Meraih Keberkahan Ramadhan

 

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan islam khususnya tentang puasa Ramadhan, Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Silaturrahim dan Pengajian Pra Ramadhan yang bertemakan “Meraih Keberkahan Ramadhan”.

Acara yang diselenggarakan di masjid K.H. Ahmad Dahlan-UMP tersebut dihadiri oleh segenap pegawai UMP, mahasiswa dan juga beberapa utusan dari PCM.

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, MA. , sebagai narasumber mengawali ceramahnya dengan penjelasan tentang hisab Muhammadiyah. Beliau menuturkan, “Muhammadiyah memandang bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang ru’yah dalam menentukan awal Ramadhan itu mengandung ‘illat (sebab hukum), dimana kaidah fikih menjelaskan bahwa “al hukmu yaduuru ma’a ‘illatihii wujuudan wa ‘adaman” (ada atau tidaknya hukum itu bergantung pada sebabnya), ketika Rasulullah SAW menyampaikan bahwa

«إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا»

“Kami adalah ummat yang ummiy, tidak bisa menulis dan berhitung, satu bulan itu sekian dan sekian .” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Bahwa ketika itu ‘illat hukumnya ada, yaitu belum ada pengetahuan atau ilmu tentang astronomi, ilmu falak, sedangkan di zaman sekarang ini sudah ada, maka ‘illat hukumnya sudah tidak ada, maka dari itu lah Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Selain itu juga hadits yang menyebutkan tentang ru’yah, seperti :

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ...

“Berpuasalah jika kalian telah melihat hilal, dan berbuka lah jika kalian telah melihatnya pula...”

Muhammadiyah memandang bahwa ru’yah yang berarti melihat, tidak mesti diartikan dengan melihat secara langsung dengan mata kepala, sepeti firman Allah SWT :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

“Tidakkah kamu (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? (QS. Al-Fiil : 1)

Selain itu beliau menambahkan, bahwa dengan metode hisab akan memberikan kemudahan bagi ummat , misalkan kaitannya dengan agenda acara pada saat hari raya Idul Fitri, ada yang hendak mengadakan acara open house dengan mengundang tamu sebanyak 6 ribu orang. Ketika dengan menggunakan hisab, dan sudah jelas dan diketahui tanggalnya maka tidak ada masalah untuk mempersiapkan segala seuatunya. Tapi ketika orang yang berhajat tersebut memesan jamuan makanan di katering tertentu maka akan menjadi masalah karena masih belum jelas tanggalnya dan harus menunggu sidang itsbat. Sedangkan persiapannya tidak bisa mendadak.

Sesuai dengan tema pada pengajian kali ini, yaitu “Meraih Keberkahan Ramadhan”, Prof Yunahar menggambarkan tentang amal ibadah sebelum dan setelah puasa Ramadhan itu ibarat pesawat yang hendak take off, perlahan pesawat itu berjalan dengan kecepatan biasa, tapi ketika lepas landas maka pesawat akan berjalan dengan kecepatan yang meningkat, demikian juga umat Islam kebanyakan ketika telah berpuasa Ramadhan sebulan penuh mereka kembali lagi kepada keadaan sebelumnya, tidak ada peningkatan, bahkan sebagian ada yang menurun drastis. 

 

Maka diharapkan bahwa dengan puasa Ramadhan itu ibarat jenjang pendidikan, semakin meningkat, ketika telah mengenyam pendidikan di SD kemudian naik ke tingkat SMP, kemudian naik lagi ke tingkat SMA, kemudian naik lagi ke tingkat perguruan tinggi, S1, kemudian S2, kemudian S3, dan seterusnya.