima dan penuh harapan untuk dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ar’af : 55-56).

Namun tidak memungkiri, kadang kalanya doa yang kita panjatkan tidak serta merta dikabulkan oleh Allah. Bagaimana kita harus menyikapinya bila doa kita belum dikabulkan?

Pertama, terkadang kita bertanya, mengapa doa kita tidak dikabulkan, bukankah Allah telah berjanji bahwa akan mengabulkan setiap doa hambanya? Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, ketika dia berdoa kepada-Ku ….” (Q.S. Al-Baqarah:186). Suatu hal yang harus diyakini kita, firman Allah adalah benar, janji Allah benar, dan Dia tidak akan menyelisihi janji-Nya. Kita hanya harus meyakini ini, apa pun keadaannya. Yakin bahwa Allah Akan mengabulkan doa kita kapan dan dimana saja.Allah telah memberikan ijabah untuk doa kita, namun kita tahu bentuknya karena “respon baik” terhadap doa bentuknya bermacam-macam. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud “doa” di atas adalah ‘ibadah’. Allah berjanji untuk mengabulkan ibadah hamba-Nya dengan memberikan pahala dari setiap ibadah yang diterima.

Kedua, kadang kita juga meyakini bahwa doa yang kita panjatkan adalah doa yang terbaik. Padahal, belum tentu hal itu baik untuknya, dalam pengetahuan Allah ta’ala. Karena itulah, terkadang, Allah menahan doa kita, karena hal itu lebih baik bagi kita, daripada Allah memberikan sesuatu yang kita inginkan. Allah berfirman,

وَعَسَىأَنْتَكْرَهُواشَيْئًاوَهُوَخَيْرٌلَكُمْوَعَسَىأَنْتُحِبُّواشَيْئًاوَهُوَشَرٌّلَكُمْوَاللَّهُيَعْلَمُوَأَنْتُمْلَاتَعْلَمُونَ

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Terkadang pula, kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:216)

Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan bukan hanya sekedar inginkan. Teruslah berprasangka baik dengan Allah.

Ketiga, jangan pernah putus asa dalam berdoa. Umumnya manusia menginginkan doanya cepat terkabul. Dia tidak sabar dengan keinginannya, sebisa mungkin, keinginannya bisa terwujud secara instan. Atau minimal, tidak menunggu waktu yang lama. Prinsip semacam ini memberikan dampak buruk ketika kita berdoa kemudian tidak kunjung dikabulkan. Biasanya, muncul rasa bosan dan putus asa. Padahal, perlu Anda tahu, putus asa merupakan salah satu sebab doa Anda tidak dikabulkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah lama berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, marilah kita senantiasa memperbaiki diri kita, jangan pernah lelah dan berputus asa dalam berdo’a. tetap berprasangka baik terhadap Allah karena Allah bersama prasangka hamba-Nya. Semoga Allah senantiasa memberikan kasih sayang-Nya kebada kita.

 

MELUPAKAN ALLAH, AKHIRNYA LUPA DIRI

Oleh : Ust. Muntohar, M.Pd.I

 Pict by Google

Menurut kamus bahasa Indonesia lupa artinya adalah  lepas dari  ingatan, tidak teringat, tidak sadar, tidak tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya,  lalai, tidak acuh. Tentunya orang  lupa dengan melupakan sesuatu, masing-masing memiliki definisi yang berbeda. Dalam syariat Islam ada toleransi bagi orang lupa (red tidak sengaja) untuk dimaafkan, ada punishment bagi orang yang melupakan sesuatu (red menyengaja). Meskipun kedua-duanya memiliki akibat negative, sebab lupa yang seharusnya  ia meninggalkan sesuatu  atau melakukan sesuatu.  

Allah swt menyebutkan orang yang lupa kepada Allah, maka Allah pun akan menjadikan ia lupa akan dirinya sendiri. Apalagi jika ia sudah mengetahui kebenaran, namun melalaikan keberadaan Allah atau melanggar aturan-aturan-Nya. Akhirnya mereka lupa dengan hakikat tujuan hidupnya sendiri dan tidak mengetahui kebahagiaan yang hakiki. Allah SWT memberikan julukan negative bagi orang yang melupakan Allah dengan gelar Fasik, yaitu rang-orang yang keluar dari ketaatan kepada-Nya, akan binasa pada hari kiamat, dan merugi dihari pembalasan kelak.  Janganlah kalian lupa berdzikir (mengingat) kepada Allah sehingga Allah pun akan menjadikan kalian lupa berbuat untuk kepentingan kalian sendiri yang bermanfaat bagi kalian di akherat, karena balasan sesuai dengan amal perbuatan. Allah Swt berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr/59: 19)

Orang yang lupa kepada Allah, kemudian menentang perintah-Nya dan menentang apa yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya, maka ia memperoleh kehidupan yang sempit di dunia. Tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya, walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya. Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu. Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya. Bahkan di akherat kelak Allah akan memperlakukan mereka  sebagaimana perlakuan orang yang melupakan Allah. Allah berfirman:

قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS. Thaha/20: 126)

 

Allah pun mengingatkan manusia yang lupa kepada Allah dan dirinya dengan berbagai macam cara, baik dengan mendatangkan ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah. Diantaranya menegur dengan bencana, tsnunami, gempa, tanah longsong, banjir, rasa sakit, kelaparan, dan sebagainya. Sesungguhnya musibah menimpa pada manusia agar mereka intstropeksi diri untuk mengingat Allah, kembali  beriman atau kembali kepada kebenaran.

 

Kesamaan Buruk Kita dengan Kaum Babilonia

Oleh : Istianah, Lc., M.Hum.

Pict by Google

 

Kaum Babilonia, dalam catatan sejarah Islam, dikenal sebagai manusia-manusia penyembah berhala berupa patung. Tradisi penyembahan tersebut berlangsung turun-temurun. Jika dibandingkan dengan kita yang hidup pada era serba digital, baik dari segi cara dan gaya hidup, fenomena keagamaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kedewasaan berpikir, tentu saja sudah sangat berbeda dengan bangsa tersebut yang hidup pada era kuno dan terpaut jarak waktu beribu-ribu tahun dari kita. Pendeknya, kita jauh lebih baik dari mereka dalam berbagai segi tersebut.

 

Akan tetapi, jika direnungkan lebih mendalam, menggunakan hati yang jujur terhadap diri kita sendiri, sebenarnya ada sedikit dan atau banyak kesamaan kita dengan mereka. Terutama pada masa hadirnya Nabi Ibrahim as di tengah kaum Babilonia. Ketika itu beliau mengajak mereka pada ajaran ketauhidan. Salah satu strategi yang beliau lakukan yaitu dengan cara menghancurkan patung-patung tersebut dengan tangan beliau sendiri dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakatnya akan kesesatan keyakinan mereka tentang sosok tuhan yang diibadahi. Nabi Ibrahim as lantas sengaja membiarkan satu berhala utuh dan meninggalkan alat penghancurnya tergantung di tangan berhala tersebut. Ia ingin menjebak sekaligus mengajak kaumnya berpikir sehat dan logis, bahkan ia sengaja ingin dihadirkan di khalayak ramai ketika seluruh warga berkumpul. Agar beliau dapat mendakwahkan argumennya kepada semua.

 

Benar saja. Kaum tersebut sangat murka kepada Nabi Ibrahim as dan meminta agar ia diseret di hadapan mereka semua. Bagaimana tidak, karena ia menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Patung-patung yang dipahat dari bongkahan batu dan gelondongan kayu. Mereka membentuk tuhan mereka dengan wujud sebagaimana yang mereka inginkan.

 

Perdebatan dan adu argumen pun terjadi antara Nabi Ibrahim as dengan kaum Babilonia dan beliau terus-menerus mengungguli mereka. Sayangnya, amarah dan kemurkaan lebih menguasai akal sehat mereka. Ketika perdebatan antara Nabi Ibrahim dan masyarakatnya berujung pada kebuntuan argumen dari pihak kaumnya, mereka tak dapat menerima kekalahan tersebut. Alih-alih tersadar dari kesesatan yang turun menurun, mereka justru memilih siasat keji demi dapat mengakhiri perdebatan, yaitu dengan menghabisi nyawa Ibrahim yang sejatinya merupakan seorang dari bangsa mereka. Tindakan licik tersebut menjadi solusi akhir mereka karena mereka tidak siap untuk menerima kekalahan. Peristiwa tersebut terekam dalam al-Quran, Allah berfirman,

 

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ (97) فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ (98)

Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuknya (membakar Ibrahim), lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. Maka mereka bermaksud memperdayainya dengan (membakar)nya, (namun Allah menyelamatkannya) lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. As-Saffat 37: 97-98).

 

Ayat lain menyebutkan peristiwa serupa,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آَلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69)

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat. Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!”(QS. Al-Anbiya 21: 68-69)

 

Mereka beramai-ramai mendirikan bangunan perapian yang besar dan bahu-membahu mengumpulkan kayu bakar. Kemudian meletakkan Nabi Ibrahim as pada sebuah alat besar semacam ketapel (al-manjaniq) untuk dilemparkan ke tengah api yang sudah dinyalakan. Namun Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan api tersebut agar menjadi dingin (bardan) dan tidak melukai (salaman) raga Nabi Ibrahim as, sehingga selamatlah ia.

 

Pada sentuhan hikmah kali ini, mari renungi, sadari, dan akui dengan jujur bahwa kita memiliki kesamaan dengan kaum Babilonia, khususnya dalam fenomena berdebat, beradu argumen, dan menghadapi permasalahan baik yang terjadi antar individu maupun kelompok. Mereka yang tidak mampu membantah perbuatan Nabi Ibrahim as dengan argumen yang tepat, sehingga tak ada lagi cara yang dapat dilakukan selain menghilangkan nyawa Nabi Ibrahim as. Sedangkan manusia kini, dalam pelbagai pengalaman berhadapan dengan lawan kekuasaan, politik, bisnis, dan lainnya mengakhiri persaingan, perdebatan dan adu argumen dengan mematikan lawannya dengan cara yang tidak sportif. Membunuh karakter, menyerang dengan isu-isu miring, bahkan –mungkin- mencelakai dan mencederai secara fisik. Mengenaskannya lagi, karena ketidaksportifan tersebut lambat laun telah menjadi kelaziman cara, dibenarkan sebagai hal yang biasa, meskipun sejatinya tidak benar.

Bersedihlah Sewajarnya

 

Kesedihan adalah fitrah manusia. Yang bisa terjadi karena masalah dan kesulitan hidup yang dialami oleh seseorang. Seperti karena sakit, kehilangan yang disayangi, ataupun hal lain yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan yang dihadapi.

Kesedihan adalah perkara bathin seperti halnya cinta. Islam mengajarkan bagaimana sebaiknya bersedih atas hal yang menimpa diri kita, sebagaimana mengajarkan bahwa cinta yang sebenarnya adalah cinta kepada Allah. Tidak ada kecintaan terhadap hal lainnya yang boleh melebihi kecintaan kita kepada Allah.

Ada beberapa macam manusia jika dirinya ditimpa kesedihan. Sebagian merespon kesedihan dengan sewajarnya dan tidak berlarut-larut. Sebagian lainnya membiarkan diri mereka tenggelam dalam larutan kesedihan. Yang kedua bahkan cenderung mengantarkan kepada keputusasaan yang berlebihan dan menyalahkan takdir.

Karenanya di dalam beberapa ayat al Quran Allah cenderung banyak melarang untuk bersedih, bahkan jika itu berkaitan dengan perkara agama. Seperti yang ada di dalam surat Ali Imran, Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3: 139)

Juga di dalam surat yang lain Allah berfirman,

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl:127)

إذْ يقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."” (QS. At Taubah:40)

Dan juga di dalam ayat-ayat yang lain yang menunjukkan bahwa kesulitan dalam agama sekalipun, kita diperintahkan untuk bersabar dan tidak bersedih.

Mengenai ayat-ayat yang melarang untuk bersedih Ibn Taimiyah berkata:

“Karena kesedihan tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak mudharat. Maka tidak ada faidah padanya. Dan apabila tidak ada faidah pada sesuatu, Allah tidak memerintahkan hal tersebut.”

Ya, pelakunya (orang yang bersedih) tidak berdosa jika kesedihannya tidak berkaitan dengan sesuatu yang haram, seperti bersedih atas musibah yang menimpanya.

Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa karena air mata yang mengalir ataupun karena hati yang bersedih, akan tetapi Allah akan menyiksa ataupun akan merahmati karena ini –dan beliau menunjuk kepada lisannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga yang terjadi pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saat Ibrahim ibn Muhammad wafat. Para sahabat ketika itu mendapati Nabi menangis, Abdurrahman ibn Auf pun berkata kepada beliau, “Bahkan engkau wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Hai Ibnu Auf, ini adalah rahmat.” Lalu beliau melanjutkan dengan bersabda: “Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi kita tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kita, dan sungguh kami amat sedih karena perpisahan denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)”

Dari sini kita mengetahui bahwa kesedihan merupakan fitrah manusia. Dan Allah pun tidak akan menyiksa orang-orang yang bersedih dengan sewajarnya. Akan tetapi jika keluar perkataan dari lisan yang mengandung ketidakpuasan atau kemarahan terhadap takdir Allah dan disertai dengan ratapan, maka ini yang dilarang.

Adapun kesedihan yang mendatangkan pahala, bisa disebabkan oleh beberapa hal. Contohnya sedih atas musibah yang menimpa agama dan umat muslim secara umum. Kesedihan seperti ini jika di dalam hatinya ada rasa cinta pada kebaikan dan islam, dan membenci keburukan serta kekafiran, tentu merupakan sesuatu yang baik.

Kesedihan terhadap hal-hal tersebut asalkan tidak sampai meninggalkan apa yang diperintahkan oleh agama seperti bersabar, berusaha mendatangkan kebaikan dan menjauhi keburukan, dan tidak sampai melemahkan hati dan terlaru larut di dalamnya, maka itu suatu hal yang terpuji.

Wallahu a’lam.

Oleh Ust. Irham Muhammad, Lc., MA.

 

Hubungi Kami

LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGAMALAN ISLAM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202
Purwokerto 53182
Kembaran, Banyumas
Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 ext. 232
Fax  : (0281) 637239