Double Inferiority dalam Perjalanan Membangun Karakter Indonesia

 

            Sudah disadari bahwa pembentukan kepribadian berbasis nilai-nilai Islam (al-akhlak al-karimah) diperlukan untuk melahirkan insan muslim Indonesia yang senantiasa berbuat kebajikan baik pada lingkup individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan global. Di mana bangsa yang memiliki karakter demikian pun harus berpikir cerdas, berilmu, kreatif, inovatif, mandiri, berdaya saing dan bersifat maju. Semua ini sebagai modal guna melindungi masyarakat dari pengaruh negatif sebagai imbas dari era globalisasi.

 

            Pun telah disadari bahwa Indonesia memiliki modal bawaan sebagai bangsa majemuk dan bangsa yang strategis karena berada pada persimpangan dua benua dan samudra luas, yang meniscayakannya untuk belajar tentang pengelolaan perbedaan dan toleransi, sehingga dapat bekerjasama dalam segala macam bentuk keunggulan dan kebaikan. Tak hanya itu, anugerah dari Allah SWT berupa kekayaan alam yang dimiliki Indonesia juga merupakan modal untuk mewujudkan Indonesia yang makmur. Demikian kenikmatan-kenikmatan dan kesempatan yang diberikan kepada bangsa Indonesia yang sangat perlu disadari, disyukuri, dan diperhatikan serta dibina agar menjadi keberkahan dalam kelangsungan pembangunan bangsa, dan bukanlah menjadi sumber bencana dan kehancuran. Karena berkaitan dengan anugerah dan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Allah SWT terhadap suatu negeri, Allah mengingatkan dalam QS. Al-A’raf: 96, bahwa “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

            Akan tetapi, bersamaan dengan kesadaran akan potensi-potensi positif tersebut, masyarakat Indonesia pun memiliki potensi negatif berupa mental double inferiority –meminjam istilah Tariq Ramadan- yang dipandang dapat meruntuhkan harapan Indonesia menjadi bangsa besar. Mental tersebut membuat masyarakat Indonesia tidak percaya diri atas kemampuan yang dimiliki, sehingga ketika diperlukan sikap tegas mengenai sebuah perkara seringkali ragu-ragu dalam melangkah dan mencari penyelesaiannya kepada bangsa lain. Demikian yang disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020, dalam Pidato Milad Muhammadiyah ke-104/107 tahun 2016 M/1437 H yang diselenggarakan di Aula AK. Anshori Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada 19 Safar 1438 H/19 November 2016 M dengan tema “Membangun Karakter Indonesia Berkemajuan.”

            Di hadapan para hadirin yang terdiri dari para akademisi, utusan ormas Islam dan partai politik, Mu’ti pun menyampaikan tiga harapan kepada masyarakat muslim Indonesia, pertama, lahirnya kelompok-kelompok orang yang cerdas, smart, banyak gagasan dan inovasi, sebagaimana Muhammadiyah pun diharapkan terus berperan sebagai referensi dalam kebijakan-kebijakan. Kedua, gerak kelompok tersebut solid ke dalam dan merukunkan di luar sehingga terus mengutuhkan, bahkan sekalipun terdapat perbedaan maka akan tetap solid sepanjang masih seakidah. Ketiga, saling menghormati dan memberi apresiasi satu sama lain. Menurut Mu’ti, tiga hal tersebut merupakan strategi untuk memperkuat persatuan bangsa, dan persatuan bangsa adalah aset untuk menjadi bangsa besar.(Isti)