BELAJAR MEMAAFKAN DARI NABI YUSUF A.S.

Bulan Ramadan yang penuh dengan Rahmat Allah sebaiknya kita manfaatkan untuk Ikhlas dan saling memaafkan dari segala kesalahan yang telah terjadi. Salah satu kisah nabi yang patut kita teladani adalah Nabi Yusuf A.S. Beliau adalah sosok yang luar biasa, dan patut menjadi contoh bagi kita semua dari sifat dan akhlaknya.

Nabi Yakub, adalah ayah dari Nabi Yusuf. Nabi Yakub ini mempunyai 12 orang anak, yang katanya dimisalkan oleh Nabi Muhammad yaitu 12 bulan dalam 1 tahun, 1 diantaranya adalah Nabi Yusuf yang di ibaratkan Bulan Ramadhan, Bulan kebaikan di antara bulan bulan lainnya.

Nabi Yakub ini mencintai semua anak anaknya, namun beda dengan Nabi Yusuf, dia istimewa sangat istimewa. Sebaliknya Nabi Yusuf yang tidak disukai oleh kakak kakaknya, karena mungkin beliaulah yang terlalu disayang oleh Nabi Yakub ayahnya ini. Nabi Yusuf selalu difitnah, di cuekin, tidak dianggap, kalau ada acara apapun Nabi Yusuf tidak pernah diajak, selalu saja Yusuf ini dicurangi oleh saudaranya. Hingga tiba pada suatu ketika, kakak kakaknya merencanakan hal jahat, kepada Yusuf. Dengan mereka menceburkan Yusuf atau memasukan Yusuf kedalam sumur yang tidak ada airnya, namun sumur itu sangat dalam, sehingga Yusuf tidak bisa naik ke permukaan. Baju Yusuf diganti dengan baju lain, dan baju yang telah dipakai Yusuf itu dilumuri darah lalu dibawa ke Nabi Yakub ayahnya, kakak kakaknya bilang kalau Yusuf telah mati dimakan hewan atau binatang buas dihutan sana. Namun Nabi Yakub tidak sepenuhnya percayai itu, karena beliau tahu kalau kakak kakak Yusuf tidak ada yang menyukai Yusuf. Kemudian Yakub bersedih dan beliau berdiam diri, hingga lewatlah beberapa saudagar yang ingin mengambil air dari sumur tersebut. Bukan air yang didapat, justru Yusuf yang dijatuhkan ke sumurlah yang saudagar temukan.

Selanjutnya saudagar itu membawa Yusuf dan menjualnya kepada musyafir. Singkat cerita dalam perjalanan panjangnya, Yusuf meraih kesuksesan di Mesir. Begitu Yusuf sukses di Mesir, kakak kakaknya datang meminta bantuan karena musim kemarau yang panjang. Kemudian Yusuf memberikan bantuan secara diam diam tanpa diketahui oleh mereka bahwa yang memberi bantuan adalah Yusuf adiknya yang telah sukses. Lalu setelah itu dipertemukanlah dengan ayahnya, dimaafkan tidak ada yang didzolimi oleh Nabi Yusuf As.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. An Nisa; 110

Terinspirasi dari kisah Nabi Yusuf As, beliau adalah sosok pemaaf dan luar biasa akhlaknya. Bagaimana Allah memaafkan segala kekhilafan kita, begitupun juga seharusnya kita bersikap. Yaitu saling memaafkan. Wallahualam

 Penulis: Uci Yuning

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *